WARNING
Bahasa suka suka
Banyak typo
Happy Reading
.
.
.
Jessica dan Sekar membeku di tempat mereka berdiri. Sosok Lila yang berdiri di ujung lorong itu membuat suasana semakin mencekam. Senyum dingin masih menghiasi wajahnya, sementara sorot matanya yang tajam masih menatap mereka, seolah-olah ia telah menunggu kehadiran mereka sejak lama.
"Lila, apa yang kamu lakukan di sini?" Jessica akhirnya memberanikan diri untuk bertanya, meski suaranya sedikit bergetar.
Lila melangkah mendekat, gerakannya begitu pelan dan halus, seperti hantu yang melayang di udara. "Aku yang seharusnya bertanya kepada kalian. Apa yang kalian cari di sini?" suaranya terdengar seram, hampir seperti bergema di dinding-dinding gedung tua ini.
Sekar yang biasanya lebih tenang, kini mulai gelisah. "Aku takut, Jess. Kita harus keluar dari sini" bisiknya, matanya tak lepas dari sosok Lila. Namun, Jessica tidak mau pergi. Ada sesuatu dalam dirinya yang ingin tahu lebih banyak tentang Lila, tentang apa yang ia sembunyikan.
"Kita menemukan surat-surat itu," jawab Jessica, mencoba tetap tegar. "Dan sekarang salah satu suratnya hilang. Apa kamu tahu tentang itu?"
Lila tertawa kecil, tawanya tidak terdengar wajar malah membuat bulu kuduk Jessica berdiri. "Surat-surat itu, mereka bukan milikmu. Mereka milik seseorang yang dulu terjebak di sini, di gedung ini. Dan sekarang, kalian sudah terlalu jauh mencari tahu."
Sekar memegang lengan Jessica, berusaha menariknya pergi, tetapi Jessica tetap berdiri di tempatnya, masih menatap Lila dengan rasa penasaran dan ketakutan yang bercampur aduk.
"Siapa yang menulis surat-surat itu?" tanya Jessica, lebih serius kali ini. "Apa yang sebenarnya terjadi di sini, Lila? Kenapa kamu tahu tentang ini semua?"
Lila berhenti tepat di depan mereka. Wajahnya yang pucat semakin terlihat jelas dalam cahaya senter yang berkelip-kelip. "Surat-surat itu ditulis oleh orang yang berusaha memperingatkan kita semua, tapi tidak ada yang mendengarkan."
Jessica terkejut mendengar jawaban itu. "Memperingatkan tentang apa?"
Lila menundukkan kepalanya, senyum dinginnya perlahan memudar. "Tentang rahasia di sekolah ini. Rahasia yang seharusnya tidak pernah terungkap. Tapi kalian terlalu jauh mencari tahu."
Sekar mulai panik. "Kita harus pergi sekarang, Jess. Ini udah nggak benar."
Namun, sebelum mereka bisa bergerak, Lila mengangkat tangannya. Ruangan itu tiba-tiba berubah, udara menjadi menusuk dingin, dan suara-suara asing bergema dari segala arah. Langit-langit bangunan bergetar, seolah gedung itu mulai runtuh dari dalam.
"Kalian tidak bisa pergi," bisik Lila. "Sekarang, kalian bagian dari ini."
Jessica merasa ketakutan semakin merayapi tubuhnya, tetapi ia juga merasakan dorongan kuat untuk mencari tahu lebih banyak. "Apa maksudmu?"
Lila menatap Jessica dengan tatapan yang tajam. "Kalian sudah terlibat. Surat-surat itu adalah kunci untuk membuka rahasia yang lebih besar. Rahasia yang akan menghancurkan lebih dari sekadar hidup kalian."
Tiba-tiba, suara langkah kaki lain terdengar dari samping mereka. Jessica dan Sekar berharap itu hanya angin atau imajinasi mereka. Namun, perlahan bayangan samar mulai muncul dari balik kegelapan, melangkah mendekat dengan langkah berat.
Jessica merasakan napasnya tercekat. Sosok itu semakin mendekat, dan kini ia bisa melihat lebih jelas. Seorang pria tua dengan mata yang sayu dan pakaian yang lusuh, tubuhnya terlihat lemah namun tetap menimbulkan rasa takut yang mendalam.
"Aku sudah bilang untuk tidak mengganggu," suara pria itu terdengar berat, seolah-olah keluar dari dunia yang berbeda.
Lila mundur dengan tatapan yang tiba-tiba berubah tegang. "Ini belum waktunya," bisiknya nyaris tak terdengar, sebelum tubuhnya mengabur dan lenyap ke udara.
Jessica dan Sekar terpaku dalam kebisuan. Sosok Lila menghilang begitu saja, tanpa jejak, tanpa suara, seolah dia tak pernah ada. Tapi mereka tahu persis apa yang mereka lihat dan itu bukan hal yang bisa dilakukan oleh manusia biasa.
Jessica menoleh cepat ke arah Sekar, matanya membelalak.
"Kar, kamu lihat tadi, dia menghilang?" bisiknya, hampir tak percaya.
Sekar mengangguk kaku, wajahnya pucat. "Itu bukan Lila. Setidaknya, bukan Lila yang kita kenal."
Jessica dan Sekar masih tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka lihat. Sampai mereka menyadari sosok pria tua itu sudah berhenti beberapa langkah dari mereka, matanya menatap kosong ke arah mereka.
"Surat-surat itu..." suaranya pelan namun jelas, "mereka bukan untuk kalian."
Jessica menelan ludah, berusaha berbicara meski tenggorokannya terasa kering. "Siapa kamu? Kenapa kamu di sini?"
Pria itu tidak langsung menjawab. Ia menundukkan kepala, seolah larut dalam kenangan yang menghantuinya. "Akulah yang menulis surat-surat itu, bertahun-tahun lalu," katanya. "Aku mencoba memperingatkan mereka yang datang sebelum kalian. Tapi, tidak ada yang mau mendengarkan."
Sekar menarik napas panjang, suaranya gemetar saat ia berbicara. "Kamu yang menulis surat-surat itu? Tapi kenapa? Apa yang terjadi di gedung ini?"
Pria tua itu mendongak, tatapannya penuh kesedihan. "Ada sesuatu di gedung ini, sesuatu yang lebih tua dari kita semua. Sesuatu yang selalu ada, mengawasi, dan menunggu. Dulu, kami juga seperti kalian, penasaran, ingin tahu segalanya. Tapi sekarang, aku terjebak di sini, selamanya."
Jessica merasa darahnya membeku mendengar pengakuan itu. "Terjebak? Maksudmu, kamu sudah mati?"
Pria itu tidak menjawab langsung, tetapi senyumnya yang sedih cukup untuk menjawab pertanyaan itu. "Kalian harus pergi," kata pria itu berbisik pelan. "Sebelum terlambat. Jangan lakukan kesalahan yang sama seperti kami."
Jessica dan Sekar saling menatap, rasa takut dan kebingungan meliputi mereka. Mereka tidak tahu harus melakukan apa, tetapi satu hal yang pasti, ada sesuatu yang jauh lebih menyeramkan di gedung ini daripada apa yang mereka kira.
Pria itu mulai memudar, tubuhnya perlahan menghilang ke dalam bayangan, meninggalkan Jessica dan Sekar dalam kegelapan yang semakin menekan.
"Kita harus pergi," kata Sekar, suaranya penuh ketakutan. "Sekarang."
Jessica mengangguk, meskipun ia masih merasa ada sesuatu yang belum selesai. Mereka berdua berlari keluar dari gedung tua itu, napas mereka terengah-engah dan jantung berdegup kencang. Begitu mereka keluar, pintu gedung tua itu menutup dengan sendirinya, seolah-olah menutup bab lain dari misteri yang semakin dalam.
Namun, saat mereka berlari menjauh, Jessica tahu ini belum berakhir. Surat-surat itu, Lila, dan pria tua tadi, semua itu adalah bagian dari rahasia yang jauh lebih besar. Dan kini, ia merasa tidak ada jalan kembali.
Rahasia yang tersembunyi di gedung tua itu masih menunggu untuk diungkap. Di lubuk hatinya, Jessica tahu satu hal, semakin dalam mereka masuk ke misteri ini, semakin kecil kemungkinan mereka bisa kembali. Dan entah mengapa sebagian dirinya tidak ingin mundur.
.
.
.
Makasih ya yang udah mampir dan baca cerita ini🥰
Jangan lupa, vote⭐️, comment 💬 dan tungguin part selanjutannya🫶🫶🫶
(11/10/24)
Sunniee 💥
KAMU SEDANG MEMBACA
Lila
Misterio / SuspensoJessica, seorang siswa SMA yang ceria, tak pernah menduga hidupnya akan berubah setelah menemukan surat-surat misterius yang tersembunyi di balik gedung sekolah. Surat-surat itu bukan hanya membawa kenangan masa lalu, tetapi membuka pintu menuju rah...
