Terjerat Hutang | Part 16 | Hipnotis

1K 8 0
                                    

Aku mencoba berpaling, namun kekangan di kepalaku semakin erat, membuatku tak berdaya, hanya bisa memandang lurus ke arah kedua TV itu. Spiral hitam putih yang berputar perlahan di satu layar dan pemandangan menyakitkan di layar lainnya seolah menyatu menjadi mimpi buruk yang nyata. Tubuhku tegang, berusaha melawan perintah-perintah halus yang mulai merasuki pikiranku, aku merasa seperti dihipontis.

"Jangan keras kepala, Arani," bisik Herman di telingaku, napasnya terasa hangat dan merendahkan. "Semakin kau melawan, semakin sulit untukmu nanti." Tangannya menyentuh leherku dengan lembut, namun penuh kendali, seperti pemangsa yang tahu mangsanya sudah tidak punya pilihan lain. "Lihat terus," lanjutnya, nadanya mengejek namun tenang.

"Setiap tarikan napas membawa keinginan baru, sebuah keinginan untuk patuh, untuk tunduk... kamu ingin memuaskan... setiap serat di tubuhmu diciptakan untuk kenikmatan laki-laki lain. Tidak ada tujuan lain. Kamu mendambakan sensasi yang hanya bisa mereka berikan... mereka adalah jawaban dari semua keinginanmu yang tersembunyi. Kau mendambakan kepuasan yang hanya bisa kau dapatkan dari mereka, dari tubuh mereka, dari kekuasaan mereka atasmu."

"Kau merasa haus... haus yang tak tertahankan. Tidak ada yang bisa menghilangkan dahaga ini kecuali sentuhan laki-laki... kecuali rasa dari tubuh mereka... kecuali kehadiran penis yang kau dambakan."

"Semakin kau mendengarkan, semakin kau memahami bahwa tak ada yang lebih penting lagi... tidak ada yang lebih berharga selain memenuhi keinginan itu. Setiap tarikan napas... setiap detak jantungmu... kini hanya ada untuk satu tujuan—memuaskan dan ditaklukkan oleh kehadiran laki-laki. Dorongan itu akan terus tumbuh... terus menguat... merasuki pikiran dan tubuhmu, memandu setiap langkahmu ke arah kenikmatan yang mereka janjikan."

Suara itu berbisik pelan, namun setiap kata menggetarkan seluruh tubuhku, aku mencoba berteriak, melawan rasa takut yang semakin mencengkram. "Kamu mau hipnotis aku, hah?" Suaraku terdengar serak dan putus asa. Herman tidak menjawab dan sebelum aku bisa melanjutkan kata-kataku, Herman dengan cepat memasangkan bola yang digunakan untuk menyumpal mulutku, membuat suaraku hanya terdengar sebagai erangan teredam. Aku menggeliat dengan sia-sia, mencoba melawan kendali yang semakin kuat dari Herman.

Dia tersenyum puas, seolah memperhatikan setiap reaksi kecil dari tubuhku dengan kebanggaan yang dingin. Setelah yakin aku tidak bisa melakukan apa pun lagi, Herman menunduk, wajahnya kembali mendekat ke wajahku, napasnya terasa mengintimidasi. "Sampai jumpa lagi, Arani," ucapnya dengan suara rendah. Tangannya yang dingin mengelus pipiku, memberikan sentuhan terakhir yang membuatku semakin jijik dan takut. 


Baca selengkapnya di https://karyakarsa.com/auliashara atau klik link di bio. 

Terjerat HutangTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang