BAB 49 - STATIC NOISE

31 2 0
                                        

Static Noise : Gambaran akan gangguan sinyal dan ketidakjelasan situasi.

***

Jari-jariku terasa mati rasa saat menekan tombol panggilan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jari-jariku terasa mati rasa saat menekan tombol panggilan. Aku menempelkan ponsel ke telinga, napasku pendek, menunggu dengan tegang.

"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan."

Suara robot provider itu, entah mengapa aku mendadak kesal padanya. Darahku berdesir turun ke kaki. Aku menekan ulang panggilannya, kali ini lebih kuat seperti hendak menancapkan kuku ku pada layar ponsel, seakan jika aku cukup keras menekan layar, jawabannya akan berubah. Namun tidak.

Suara yang sama. Tidak aktif.

Dadaku mulai terasa sesak, seakan ada yang mencekik. Oksigen di ruangan ini tiba-tiba terasa sangat sedikit.

"Lea..." Kai memanggil namaku pelan, tapi aku sudah tidak bisa mendengar dengan jelas. Suara di kepalaku terlalu berisik—kecemasan yang berlebihan, mengingatkanku pada kehilangan yang pernah terjadi dahulu.

Tanganku kembali bergerak sendiri, mencoba menelepon lagi, terus, dan terus. Aku mulai terengah-engah, ponsel di tanganku hampir jatuh karena telapak tanganku yang sudah mulai basah.

Kai langsung bertindak. Dalam satu gerakan, dia meraih, merebut ponsel dari genggamanku dan meletakkannya di meja.

"Lea, lihat aku, Lea." suaranya tenang namun tegas.

Aku masih mencoba meraih ponsel, tapi Kai dengan cepat menggenggam kedua tanganku. Hangat, kokoh, dengan tangannya yang besar.

"Lea, tarik napas. Sekarang," katanya, suaranya lebih tegas kali ini.

Aku terisak pelan, tapi Kai tidak melepaskan tangannya, malah memperkuat genggamannya. Dia menarik satu tanganku ke dadanya. Sementara Mega, yang tahu anxiety-ku kumat, langsung bergegas mencari dapur dan menuangkan segelas air.

"Eh kenapa lo, Lea!" tanya Diandra yang lantas duduk disampingku memijit-mijit tanganku sambil mengecek nadiku.

"Rasain nafas aku, Lea. Coba ikuti ritmenya."

Dadanya naik turun perlahan, stabil. Aku mencoba menarik napas, tapi paru-paruku seakan menolak bekerja sama.

Kai semakin mendekat, satu tangannya bergerak ke tengkukku, ibu jarinya mengusap lembut di sana.

"Lea, kamu di sini sama aku. Kamu aman, yah.." bisiknya. "Revano bakal baik-baik aja, kok."

Aku menggigit bibirku. Kai terus menatapku, sorot matanya penuh keyakinan, dan anehnya, perlahan-lahan aku mulai tenang.

Setelah beberapa saat, aku berhasil menarik napas lebih dalam. Kai masih tidak melepaskan genggamannya.

"Bagus, Lea" katanya pelan, sudut bibirnya sedikit terangkat. "Udah mulai tenang, kan?"

SENARA JINGGA [ON-GOING] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang