Ch. 6

2 0 0
                                        


•••

Aman. Itu kehidupan yang Daylan janjikan sebelum dua minggu yang lalu ia pergi meninggalkan kami semua di perbatasan. Aku tidak tahu kabarnya saat ini. Ratusan pesawat tempur lalu lalang diudara dan tentunya tidak ada yang menjatuhkan bom nya ditempat kami saat ini.

Belakangan aku ikut berkebun bersama para wanita disini. Aku juga ikut merajut dan hasilnya kebanyakan dijadikan hiasan atau bahkan dijual. Saat ilmu ku sudah cukup, aku akan membuat syal untuk Daylan karena seingatku mereka hangus saat pengeboman di barak terjadi.

"Aku akan membuat makan malam." Ucap ku pada Gerry yang sedang menampung air, sepertinya ia akan mandi setelah siang tadi bermain sepak bola diatas lumpur bersama anak-anak disini.

Kami bersyukur para warga menerima dan mempersilahkan kami untuk tinggal di gereja sampai situasi benar-benar aman. Keramahan mereka membuat ku sedikit takut, aku takut kalau harus kehilangan lagi. Jadi aku harap negara ini bisa aman secepatnya.

"Apa yang kau masak hari ini, Ashley?" Delilah menghampiri, membawa beberapa sayuran yang keluarga mereka tanam di pekarangan rumah.

"Hanya masakan sederhana." Delilah Harrison, adalah gadis cantik dengan rambut berwarna emas terurai halus. Matanya berwarna biru, bak cakrawala disiang hari.

"Dimana Gerry?" Tanya nya. Aku langsung tersenyum karena mengerti apa maksud pertanyaannya.

"Kau menyukai Gerry, kan?"

"Ah, tidak! Kenapa berkata seperti itu?" Delilah jelas-jelas menyembunyikan kebenaran dengan melemparkan sawi kepada ku.

Rasanya seperti kembali pulang ke rumah. Aku sering bercanda di dapur bersama bibi Aimee saat ia menyiapkan makan malam, juga saat ia bersiap untuk ke pusat kota membeli keperluan. Aku merindukan momen itu.

"Ashley,"

"Hm?" Aku tidak menoleh. Fokus memotong wortel dengan pisau digenggaman ku. Namun sepersekian detik habis hanya untuk menunggu perkataan Delilah selanjutnya, karena ternyata ia malah terdiam.

"Ada apa? Kau ingin aku jodohkan dengan Aland?" Lagi-lagi ia tertawa dan menyangkal.

"Tidak! Aku hanya ingin bertanya..." Aku kembali menunggu dirinya menyelesaikan kalimatnya. "Aku mendengar nama ini dari Gerry, apa Tuan Bolide tidak–"

"Selamat sore, Nona-nona." Belum selesai Delilah menyelesaikan pertanyaannya, Gerry masuk membawa potongan daging ditangan kanannya. "Kita akan makan daging domba malam ini."

"Gerry! Domba milik siapa yang kau bunuh?" Ingin sekali aku pukul kepalanya itu karena bertindak semaunya saja.

"Milik Tuan Harrison, ia membiarkan ku mengambil satu domba nya."

"Untuk dijadikan makanan atau dipelihara?"

"Entah lah." Aku sudah lelah dengan jalan pikirannya. Andai Daylan disini ia pasti sudah memukul Gerry habis-habisan dan membuat laki-laki itu harus mengumpulkan kayu bakar selama satu minggu penuh.

Setelah makan malam, aku berjalan sendirian menuju bukit yang memperlihatkan langit membentang luas. Cahaya rembulan malam itu sangat terang, ditambah bintang berserakan seperti biji wijen. Ini adalah hal yang jarang terjadi semenjak langit lebih sering gelap akibat pesawat-pesawat tempur dari Jerman menimbulkan asap atau bahkan meledak akibat serangan udara dari Inggris. Banyak puing pesawat yang jatuh diatas kebun warga, rumah, atau tanah kosong yang kemudian terbakar terkena sisa-sisa bahan peledak.

Aku suka sekali menatap langit malam, dan aku harap ini adalah langit yang sama dengan yang Daylan tatap di tempat lain. Tanpa ku ketahui kabarnya, aku harap ia baik-baik saja.

Aku tidak pernah merasa se-sendiri ini. Meski dahulu juga selalu kesepian akibat Ayah dan Ibu sibuk dengan dunianya masing-masing, tapi aku masih bisa mengikuti Bibi Aimee ke pasar atau berkutat di dapur untuk mencoba berbagai resep masakan. Setelah Ayah memutuskan untuk menjodohkan ku dengan Jean Marvelo demi kekuasaan, aku seperti kehilangan segalanya. Sejak dulu aku selalu mengikuti kemauan beliau karena aku adalah anak satu-satunya dan sebenarnya Ayah menginginkan anak laki-laki saat itu. Tapi apa boleh buat? Alih-alih anak lelaki aku lahir sebagai perempuan yang selalu dituntut untuk menjadi seperti apa yang ia inginkan.

Belakangan aku sulit tertidur, alhasil harus terus-menerus menyeduh teh demi membuat pikiran lebih rileks. Lalu berdiri diambang pintu gereja, berharap ada seorang pria datang membawa kabar gembira. Membawa rasa rindu yang selama ini ia bawa bersama riuhnya ledakan bom dimedan perang sana.

"Aku tidak melihat Gerry sejak kemarin," Pagi ini aku membantu keluarga Harrison membersihkan halaman rumah mereka dari dedaunan kering yang gugur. "Kemana dia?" Tanya Delilah sembari meletakkan sebotol susu hangat di atas susunan kayu yang dijadikan meja.

"Isi pikiran mu hanya Gerry saja." Tukas ku membuatnya malah tersenyum canggung.

"Gerry mencari kayu bakar untuk persiapan musim dingin." Delilah mengangguk paham dan duduk diatas batang pohon besar yang melintang.

"Kau tau..." Aku melihatnya sekilas karena Delilah sangat suka menggantung apa yang akan ia katakan. "Kau sudah seperti Ibu untuk mereka. Aku juga seperti memiliki saudara perempuan semenjak kau datang ke desa kami." Ah, alasan ku untuk bertahan hidup semakin banyak ternyata. Tanpa aku sadari, banyak yang merasa beruntung akan keberadaan ku.

"Tuan Bolide beruntung memiliki dirimu."

Aku tersenyum, "Kami tidak menjalin hubungan."

"Tapi ia akan pulang, kan, Ashley? Aku ingin sekali melihatnya." Aku juga mengharapkan hal yang sama. Aku sangat ingin melihatnya lagi, dan aku harap saat waktunya tiba aku sanggup menahannya untuk tidak menghilang dari pandangan ku lagi secara tiba-tiba.

Setelah selesai membantu keluarga Harrison, aku kembali ke sekolah membawa keranjang berisi kubis, lobak, dan kentang. Beruntung sekali rasanya masih bisa melengkapi protein para warga dan beberapa tentara.

"Oh, kau sudah kembali?" Aku melihat tumpukan kayu yang dikumpulkan Gerry dan merasa bangga ia bisa mengerjakan itu dengan senang hati.

"Aku berkelahi dengan rusa saat mendapatkan itu semua." Aku tertawa mendengarnya. Apa yang dilakukan Gerry selalu diluar dugaan. Tubuh kurusnya melewati ku, memasuki gereja lebih dulu sebelum nanti menyiapkan kayu bakar untuk masak.

"Kau sangat kurus sekarang, bagaimana jika Daylan pulang dan melihat mu yang sudah seperti seekor belalang ini?" Pasalnya, alih-alih menjawa warga sipil, dengan tubuh seperti itu ia harus lebih menjaga dirinya sendiri. Ditambah belakangan aku hanya melihatnya pulang dengan lumpur dan terkadang luka dikedua lutut maupun sikunya. Aku sudah seperti menjaga seorang anak.

Pada sore menjelang malam, dipenghujung musim gugur. Radio terputar dan meliput berita terkini, bahwa Jerman telah menghentikan penyerangan. Ratusan ribu tentara gugur dalam penyerangan, ratusan ribu lainnya mengalami luka serius. Ada perasaan lega, namun juga masih ada yang mengganjal.

Aku tidak tahu, apakah Daylan ada diantara ratusan ribu yang terluka, atau ada diantara ratusan ribu yang gugur.

–to be continued–

Till Death Do Us PartTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang