BAB 52 - RADIO FREQUENCY (1)

19 1 0
                                        

Bahasa frekuensi adalah bahasa yang mudah dipahami seluruh mahluk hidup. Seperti contohnya bagaimana lumba-lumba atau paus bisa menangkap musik pada frekuensi 528hz. Ada gelombang yang bisa mereka pahami. Begitupun manusia, seperti aku dan ayahku. Saat kami satu frekuensi, bahasa apapun yang keluar di permukaan akan mudah dipahami, karena hati kami sudah lebih dulu selaras.

Jika satu frekuensi, tidak perlu banyak kata untuk saling mengerti. Tidak ada ruang untuk ribut atau salah paham, sebab frekuensi yang dipancarkan sudah seirama. Perbedaan bukan lagi alasan untuk bertikai, melainkan variasi nada yang justru memperkaya harmoni hidup.

Pada akhirnya, bukanlah besar kecilnya suara yang menentukan siapa yang harus didengar, melainkan apakah kita saling memilih untuk berada pada gelombang yang sama?

Langit mulai redup, senja itu merayap masuk ke dalam alam bawah sadarku. Suara pohon mahogani yang dihembus angin pelan-pelan memudar, berganti dengan sebuah kehangatan yang tak asing. Aku menoleh, ada ayahku yang tiba-tiba muncul dan duduk disampingku, diatas sebuah kursi kayu tua berwarna hijau. Kami saling menatap, tersenyum jenaka di teras rumah lama kami, semua tampak begitu nyata, seakan waktu sengaja berhenti hanya untuk kami sore itu.

Lalu percakapan itu pun mengalir…

"Yah, gimana sih caranya supaya aku bisa disukai sama anak lelaki yang aku suka?" Tanyaku pelan

Ayahku menjawab,  "Lea, kamu nggak perlu berubah jadi orang lain hanya supaya disukai. Lelaki yang baik akan menghargai dan sayang kamu apa adanya. Yang penting, kamu jadi diri kamu sendiri, tulus, jujur, dan tetap jadi Lea."

"Tapi gimana kalau nggak ada yang suka sama aku, Yah?" tanyaku mulai khawatir tentang kisah percintaan yang di masa depan akan kualami cepat atau lambat.

"Ada, Nak. Selalu ada. Seseorang yang ditakdirkan ada di samping kamu akan tetap ada di dekatmu, apa pun yang terjadi. Asalkan kamu percaya sama dirimu sendiri, kamu nggak perlu jadi yang orang lain harus sukai. Orang yang benar-benar mencintai kamu akan melihat kamu seperti cahaya, nggak bisa ditutupi, nggak bisa dipalsukan." Ayahku tersenyum

"Kalau aku nggak cukup percaya diri gimana, Yah?" tanya ku kembali pada ayah.

"Percaya diri itu bukan soal merasa harus jadi sempurna dulu, Lea. Percaya diri artinya berani menerima dirimu apa adanya, kelebihan kamu dan kekurangan kamu. Dunia ini luas, tapi hatimu harus lebih luas  lagi, jadi Lea ini bisa memeluk diri Lea sendiri."

"Yah… kalau jadi apa adanya itu termasuk juga sifat buruk aku?" tanyaku kembali sambil mengernyitkan dahi

"Jadi apa adanya bukan berarti membiarkan sifat buruk, Nak. Menjadi baik itu tugas semua manusia. Kenali sifat burukmu, maafkan dirimu sendiri kalau pernah salah, lalu belajar dan perbaiki itu. Kamu nggak harus sempurna untuk dicintai. Kamu hanya harus jujur pada dirimu dan tentunya orang lain." Kalimat ayah menenangkanku, meski aku belum mengerti sepenuhnya.

"Jadi maksudnya… aku cukup jadi Lea aja, Yah?"

"Iya, Nak. Cukup jadi Lea. Karena orang yang tepat nggak akan datang untuk diri yang kamu paksakan. Dia akan datang untuk diri Lea yang sesungguhnya, meski mungkin akan ada amarah, kadang-kadang juga mungkin kesal seperti ayah, tapi dia akan selalu ada menemani kamu yang semakin baik, menerima perjalanan Lea yang belum dewasa, seperti ayah yang selalu menemani kamu karna ayah sayang Lea. Tapi ingat, gak boleh menyakiti orang lain ya, Lea." Jawab ayahku

Aku tersenyum… seolah semua nasihat ayah meresap ke dalam dadaku. Kehangatan itu menenangkan, seperti pelukan yang tak pernah hilang meski waktu terus berjalan maju. Namun perlahan, warna-warna dalam mimpi itu memudar. Suara ayah menjauh, berganti dengan riuh samar yang makin jelas.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 17, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

SENARA JINGGA [ON-GOING] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang