BAB 51 - TANGAN YANG MENGINGAT

26 2 2
                                        

Di dalam gelap yang terasa melelahkan dan sunyi, aku bermimpi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Di dalam gelap yang terasa melelahkan dan sunyi, aku bermimpi. Memang bukan mimpi seperti biasanya. Tidak ada cahaya terang, tidak ada suara apapun pada awalnya, hanya cahaya temaram dengan siluet tangan milik seorang anak laki-laki.

Pertama kali kulihat, tangannya menyodorkan permen susu berbungkus kertas tipis berwarna biru putih bergambar kelinci. Aku menangis saat itu karena seekor anjing hitam mengejarku hingga aku lari dan terjatuh, lututku berdarah. Anak lelaki itu tidak bicara apapun dihadapanku, Ia hanya menyodorkan permen susu itu lalu duduk di sebelahku. Tangannya, yang kuingat, lebih besar dariku, sedikit kotor, dan ada bekas luka kecil di punggung tangannya.

Lalu tiba-tiba pemandangan pun berganti, memang khas alam mimpi kadang seperti kita sedang menonton film, bisa tiba-tiba berubah dengan sangat cepat.

Aku dan anak lelaki itu, kami duduk di teras sebuah rumah dekat taman kecil. Tidak ada siapapun disana, Ia duduk di sebelahku, pandangannya lurus kedepan seperti biasanya sembari menatap gemericik hujan.

Seketika anak lelaki itu mengambil tanganku perlahan dan menggenggamnya. Genggamannya hangat, jari-jarinya melingkupi jemariku. Jempolnya mengusap-usap jempolku.

"Kamu ngapain?" tanyaku pelan, sedikit berbisik. Perlahan cahaya mulai terang dan aku dapat melihat wajahnya.

Dia diam sebentar dan tersenyum, seperti sedang memilih diksi. "Tau gak, Lea. Katanya, tangan manusia itu punya ingatan," ucapnya, suaranya rendah, cukup lembut.

"Hah, ingatan apa? Kata siapa?" tanyaku polos

"Bukan cuma otak ternyata yang bisa inget sesuatu. Tapi tangan juga.. Percaya gak? Misalnya setiap kali kamu pegang sesuatu atau setiap kamu sentuh seseorang... tangan itu akan mengingat rasa. Meski udah bertahun-tahun lewat pun, tangan tetap bisa ingat rasa itu." Ucapnya tersenyum, masih dengan pandangan mata lurus kedepan sembari tersenyum kecil.

Aku terdiam sesaat, "Terus kenapa tangan kamu pegang tangan aku? biar kenalan dulu terus inget ya?" Tanyaku bercanda dengan nada berbisik

"Nah, kalau kamu nanya kenapa aku genggam tangan kamu sekarang..," lanjutnya pelan, jempolnya mengusap-usap punggung tanganku dengan gerakan kecil berulang-ulang, "mungkin biar tanganku ini... nggak lupa."

Aku menunduk, jantungku berdebar aneh. "Tapi kalau tangannya lupa gimana?" tanyaku mencoba berkelakar mencairkan suasana aneh itu.

Dia tersenyum tipis. "Nggak mungkin, Lea. Tangan itu kayak merpati, dia setia. Sekali tangannya udah memilih, dia bakal selalu tau mana genggaman yang pernah dia jaga sebelumnya."

Aku menggigit bibir. Hujan makin deras. Tapi aku hanya bisa membalas genggamannya dan tidak ingin lepas..

Tangan itu.. Milik Revano..

***

Sesaat setelah aku sadar dan sedikit berkelakar soal lapar, kulihat anak lelaki itu sedang memandangku. Anak itu... bukan lagi seperti yang dulu kukenal. Wajahnya kini lebih tajam, ada garis rahang yang tegas, matanya dalam. Sekilas... tampan.

SENARA JINGGA [ON-GOING] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang