•
•
•
•
•
Happy Reading!
Salju turun perlahan, menyelimuti tanah dengan lapisan putih yang dingin. Langit abu-abu menggantung rendah, membawa suasana suram di negeri hujan yang kini diselimuti salju musim dingin. Hinata terus berjalan, langkahnya terseret di jalan berbatu yang licin, sementara napasnya membentuk uap tipis di udara. Jubahnya telah basah oleh tetesan hujan dan salju yang mencair, membuatnya semakin menggigil dalam hawa dingin yang menusuk tulang.
Kakinya terasa berat, chakranya melemah, tetapi ia tidak punya tujuan lain selain terus melangkah. Tak ada tempat untuk kembali, tak ada arah yang pasti. Ia hanya berjalan, mengikuti instingnya yang membawa ia jauh dari Konoha.
Di kejauhan, samar-samar, ia melihat sesosok pria yang berdiri di bawah pohon yang daunnya tertutup es. Sosok itu mengenakan jubah gelap yang berkibar tertiup angin, rambut hitamnya berjatuhan menutupi sebagian wajah yang tajam dan dingin.
Hinata berhenti, tubuhnya menegang. Ia takut jika sosok yang ia lihat didepannya adalah penjambret. Hinata memohon dalam hati, ia sedang tidak punya cukup tenaga untuk menghadapi siapapun sekarang.
Dengan langkah terseok-seok akibat rasa lelah dan dingin yang menusuk tulang, Hinata memilih untuk memutar balik langkahnya. Tetapi tubuhnya yang semakin melemah membuatnya sulit untuk terus berjalan. Napasnya semakin berat, matanya berkunang-kunang, tetapi ia berusaha tetap tegak.
Namun pikirannya melarangnya untuk bersikap seperti seseorang yang lemah, tidak, tidak lagi. Ini adalah misi solo pertamanya, Kakashi-sensei telah mempercayakan misi ini kepadanya. Ia harus bisa memenuhi tugasnya sebagai ninja dan seorang pewaris klan Hyuga.
Ia tak akan membiarkan dirinya kembali di cap sebagai seorang pewaris yang gagal.
Hinata semakin merapatkan jubahnya, berusaha menahan hawa dingin yang semakin menggigit tubuhnya. Ia memaksa dirinya untuk terus berjalan, menegakkan tubuhnya meski tenaganya semakin menipis. Namun, baru beberapa langkah, kakinya kehilangan keseimbangan. Lututnya terasa lemas, dan sebelum ia menyadarinya, tubuhnya mulai jatuh ke tanah yang dingin.
Tiba-tiba, angin dingin berhembus kencang, membawa serta suara langkah yang mendekat. Hinata mendongak, dan sesaat sebelum kesadarannya benar-benar hilang, ia melihat pria itu bergerak. Sosoknya melangkah mendekat, dengan ekspresi yang tetap sulit dibaca.
"K-kau...," gumamnya lirih, suaranya nyaris tak terdengar oleh angin yang menderu.
Sosok itu tak langsung merespon. Ia tetap berdiri di tempatnya, seperti sedang menimbang sesuatu. Matanya mengamati keadaan Hinata dengan ekspresi yang sulit diartikan.
Mata pucatnya bertemu dengan onxy yang kelam.
Hinata menyadari bahwa di depannya sosok pria berjubah, dengan rambut hitam yang runcing, dan sepasang mata yang tidak seragam, menatapnya. Dia adalah Uchiha Sasuke, mantan nukenin. Jantungnya berdegup kencang, hawa dingin yang menusuk tulangnya kini terasa bercampur dengan ketegangan. Ia tak pernah menyangka akan bertemu dengan sosok yang hampir dua tahun menghilang. Terakhir kali dirinya melihat pria Uchiha itu adalah saat Perang dunia ninja keempat, setelah itu ia tidak tahu lagi kabarnya.
"Hyuga?" suara pria itu akhirnya terdengar, datar namun dalam, bergema di antara rintik salju.
Hinata menghela napas, tetapi sebelum ia bisa menjawab, tubuhnya limbung. Kelelahan yang ia tahan sejak pagi akhirnya mencapai batasnya. Pandangannya mengabur, dan dingin mulai menggerogoti kesadarannya. Ia merasa jatuh ke dalam kegelapan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Beautiful Mistake
Fiksi Penggemar[Fanon/Semi-Canon] Sasuke Uchiha, shinobi legendaris yang dikenal dingin dan pendiam, terhenyak ketika putri semata wayangnya menanyakan tentang sosok sang ibu, Hinata Hyuga. Pertanyaan yang sederhana namun menggugah kenangan mendalam yang selama in...
