WARNING
Bahasa suka suka
Banyak typo
Happy Reading
.
.
.
Jessica menatap pintu kayu kecil yang terbuka di hadapannya. Bau lembap langsung menyergap, dan lorong gelap di baliknya seolah memanggil mereka masuk dengan rahasia yang belum terpecahkan.
Sekar menggigit bibirnya, terlihat semakin ragu. "Jess, kita benar-benar mau turun ke sana?" tanya Sekar dengan suara pelan, hampir berbisik.
Mata mereka bertemu, Jessica melihat raut wajah Sekar ketakutan dan rasa ingin tahu yang sama seperti yang ia rasakan.
Jessica menelan ludah, dadanya bergemuruh. Ini bukan sekadar surat misterius lagi. Ada sesuatu yang jauh lebih besar di balik semua ini, sesuatu yang salah, namun anehnya justru membuatnya ingin terus masuk lebih dalam.
"Kita udah terlalu sampai sini, Kar. Lagipula, apa yang mungkin kita temukan di sana bisa menjawab semua pertanyaan kita tentang surat itu," kata Jessica, berusaha menyemangati dirinya sendiri dan meyakinkan Sekar.
Sekar tampak bimbang beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk perlahan. "Baiklah, tapi kalau ada sesuatu yang aneh kita harus segera keluar."
Jessica mengangguk. Dia mengeluarkan senter kecil dari sakunya, yang sebenarnya untuk berjaga-jaga di malam hari, tapi sekarang menjadi satu-satunya cahaya yang bisa mereka andalkan.
Mereka turun ke dalam lorong sempit itu dengan hati-hati. Setiap langkah di tangga kayu itu mengeluarkan bunyi berderit nyaring, seakan memperingatkan mereka bahwa tempat ini sudah lama tak disentuh manusia. Suara langkah mereka bergema, membuat lorong itu terasa lebih panjang dan menakutkan.
Setelah beberapa menit berjalan menuruni tangga, mereka sampai di dasar lorong. Sinar senter Jessica menyapu dinding-dinding batu yang lembab dan berlumut.
Ruangan ini jauh lebih besar daripada yang mereka duga sebelumnya. Ada meja kayu usang di sudut, beberapa kursi yang sudah rusak, dan papan tulis besar yang tergeletak di lantai.
"Apa ini dulu ruang kelas bawah tanah?" tanya Sekar dengan nada bingung, matanya menelusuri sekitar. "Tapi kenapa harus di tempat kayak gini?"
Jessica meneliti meja kayu itu, dan saat ia mendekat, ia melihat ada sesuatu di atasnya. Sebuah buku tebal, berdebu, tergeletak di tengah meja.
Dengan hati-hati, Jessica menyentuh sampul buku itu, membuka halaman pertama. Mata Jessica melebar. "Ini buku catatan?"
Sekar mendekat, ikut melihat. Di halaman pertama tertulis catatan tangan yang pudar, seperti ditulis puluhan tahun lalu. Sebuah nama terpampang jelas di sana dan membuat keduanya membeku.
"Lila," bisik Jessica, hampir tak percaya.
"Lila? Maksudmu Lila teman sekolah kita atau Lila yang katanya hantu itu?" tanya Sekar, bingung. "Yang sering dibilang suka muncul di disekitar sekolah?"
Jessica menelan ludah, matanya tak lepas dari nama di halaman buku. "Aku nggak tahu, Kar."
Jessica lanjut membaca beberapa baris pertama dari catatan itu. Isinya tentang kehidupan sehari-hari seorang siswa yang tampaknya pernah bersekolah di sini bertahun-tahun yang lalu.
Namun, semakin ia membaca, semakin jelas bahwa ada sesuatu yang aneh dengan cerita ini. Catatan-catatan itu mulai berubah menjadi cerita pengalaman-pengalaman yang tidak masuk akal, suara-suara aneh di malam hari, bayangan yang bergerak sendiri, dan perasaan terus-menerus di awasi.
"Ini bukan cuma buku biasa," ucap Jessica, suaranya gemetar. "Aku rasa ini catatan hidupnya. Lila ini sepertinya punya masalah yang lebih dari sekedar anak biasa."
Sekar tampak pucat. "Jess, mungkin kita harus pergi. Ini nggak bener."
Namun, sebelum Jessica bisa merespons, suara langkah kaki tiba-tiba terdengar dari arah tangga. Mereka berdua membeku, senter Jessica gemetar di tangannya saat cahaya menyorot ke pintu lorong.
"S-siapa itu?" seru Sekar dengan suara tercekik.
Langkah kaki itu terdengar semakin jelas, menggema di sepanjang lorong. Detak jantung Jessica berdegup kencang, rasa takut menyelimutinya. Tapi di balik ketakutan itu, ada rasa ingin tahu yang tak bisa ia abaikan.
Siapapun itu, dia bukan bagian dari cerita ini atau justru, dia bagian penting dari rahasia yang tersembunyi di tempat ini.
Dalam gelap yang mencekam, satu-satunya harapan mereka hanyalah cahaya kecil dari senter di tangan Jessica. Namun, cahaya itu tampak sia-sia, tertelan oleh kegelapan yang terlalu pekat dan membuat bayangan di dinding seakan menari-nari, mengejek ketakutan mereka.
Lorong itu kini terasa lebih sempit, seperti menekan tubuh mereka dan suara langkah mendekat itu seakan muncul dari segala arah, meskipun sudah jelas berasal dari tangga di belakang mereka.
Jemari Jessica kini terasa dingin dan basah, di sudut matanya, ia bisa melihat Sekar, tubuhnya sedikit bergetar di balik cahaya temaram yang hanya mampu menerangi wajah mereka secara samar.
"Sekar, kita harus..." bisik Jessica, tapi suaranya hilang dalam gemuruh langkah-langkah yang mendekat.
Jessica melihat sekeliling dengan cepat, mencoba menemukan tempat untuk bersembunyi. Dinding-dinding lembab di sekitarnya terasa semakin dekat, seolah-olah ruangan itu mengecil setiap detiknya.
Bayangan aneh di sudut ruangan seolah-olah mengintip dari balik kegelapan dan Jessica merasakan dorongan yang kuat untuk lari, tapi kakinya terasa seperti tertanam di lantai.
Suara langkah kaki itu berhenti. Hening. Hanya napas mereka yang terdengar memburu dan pendek, seperti sedang diburu sesuatu yang tak terlihat.
Detik-detik hening itu terasa begitu panjang, seakan waktu berhenti bergerak, dan lorong itu berubah menjadi perangkap yang sunyi.
Mereka harus segera memutuskan untuk bersembunyi, lari, atau tetap berdiri dan menghadapi sesuatu, apapun itu yang kini hanya berjarak beberapa langkah dari mereka.
.
.
.
.
Makasih ya yang udah mampir dan baca cerita ini🥰
Jangan lupa, vote⭐️, comment 💬 dan tungguin part selanjutannya🫶🫶🫶
(6/10/24)
Sunniee 💥
KAMU SEDANG MEMBACA
Lila
Детектив / ТриллерJessica, seorang siswa SMA yang ceria, tak pernah menduga hidupnya akan berubah setelah menemukan surat-surat misterius yang tersembunyi di balik gedung sekolah. Surat-surat itu bukan hanya membawa kenangan masa lalu, tetapi membuka pintu menuju rah...
