•
•
•
•
•
Happy Reading!
Sasuke melangkah ke sisi Hinata, pandangannya tajam menelusuri tiga lawan yang tersisa. Mata Sharingan-nya menyala terang, menembus setiap gerakan, dan niat tersembunyi musuh tersebut.
Ia sama sekali tak menoleh, tapi suaranya jelas terdengar rendah dan tegas.
Hinata membuka mulut, ingin menjawab-tapi ia tahu betul nada suara itu. Tegas. Penuh perintah.
Hinata menunduk sedikit, lalu melangkah mundur dengan cepat, menjauh dari medan serang.
Sasuke mencabut Kusanagi sepenuhnya, mengangkatnya ke depan. Aura chakra gelap mulai terasa di sekelilingnya, dan Sharingan-nya perlahan berubah menjadi Mangekyō.
Para penyerang itu saling berpandangan, satu di antaranya tampak ragu, tapi yang lain mencoba tetap tenang-meski peluh ketakutan mulai membasahi pelipis mereka. Mereka tahu siapa yang berdiri di hadapan mereka sekarang.
Sasuke menghilang dalam sekejap-seperti bayangan yang tercerai dari tubuhnya. Satu musuh bahkan belum sempat menarik napas sebelum pedang Kusanagi milik Sasuke menebas udara dan menjatuhkannya ke tanah.
Yang kedua mencoba menyerang dari atas, tapi Sasuke sudah mengantisipasi, memutar pedangnya dan menebas ke arah dada lawannya. Darah menyiprat dan tubuh itu terhempas ke dahan pohon terdekat.
Dari belakang, Hinata berlutut sambil menempelkan kedua tangannya ke dada, memusatkan chakra, perlahan menstabilkan aliran dalam tubuhnya. Nafasnya berat tapi ia berusaha tetap fokus.
Satu musuh tersisa.
Tanpa disadari Sasuke, bayangan terakhir itu bergerak dalam diam, mengambil jalur semak, lalu meloncat dari arah yang tak terduga. Hinata baru menyadarinya saat mendengar desir dedaunan dan langkah cepat mendekat.
"Uchiha-san!" serunya refleks.
Namun sudah terlambat.
Sebuah kunai menusuk sisi kiri perut Sasuke, tepat di bawah tulang rusuknya. Mata Sasuke melebar sesaat karena rasa sakit mendadak yang membakar, namun ia tidak jatuh.
Dengan satu gerakan yang cepat dan penuh kemarahan dingin, ia berputar dan menebas musuh terakhir itu. Tubuh penyerang itu terhempas ke tanah dengan darah mengalir deras dari lehernya.
Sasuke jatuh berlutut satu kaki, satu satunya tangannya menekan luka di sisi kiri perutnya. Napasnya berat.
"Uchiha-san!" Hinata segera berlari menghampirinya, ketakutan mulai menjalar dalam suaranya. Namun Sasuke hanya menatapnya sebentar, rahangnya mengeras, menahan rasa sakit yang mulai menjalar lebih cepat.
"Agghh." rintihnya pelan. ia merasa matanya mulai sedikit mengabur.
Sasuke mengangkat wajahnya perlahan, dan pandangannya bertemu dengan mata putih cemerlang milik Hinata. Meski samar oleh kabut nyeri, ia bisa melihat dengan jelas raut di wajah gadis itu-kekhawatiran, ketakutan yang sedang coba ia tekan.
Tangan Hinata gemetar saat memeriksa luka di sisi perutnya. Matanya menyipit, mendeteksi sisa residu chakra aneh pada kulit Sasuke yang terbuka-jejak dari racun.
"Tidak! Kunai ini... dilapisi racun," katanya pelan, berusaha tetap tenang.
Hinata menatap Sasuke, matanya sayu, menahan rasa sakit. "Bertahanlah, Uchiha-san."
KAMU SEDANG MEMBACA
Beautiful Mistake
Fanfiction[Fanon/Semi-Canon] Sasuke Uchiha, shinobi legendaris yang dikenal dingin dan pendiam, terhenyak ketika putri semata wayangnya menanyakan tentang sosok sang ibu, Hinata Hyuga. Pertanyaan yang sederhana namun menggugah kenangan mendalam yang selama in...
