8. MENJALANKAN RENCANA

10 4 1
                                    

Happy reading!!

.

Tandain kalo ada yang typo!!

.

Malam penyelidikan pertama.

Sore harinya para murid SMK Bumi Pertiwi datang kembali ke sekolah, dengan membawa alat-alat yang mereka gunakan dalam kediatan perjusa. Ketujuh pemuda sinting itu kini tengah berkumpul di satu titik, yaitu di mimbar sekolah. Tak ada yang memulai percakapan terlebih dahulu, semua sibuk dengan urusannya masing-masing, baik itu Lintar, Malik, ataupun yang lainnya. Setelah 5 menit mereka tak membuka suara, akhirnya Malik memecahkan keheningan. “Lin, semalem gue ada nemu suatu situs web, tapi begitu gue pencet laptop gue tiba-tiba aja jadi rusak, terus lampu kamar gue juga sempet mati, gak jelas banget coba!”

Lintar yang mendengar itu menaikkan sebelah alisnya. “Situs apaan?”

“Lo bawa laptop, gak?” Bukannya menjawab pertanyaan Lintar, Malik justru bertanya balik dengan pertanyaan yang berbeda, ia hanya ingin memastikan web itu masih ada atau tidak, Lintar menganggukkan kepalanya kemudian mengeluarkan benda datar itu dari dalam tasnya. Situs apa yang Malik maksud? Semalam ia juga mengotak-atik laptopnya namun tak menemukan apapun.

Lintar menyerahkan laptopnya pada Malik, pemuda itu tampak sedang mengetikkan sesuatu di laptop lintar, menggeser kursor laptop itu secara perlahan, situs itu tidak ada. Malik menggeser kursor itu hingga ke paling bawah, lalu kembali lagi ke atas, namun ia tidak bisa menemukan situs yang ia temukan semalam, seakan hilang secara mendadak. “Loh, kok gak ada?” Kagetnya.

“Lo cari apaan, Lik?” Tanya Zibril ikut penasaran, melihat wajah Malik yang begitu serius dari tadi.

“Sumpah, semalem gue nemu situs yang tulisannya ‘in memoriam 2004’ tapi pas gue cari di laptopnya Lintar gak nemu tuh situs sama sekali. Masa iya tiba-tiba ilang?” Gerutunya.

“Lo kena hack kali laptopnya, itu pasti link situs palsu, makanya laptop lo mendadak error, tuh buktinya di laptop Lintar gak ada situs yang lo cari,” tutur Shaka. Malik hanya bisa berdecak kesal, dirinya merasa dipermainkan sekarang.

“Oh iya, Bril, mumpung gue inget, nih jam lo, karena tadi siang lo gak ada, gue kasih sekarang aja, takut lupa. Untuk cara pemakaiannya itu, sinyal ini bakal langsung terhubung ke jam tangan lain atau pada ponsel yang udah terhubung, nah dan dari situ kita bisa lacak keberadaan orang itu.” Jelas Lintar seraya memberikan jam itu pada Zibril, pemuda itu tersenyum seraya mengucapkan terima kasih, kemudian memasangkan alat itu pada pergelangan tangannya.

Restu yang mendengar Zibril membuka suaranya pun mengajukan pertanyaan seraya menyenggol lengan pemuda itu. “Btw, tadi siang lo ke mana, Bril, diajak ngumpul kok tiba-tiba ilang?”

Zibril membeku di tempat, ia lupa menyiapkan jawaban untuk menjawab pertanyaan teman-temannya terkait dirinya yang hilang secara tiba-tiba. Ia menatap ke arah mereka satu persatu, namun mereka malah menatap ke arah Zibril seakan meminta penjelasan penuh. “B-biasa aja kali ngeliatnya, gue jadi merinding,” ucapnya berusaha santai.

“Jawab dulu pertanyaan gue, Jibril, lo kemana tadi siang?” Tanya Restu dengan nada dingin, niatnya ia hanya ingin bertanya secara baik-baik kepada temannya ini, namun melihat gelagat Zibril yang terlihat kebingungan dan aneh, membuat Restu menaruh rasa curiga yang besar. Apa kasus ini ada hubungannya dengan Zibril?

“Gue ada urusan sebentar, temen gue minjem novel tadi, pas gue mau balik eh dia ngajakin ngobrol sampe gue lupa kalo punya janji sama kalian,” ucapnya sedikit gugup, ia bingung harus menjawab apa, ia berharap semua temannya percaya begitu saja, karena tak mungkin ia harus jujur sekarang.

7 DEATH CHALLENGERSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang