BAB 33 - RINDU DIANTARA LANGKARA

26 6 0
                                        

Tiga hari berlalu sejak kami tiba di tempat pengungsian, dan hari ini aku bersiap menuju desa terakhir di Simbaraya sebagai destinasi terakhir sebelum kembali ke Jakarta keesokan harinya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Tiga hari berlalu sejak kami tiba di tempat pengungsian, dan hari ini aku bersiap menuju desa terakhir di Simbaraya sebagai destinasi terakhir sebelum kembali ke Jakarta keesokan harinya. Desa ini tampak lebih luas dan padat dibandingkan desa-desa sebelumnya, namun bekas hujan abu vulkanik membuat suasananya masih terasa berat. Bedanya, di desa ini aku bisa merasakan adanya semangat juang yang tinggi.

Begitu kami tiba, aroma khas abu dan belerang masih menyengat hidungku. Di jalan, terlihat jejak-jejak kaki penduduk yang terlihat samar, mereka masih beraktifitas ditengah kegiatan yang harusnya lumpuh total. Memang abu vulkanik ini licin untuk diinjak, kami semua harus berhati-hati. Mereka berusaha mengangkat barang-barang dan menata tenda pengungsian. Beberapa lainnya membersihkan benda-benda lain di yang terkena abu. Suasana di desa ini terasa lebih hidup, mereka berusaha bangkit dengan semangat yang tinggi. Anak-anak pun bermain di antara puing-puing menciptakan tawa yang bisa mengusir kesedihan.

Kami mendapatkan informasi bahwa di sini, kami akan bergantian dengan relawan mahasiswa dari salah satu Kampus di Bogor. Kegiatan kami hari ini yaitu meliputi distribusi makanan, pemeriksaan kesehatan, dan penyuluhan tentang cara menjaga kesehatan di tengah situasi seperti ini. Kami terbagi menjadi beberapa kelompok; satu kelompok mengurus distribusi logistik, sementara yang lain bertanggung jawab untuk memberikan layanan kesehatan. Semua orang masih mengenakan masker dan kacamata pelindung (goggle) sebagai langkah perlindungan dari abu vulkanik dan potensi bahaya bagi kesehatan.

Saat aku memusatkan perhatian pada kegiatan, tiba-tiba pandanganku tertuju pada sosok seorang pemuda tinggi berambut hitam lurus yang sedang mengangkat dus logistik ke dalam sebuah mobil. Meskipun ia mengenakan masker, aku bisa merasakan pesona tampannya yang memancarkan aura percaya diri.

 Meskipun ia mengenakan masker, aku bisa merasakan pesona tampannya yang memancarkan aura percaya diri

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Seketika, sosok itu mengingatkan aku pada Revano. Potongan rambut favoritnya, perawakannya, cara berjalannya.

"Ah, tidak mungkin itu dia, ini kan relawan dari Bogor" batinku

Namun, pemuda itu tidak melihat ke arahku, ia fokus pada pekerjaannya, membuatku merasa seolah-olah aku sedang terjebak dalam ingatan masa laluku yang tidak bisa terwujud. Kemudian, lelaki itu bergegas menaiki mobil jeep yang sudah siap. Mobil itu menancapkan gasnya sebelum melaju lalu membawa mereka pergi menjauh.

SENARA JINGGA [ON-GOING] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang