•••
"Sepertinya aku akan membeli rumah," Setelah menjual hasil rajutku ke pasar dan beberapa warga lokal, aku memperoleh pendapatan yang mungkin bisa digunakan untuk keperluan ku sendiri. "Tapi ini belum cukup banyak. Sepertinya akan memakan waktu beberapa bulan lagi untuk mendapatkan itu."
"Tinggal lah di rumah kami, Ashley." Keluarga Harrison sudah sangat baik kepada kami, terutama kepadaku. Mana mungkin aku menerima itu.
"Tidak, aku sudah sangat merepotkan kalian."
"Sudah memasuki musim dingin," Delilah membuatku menoleh ke arahnya. "Apakah Tuan Bolide tidak kembali?" Aku hanya bisa tersenyum sekaligus merasa sedih mendengarnya.
"Sudah lah. Apa yang akan kita buat hari ini?" Tadinya Delilah mengajakku membuat pie labu, dan beberapa menu tambahan guna memperingati hari ulang tahun Tuan Harrison, Ayah dari Delilah.
Jika kalian berpikir aku tidak mencoba menghubungi Daylan, kalian salah besar. Puluhan surat sudah aku kirim ke berbagai markas militer, bahkan ke markas angkatan udara. Berharap ada balasan yang membuat hatiku lebih tenang. Malam-malam aku habiskan untuk menulis surat baru, lalu keesokan harinya ke kantor pos. Aku melakukan itu berulang kali selama hampir dua bulan dan tidak mendapatkan hasil.
Sudah lama aku tidak menghadiri sebuah pesta ulang tahun, atau pesta-pesta lainnya. Hal itu dikarenakan jumlah temanku yang sedikit dan jiwa sosialisasi yang sangat kecil. Aku lebih suka berdiam diri di rumah, menunggangi kuda, berkebun di halaman belakang, atau kegiatan rumahan lainnya. Terkadang aku merasa bahwa kejadian-kejadian yang terjadi sebelumnya membawaku pada sebuah situasi yang tidak pernah aku sangka akan berada di dalamnya. Bertemu banyak orang baik, dan melihat sisi dunia yang berbeda.
"Apa kita akan meminum anggur?" Aku langsung menolak saat Delilah menyodorkan sebotol anggur.
"Ah, ayolah, hanya sedikit." Ia masih membujukku berharap aku meng-iyakan ajakannya.
"Aku masih memiliki banyak pekerjaan." Aku tidak berbohong, karena kenyataannya aku masih harus melanjutkan rajutanku untuk besok diantar ke pasar. Alih-alih berpamitan aku langsung keluar dari rumah keluarga Harrison, berjalan dibawah sinar rembulan pada penghujung musim gugur. Angin yang berhembus menjadi lebih dingin dari biasanya. Aku akan menyeduh teh saat tiba di sekolah nanti.
Semua orang masih berada di rumah keluarga Harrison, hanya ada aku selama perjalanan pulang. Hingga akhirnya aku sampai didepan pagar. Dibawah cahaya rembulan terpantul bayangan seorang pria, berdiri tegap dengan seragam lengkap bak seorang prajurit, tidak lupa topi baret menutupi sebagian kepalanya. Ia membelakangi ku, tapi aku sudah sangat tahu siapa yang ada dihadapan ku.
"Daylan?" Ia membalikkan badan. Tatapan matanya, senyuman pada wajahnya, dan wajah tampannya masih bisa aku saksikan dibawah pencahayaan yang sangat minim. Sama seperti malam itu, aku mematung tanpa bisa melakukan apapun. Sedang ia berjalan ke arahku, dengan kaki yang pincang. Semakin dekat semakin bisa aku lihat banyak luka pada wajahnya. Aku sedikit mencium amis darah pada seragamnya.
"Ashley..." Kami berdua berdiri dengan jarak yang sangat dekat. Setelah sekian lama, aku kembali menatap kedua mata hazel itu, namun sorotnya sudah berubah. Berubah menjadi sorot mata penuh duka.
"Apa yang terjadi? Apa yang kau lakukan sehingga tidak sanggup membalas surat-surat ku? Hah?" Kepala ku tiba-tiba terasa pusing, rasa khawatirku kalah dengan rasa kesal pada dirinya yang menghilang tanpa kabar. "Aku tidak tahu kau dimana, apa kau makan dengan lahap, apa kau tidur dengan nyenyak." Ku lihat Daylan menundukkan kepala, tubuh nya bergetar sebelum akhirnya ia menangis tersedu-sedu. Aku sangat egois. Aku melupakan Daylan yang berada ditengah medan perang, entah berselimut katun atau mayat.
"Maaf... Maafkan aku..." Lirihnya. "Aku takut, Ashley... Setiap membaca surat mu aku takut... Satu persatu teman ku mati," Ia mendongak. Hatiku sangat hancur melihat Daylan menangis seperti ini. "Aku sudah hampir menyerah, sebelum akhirnya kau mengirim surat lagi... Mengharapkan aku pulang untuk kesekian kalinya..."
"Aku akan selalu menunggu mu untuk pulang, Daylan." Aku dekap dirinya dengan sangat erat. Membiarkannya menangis dalam pelukanku setelah terakhir kali ia membiarkanku menangis dalam dekapannya. Duniaku terasa lengkap saat ini. Sepertinya bagian dari diriku yang hilang sudah kembali malam ini. Aku tahu Daylan akan pulang, aku tahu ia tidak akan gugur dimedan perang.
Saat ini, semua sudah cukup. Aku tidak menginginkan apapun lagi, karena rasanya sudah cukup.
"DAYLAN!" Teriakan itu membuatku terpaksa harus melepas pelukan kami berdua. Siapa lagi yang akan berteriak dan berlarian seperti anak kecil yang merindukan sang ayah kecuali Gerry Dawson. Ia berlari dari ujung jalan dan langsung melayangkan pelukannya, membuat Daylan hampir terjatuh akibat pertahanan kakinya berkurang. Aku enggan bertanya apa yang terjadi pada kakinya, mungkin nanti saja, karena melihat Daylan pulang sudah cukup.
Jelang beberapa menit Gerry memeluk Daylan, teman-teman seperjuangan mereka datang untuk ikut berpelukan. Ini sudah seperti ajang reuni. Lagian, siapa yang tidak kaget dan bahagia melihat kapten mereka pulang dengan keadaan utuh. Aku pun ikut bahagia melihatnya, ikut tertawa saat Gerry mencium pipi Daylan dan sang empunya malah mengumpat.
–to be continued–
KAMU SEDANG MEMBACA
Till Death Do Us Part
Fiksi SejarahSudah 1 tahun berlalu sejak perang dunia kedua dimulai. Disana lah Ashley Moonstone, seorang putri bangsawan yang hidup dalam tekanan dan menjadi boneka dalam keluarganya, bertemu dengan Daylan Bolide. Seorang pejuang negara yang bekerja untuk menju...
