Bab 7

1.5K 182 8
                                        


Hanabi Hyuga, melangkah masuk kedalam kawasan rumah utama klan Hyuga. Ia berjalan terburu-buru, Langkahnya terarah menuju ruang pribadi Ayahnya, Hiashi Hyuga.

Pintu berderit terbuka, menampakkan Hiashi Hyuga yang tengah duduk sembari terlihat sibuk dengan berbagai gulungan.

"Hanabi, dimana sikapmu sebagai seorang pewaris klan Hyuga?"

Hanabi yang masih berada diambang pintu, lantas menutup pintu dengan rapat dan melangkah agar lebih dekat ke tempat sang Ayah berada. Ia pun membungkukkan tubuhnya sembilan puluh derajat.

"Maafkan aku, Ayah."

Hanabi menegakkan kembali badannya, "Ayah... dia, Aku sudah bertemu dengannya."

Hiashi Hyuga nampak tidak terpengaruh, dan tetap melanjutkan pekerjaannya memeriksa berbagai gulungan.

"Dia..., dia telah tumbuh Ayah."

Hiashi mengalihkan pandangannya ke arah putri bungsunya, ia menatap jengah, "Sebenarnya, siapa yang sedang kau bicarakan?"

Hanabi terlihat menghela nafas, "Putri Uchiha-san."

dan hinata-nee

Hiashi mengepalkan tangannya dengan kuat, kemarahan jelas terpancar dari matanya. Ia berdiri dari tempat duduknya, memandang Hanabi dengan tatapan yang tajam dan penuh emosi.

"Bagaimana bisa kau masih berani menyebut nama klan terkutuk itu dihadapanku?!" suaranya penuh kemarahan yang ditahan. "Tidakkah kau ingat bahwa satu-satunya Uchiha yang tersisa saat itu adalah orang yang sama yang telah menghancurkan hidup saudarimu?"

Hanabi menundukkan kepalanya, mencoba menjaga ketenangannya di tengah badai emosi ayahnya. "Ayah, aku mengerti apa yang terjadi di masa lalu, tetapi ini berbeda. Gadis kecil itu... dia adalah bagian dari Hinata-nee. Dia tidak membawa dendam atau kebencian seperti yang terjadi di antara klan kita dengan Uchiha-san."

Hiashi menggeleng dengan penuh kekecewaan. "Kau terlalu naif, Hanabi. Gadis itu membawa darah yang sama dari Ayahnya. Darah pengkhianat yang selalu mendatangkan kehancuran. Gadis kecil itu, sama sekali tidak ada hubungannya dengan Klan kita. Aku tidak akan membiarkan kita berhubungan dengan mereka lagi."

Hanabi menatap ayahnya, menyadari bahwa ini bukanlah sesuatu yang bisa diselesaikan dalam satu percakapan.

"Pergilah Hanabi!"

Hanabi menunduk, "Baik, Ayah. Maafkan putrimu atas kelancangan ini."

Pintu berderit terbuka dan tak lama tertutup. Hiashi masih setia berdiri, perlahan ia berjalan ke arah jendela yang menampilkan halaman belakang kebun Hyuga.

•••

"Otou-sama," suara Hinata pelan namun jelas, memanggil ayahnya dengan hormat.

Hiashi menatap putrinya dengan pandangan tajam. Ia sudah memperhatikan perubahan kecil pada Hinata beberapa waktu belakangan-rasa mual yang ia coba sembunyikan, gerak-geriknya yang lebih hati-hati. Seolah nalurinya sebagai seorang Ayah mulai merangkai kepingan-kepingan yang hilang.

"Masuklah, Hinata," ujar Hiashi, suaranya tenang namun penuh otoritas.

Hinata melangkah masuk dan berdiri di depan ayahnya. Hiashi memandangnya, kedua alisnya sedikit berkerut. Tanpa basa-basi, ia langsung mengutarakan dugaannya.

"Hinata," Hiashi memulai, nada suaranya dingin dan mengintimidasi. "Kau tengah mengandung, bukan?"

Hinata terdiam, tangannya sedikit gemetar di samping tubuhnya. Ia menunduk, tidak berani menatap mata ayahnya.

Beautiful MistakeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang