Bab 12

1.8K 186 21
                                        

Happy Reading!









"Apa Ayah mencintai Ibu?"

Satu pertanyaan dari Aiko, menusuk tepat ke jantungnya. Bibirnya terkatup rapat, tidak bisa memikirkan jawaban apapun. Netranya beralih ke potret Hinata di genggaman Aiko.

Napasnya berat, seolah udara di ruangan itu mendadak menghilang. Pertanyaan Aiko menggema di benaknya, menusuk lebih dalam dari pedang manapun yang pernah ia hadapi.

Pertanyaan dari Aiko adalah sebuah pertanyaan sederhana yang jawabannya tidak pernah ia persiapkan.

Ia memalingkan wajah, memandang keluar jendela, berusaha mencari ketenangan di antara bayangan pepohonan. Namun, yang ia temukan hanyalah kenangan. Kenangan saat pertama kali dirinya bertemu Hinata Hyuuga.

Itu adalah sebuah pertemuan yang tidak disengaja, jauh sebelum Aiko lahir, jauh sebelum ia sepenuhnya memahami perasaan yang terus menghantuinya hingga hari ini.

Saat itu, ia sedang dalam perjalanan penebusan dosanya, berjalan tanpa tujuan di bawah langit malam yang cukup gelap di negeri air, dengan jejak kakinya yang meninggalkan goresan di bawah tanah yang bersalju.

"Ayah..?"

Sasuke kembali menatap putrinya yang masih menunggu jawabannya. Ia menarik napas dalam-dalam, suaranya rendah namun tegas. "Aiko...Kau, keberadaanmu di sini, di samping Ayah, adalah bukti dari segalanya."

Aiko tertegun. "Bukti?"

"Ya," jawab Sasuke.

Aiko tersenyum tipis, tetapi ada sesuatu dalam tatapannya yang membuat Sasuke merasa aneh, seolah ada hal lain yang ingin ia katakan.

"Ayah berbohong," ujar Aiko tiba-tiba, suaranya datar namun menusuk.

Sasuke mengerutkan kening, matanya tajam menatap putrinya. "Apa maksudmu, Aiko?" tanyanya, suaranya berusaha tetap tenang.

Aiko menggigit bibirnya, mencoba menahan tangis yang mulai menyeruak. Ia memeluk potret Hinata lebih erat, seolah potret itu adalah satu-satunya hal yang membuatnya lebih berani. Kemudian, dengan suara bergetar, ia berkata, "Jika benar Ayah mencintai Ibu karena adanya kehadiranku... mengapa pria tua itu berkata bahwa aku dan Ayah adalah penyebab Ibu pergi?"

Sasuke terdiam, tubuhnya menegang mendengar kata-kata Aiko. Pria tua? Hiashi Hyuuga?. Tangan Sasuke mengepal kuat menahan amarah yang sejak tadi berusaha ia redam.

Aiko menatapnya dengan mata yang memerah, air mata menggenang tetapi tidak jatuh. "Katakan padaku, Ayah..." gumamnya pelan, hampir seperti bisikan. "Dia bilang Ibu pergi karena aku dan Ayah... Apa Ayah telah menyakiti ibu? atau, karena aku ibu pergi?"

Sasuke terdiam, kata-kata Aiko menusuk tepat ke hatinya. Rentetan pertanyaan Aiko-membuatnya merasa hancur. Tangan yang tadi mengepal perlahan melemas, dan tatapannya yang tadi penuh kemarahan kini dipenuhi kesedihan. Ia tidak pernah mengira putrinya harus merasakan perasaan ini seperti dirinya dulu.

"Ayah..." Aiko memanggilnya lagi, suaranya nyaris berbisik. Ia menunduk, mencoba menahan tangis yang kini semakin sulit ia bendung. "Kumohon, katakan dimana ibuku?"

Sasuke menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan kekuatannya. Ia tahu ia tidak bisa terus menghindari pertanyaan ini. Aiko berhak mengetahui kebenaran, berhak mengetahui apa yang ingin dia ketahui.

Beautiful MistakeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang