BAB 50 - UNBREAKABLE BONTIDE

34 2 4
                                        

"How could my day be bad when I'm with you?" [Bad - Wave to Earth]

***

Jakarta, 14 Maret 2009

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jakarta, 14 Maret 2009

Aku tidak tahu pasti kapan kesadaranku mulai menghilang sebelumnya. Yang jelas saat ini Diandra ada di sampingku, tangannya sigap menyuntikkan sesuatu ke dalam lenganku. Sensasi dingin merayap perlahan di sepanjang nadiku.

"Ini buat bantu tubuh lo biar kuat," suara Diandra terdengar samar. "Kita nggak bisa langsung kasih vaksinnya sekarang. Tubuh lo harus siap dulu, Lea."

Aku ingin membalas, tapi mataku semakin berat. Kesadaranku perlahan tenggelam kembali dalam gelap.

Sayup-sayup, suara dari televisi di ruangan sebelah mulai masuk ke kesadaranku, entah pikiran sadar atau pikiran bawah sadar. Yang kutahu itu samar namun cukup jelas untuk kutangkap beberapa diksi yang membuat jantungku sedikit lebih berpacu.

"...Presiden mengumumkan status darurat nasional... Gelombang kekacauan terjadi di berbagai kota besar... Tidak ada jalur evakuasi yang bisa dipastikan aman..."

Aku mencoba menggerakkan tubuhku, tapi terlalu lemah. Rasanya seakan-akan tubuhku ditimbun sesuatu yang berat. Kepalaku pusing sekali, sementara suara berita itu terus menggaung dalam pikiranku.

"Lea..." suara lembut Diandra terdengar. Aku merasakan tangannya di dahiku. "Lo sadar?"

Aku mengerjapkan mata. Ruangan ini... dimana? Ini bukan kamarku, tapi kamar tamu yang nyaman, meski dengan cahaya lampu yang sedikit redup.

Aku berusaha berbicara, tapi tenggorokanku kering. Diandra dengan sigap menyodorkan segelas air putih dan membantu kepalaku sedikit terangkat.

"Pelan-pelan, lo masih sakit," katanya. Aku merasa bajuku sedikit lebih basah dan aku meminta Diandra untuk membantuku mengganti baju.

Lalu aku meneguk air minum lagi sedikit demi sedikit, lalu mencoba bertanya, "Ada apa sih? Kenapa negara darurat? Berapa lama gue tidur?"

Diandra menghela napas panjang, wajahnya terlihat lebih lelah daripada terakhir kali aku melihatnya.

"Negara udah kacau, Lea. I guess this is the end, pemerintah udah kewalahan. Kota-kota besar juga udah mulai ditinggalin, pada exodus besar-besaran. Banyak yang nyoba kabur, tapi jalur keluar nggak ada yang aman juga. Pasokan makanan makin tipis. Beberapa TV swasta sekarang gak ada siaran. Gak tau besok gimana, Lea"

Aku mengunyah buah-buahan potong yang ada di samping kasurku sambil menjawab diandra. "Terus, presiden?"

"Gak tau, gue gak banyak nyimak, yang jelas kacau negara ini udah kaya diserang zombie," Diandra menjawab, ada ketakutan di matanya.

"Banyak menteri yang ilang, beberapa anggota dewan udah kabur. Udah nggak ada lagi yang bisa mimpin dengan bener. Keadaan makin parah. Pasukan militer udah turun buat ngejaga beberapa kota besar, tapi..." ucapnya terputus

SENARA JINGGA [ON-GOING] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang