Bab 2

2.3K 224 13
                                        

"Apa barang-barangmu sudah berada di tas mu, Aiko?"

Gadis itu, Aiko Uchiha mengangguk patuh sembari menaruh tasnya di kedua pundaknya. Sasuke tersenyum tipis melihatnya, ia mengulurkan telapak tangannya yang langsung diraih oleh putrinya.

"Baiklah, kau siap berangkat?"

Gadis itu kembali mengangguk bersemangat dan menengadah, mata polosnya menatap ke arah sang Ayah.

Ayah dan anak itupun berjalan berdampingan, tangan kecil putrinya menggenggam erat telapak tangannya. Mereka melangkah menyusuri jalanan Konoha yang pagi itu masih terbilang cukup sepi. Sepanjang perjalanan, Aiko tak henti-hentinya berbicara, berceloteh tentang teman-temannya dan kegiatan yang akan ia lakukan di sekolah hari itu. Sasuke hanya mendengarkan dengan tenang, sesekali mengangguk atau menanggapi singkat, namun senyum tipis tak pernah lepas dari wajahnya.

Setelah beberapa menit berjalan, mereka tiba di depan bangunan tempat penitipan anak yang juga terhubung dengan sekolah dasar. Sasuke menghentikan langkahnya di pagar masuk, menatap gedung itu dengan sorot mata penuh ketenangan.

"Sudah sampai, Aiko. Berusahalah yang terbaik di sekolah, dan dengarkan apa kata gurumu, ya?" katanya sambil berjongkok agar sejajar dengan tinggi putrinya.

Aiko mengangguk penuh semangat, "Uhm! Aiko akan mendengarkan apa kata Ayah! Aiko janji akan menjadi anak yang baik."

Sasuke tersenyum tipis, lalu mengusap puncak kepalanya. "Bagus, sekarang pergilah. Ayah akan menjemputmu nanti."

Aiko tersenyum lebar sebelum berlari masuk ke dalam gedung. Sasuke mengawasi sampai gadis kecil itu menghilang dari tempat itu, memastikan semuanya baik-baik saja sebelum akhirnya berbalik dan berjalan menuju kantor Hokage.

Perjalanan menuju kantor Hokage tidak begitu jauh dari tempat ia mengantar Aiko. Sasuke kini bukan hanya seorang ayah, tetapi juga seorang shinobi yang menjadi anggota ANBU Konoha. Sebuah peran yang mungkin tidak pernah ia bayangkan setelah segala sesuatu yang telah terjadi dalam hidupnya-terutama setelah kehadiran Aiko.

Sasuke melangkah dengan langkah pasti, membiarkan pikirannya sesekali melayang. Pagi ini, ia memang berniat berdiskusi dengan Naruto, tapi ada hal lain yang terus menghantui pikirannya, terutama tentang percakapan singkatnya dengan Aiko tadi.

Sesampainya di kantor Hokage, Sasuke langsung masuk tanpa mengetuk pintu. Naruto, yang sedang sibuk dengan tumpukan dokumen, mengangkat kepalanya dan tersenyum lebar saat melihat sahabat lamanya itu masuk.

"Hoi! Sasuke!." seru Naruto dengan suara cerah secerah rambut keemasannya,
"Apa yang membuatmu datang kesini sepagi ini?."

Sasuke berjalan mendekat tanpa ekspresi, sepenuhnya mengabaikan basa-basi pria tersebut. "Berikan aku sebuah misi."

Naruto mendelik bingung, ia cukup mengenal Sasuke dengan baik. Kehadirannya yang tiba-tiba sepagi ini tidak mungkin hanya untuk meminta hal sepele seperti 'sebuah misi'. Pasti ada sesuatu yang tengah mengganggu sahabatnya itu.

"Kau ingin misi lagi? Bukankah kau baru saja kembali satu minggu yang lalu?"

Sasuke tetap diam, tidak merasa perlu menjelaskan. Naruto menghela napas, meletakkan dokumen yang sedang ia pegang, dan bersandar di kursi kebesarannya.

Sasuke mengalihkan pandangannya menatap kearah luar jendela, wajahnya tetap dingin seperti biasa. "Aku butuh misi, Naruto. Ada hal-hal yang perlu aku lakukan diluar desa."

Naruto menghela napas sambil bersandar di kursinya. "Hal-hal, ya?" Dia menatap sahabat lamanya dengan penuh tanda tanya. "Apa ini ada hubungannya dengan, Aiko?"

Sasuke mengernyit tidak senang dengan betapa Naruto dapat membacanya dengan mudah seperti sebuah buku yang terbuka.

Sasuke terdiam, tidak berniat menjawab pertanyaannya.

"Hei, dasar bajingan!. Kau baru saja kembali satu minggu yang lalu, dan sekarang kau berniat untuk pergi lagi? meninggalkan putrimu seorang diri?" Pria bersurai kuning itu langsung berdiri dan menghampiri sahabatnya yang terdiam ditempat.

"Aku tidak butuh tanggapanmu, Naruto. Berikan saja aku misinya!."

"Tidak, aku tidak akan memberikan misi padamu untuk beberapa minggu kedepan."

Sasuke mendengus sebal,"Aku butuh melakukan sesuatu, aku cukup bosan berada disini."

"Habiskan saja waktumu itu sebagai Ayah yang baik untuk Aiko. Teganya kau meninggalkannya seorang diri."

Sasuke tidak berniat membantah atau menjawab tuduhan Naruto padanya yang tentu saja benar. Selama ia mendapat misi keluar desa, ia tentu harus meninggalkan putrinya disini. Dan ia menitipkan putrinya itu pada tempat penitipan anak. Untungnya gadis kecil itu adalah anak yang penurut dan tidak pernah mengeluh mengapa ia meninggalkannya cukup lama.

"Aku tahu kau masih tidak bisa melupakannya, tapi jangan biarkan hal ini ber-imbas pada Aiko. Dia hanya anak-anak, Sasuke."

Alisnya yang semula berkerut, memudar seiring ia mendengar ucapan Naruto. Selama ini ia memang lebih sering meninggalkan Aiko, daripada bersamanya. Namun, ia tidak bisa.

"Kau tahu, dia pasti tidak akan senang jika ternyata kau sering meninggalkan putri kalian."

lagi.

Ucapan Naruto sungguh menusuk ke ulu hatinya. ia merasakan jantungnya berdenyut lebih cepat dari yang seharusnya, padahal saat ini ia hanya berdiri diam ditempat.

Sasuke terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab apa yang sedari tadi mengganggu pikirannya, "Dia sudah mulai bertanya tentang ibunya."

Naruto menatap Sasuke dengan serius, kali ini tanpa senyuman. Tentu saja ia terkejut, namun ia kembali sadar bahwa cepat atau lambat anak itu pasti akan bertanya. Seharusnya mereka sudah mempersiapkan hal ini sejak awal. "Lalu kenapa kau tidak memberitahunya saja? Anak itu punya hak untuk tahu, Sasuke."

Sasuke memejamkan matanya sejenak, sebelum akhirnya menjawab, "Belum saatnya...,"

"Aku akan memberitahunya, saat waktunya tiba." Jawab Sasuke akhirnya dengan suara rendah.



__________
Menurut kalian apa yang sebenernya terjadi nih? ada yang bisa tebak?

Jangan lupa vote & komennya, biar aku makin semangat updatenyaa😄💗

Aiko Uchiha (7 tahun)

©pinterest (the picture is not mine, I just borrowed it)

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

©pinterest (the picture is not mine, I just borrowed it)

Beautiful MistakeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang