Di kejauhan, gedung-gedung berdiri tanpa jendela. Asap tipis menggantung di udara, tidak hitam, tidak juga putih. Hanya warna sedikit hangat yang menyentuh kulit seperti kenangan yang tidak ditakdirkan untuk selesai.
Matahari saat itu belum sepenuhnya tenggelam. Bola cahaya besar itu terpaku di sana, di antara runtuh dan pencarian jalan pulang. Ia memantulkan cahaya ke tanah yang retak.
Aku duduk di atas puing-puing, memeluk lututku sendiri. Tanganku sedikit bergetar, bukan karena dingin, tapi karena ada suara langkah yang akhirnya bisa kudengar. Ia datang terlambat, entah tepat waktu. Tidak ada lagi perbedaan waktu di hidupku, sejak dunia memutuskan untuk berhenti berjanji.
“Kamu berdarah,” katamu. Aku menunduk. Luka di lenganku sudah mengering, warnanya hampir sama dengan langit di atas kami.
“Aku dan kamu masih hidup,” jawabku. Dan untuk pertama kalinya kata-kata itu tidak terdengar seperti sebuah hiburan receh. Di sekitar kami, orang-orang bergerak tanpa tujuan, mengumpulkan sisa-sisa yang masih bisa disebut milik. Seorang anak kecil menggenggam boneka tanpa kepala, sedikit usang, bulunya dihinggapi debu-debu halus sisa kejayaan gedung tinggi yang telah berakhir masa nya. Seorang ibu bisa dibilang sedang memeluk udara, lupa siapa yang seharusnya ada di sana. Tidak ada yang menangis karena tangis pun ternyata membutuhkan harapan, dan harapan adalah barang langka.
Kau duduk di sampingku, bahumu menyentuh bahuku. Hangat, nyata, seperti dulu, sebelum semua ini berubah.
“Apa kamu ingat,” bisikmu, “warna langit waktu kita kecil?”
Aku mengangguk. Ya, memang warna yang sama, dan selalu warna yang sama.
Saat itu, cahaya turun sedikit lebih rendah, menyusup di antara bangunan yang retak, membungkus wajah-wajah yang tersisa dengan sapaan yang tidak pantas menurutku bagi kehancuran sebesar ini. Sedikit lagi dunia menuju gelap dan saat itu dunia tampak hampir cantik.
Boleh dibilang, mungkin aku memiliki pemahaman baru, selama cahaya ini masih tinggal, selama kita masih bisa saling menemukan di tengah reruntuhan, maka "akhir" memang ditakdirkan belum benar-benar selesai.
Senara, sebuah kata baru dalam bahasaku, yang diciptakan untuk menggambarkan cahaya terakhir sebelum dunia berubah selamanya.
Senara, nama bagi cahaya lembut yang memang tidak sempat diberi nama oleh bahasa mana pun di muka bumi. Bukan siang, bukan juga malam. Senara hadir sesaat ketika segalanya hampir usai..
KAMU SEDANG MEMBACA
SENARA JINGGA [ON-GOING]
ActionSebuah bencana gempa bumi besar di Bandung memisahkan Leandra dan Revano-sahabat yang dipertemukan takdir sejak kecil. Bersama Kai dan Diandra, mereka menjalani persahabatan yang sederhana dan tulus, tanpa menyadari bahwa dunia kecil yang mereka ken...
![SENARA JINGGA [ON-GOING]](https://img.wattpad.com/cover/375845057-64-k317661.jpg)