🫧BISAKAH IKHLAS?🫧

209 20 1
                                    

  "HANAA!!"

Hana berlari keluar rumah tanpa menyelesaikan ucapannya. Membuat semua orang kembali cemas.

  "Biar Ibu yang susul Hana, Yah." Ujar sang Ibu pada Ayah dan langsung mengejar putrinya.

  'pasti dia marah sama Gua.'  Asgaf membenak.

   "Mau kemana, Kak?" Nadin bertanya pada Anzan yang ingin keluar.

  "Nyusulin Hana, Nad."

  "Ayah ikut, Zan."

  "Jangan, Ayah disini aja." Anzan melirik Asgaf. Mengisyaratkan agar Ayah mengobrol dengan Asgaf saja.

***

Ibu Hana menghampiri putrinya yang ternyata berlari ke taman di dekat rumah mereka.

Hana tidak menangis. Hanya saja tatapannya terlihat kosong bercampur linglung. Ia duduk di salah satu bangku panjang yang ada disana.

  "Adek." Panggil sang ibu ikut duduk disamping Hana.

Hana menoleh. Namun tidak menyahuti panggilan Ibunya.

  "Adek marah sama Ibu?"

Hana menggeleng.

  "Maaf ya, Dek. Karna nggak izin dulu mau nikahin Asgaf sama Adek." Ibu bertutur sedih.

Hana masih diam. Dia hanya merasa— entahlah, kecewa mungkin.

  "Tapi, Dek. Bagaimanapun juga. Asgaf itu sudah menyelamatkan nama baik keluarga kita." Ibu menjeda sedikit ucapannya. Berhati hati agar kata katanya tidak menyakiti Hana. Netranya menatap Hana lekat lekat.

  "Asgaf anak yang sholeh, Pasti dia bisa jadi pemimpin yang baik. Sebenernya dulu Ayah  pernah ada niat mau jodohin adek sama Asgaf."

Kening Hana mengerut. Ia tidak pernah diberi tahu soal ini.

  "Tapi karena Adek waktu itu mau ta'aruf sama Raden, Ayah nggak jadi lakuin itu."
Sang ibu menghela nafas saat menyebut nama Raden. Masih teringat jelas bagaimana usaha Raden meyakinkan mereka untuk menikahi Hana.

Orang tua Hana tentu saja kecewa dengan Raden, Namun mereka mencoba memahami dan bersimpati.

  "Tapi Hana belum kenal Kak Asgaf, Bu. Selama ini pun Hana jarang ngobrol, gimana kalau Kak Asgaf juga sebenarnya ngerasa keberatan?" Hana akhirnya mengeluarkan semua yang dia pikirkan.

Meskipun Anzan dan Asgaf adalah teman dekat sejak SMA. Hana tidak terlalu mengenal Asgaf. Kalau bertemu pun hanya saling sapa.

Ketika beranjak remaja dan mulai mengenal rasa suka. Ia berusaha keras agar tidak jatuh cinta. Didikan orang tuanya yang ketat soal agama serta keinginan Hana yang tidak mau mengambil risiko patah hati atau mengemas kenangan soal mantan setelah menikah, membuatnya begitu menjaga diri. Tidak kaku namun tegas.

Maka dari itu. Disaat dia telah menyiapkan hati untuk Raden, Yang terjadi malah seperti ini. Ia begitu kecewa.

  "Belum tentu, Bukan maksud ibu manfaatin keadaan. Tapi yang mengajukan diri jadi mempelai pengganti itu Asgaf sendiri." Ujar sang ibu membuat Hana terkejut.

  "Jadi kak Asgaf yang ngajuin diri?" Awalnya Hana mengira orangtuanya yang memaksa Asgaf melakukan itu.

Sang Ibu mengangguk.

  "Tapi kenapa?"

  "Ibu juga belum tau, dia bilang itu refleks."

  "Ibu nggak mau maksa Adek, tapi sekarang Asgaf sudah jadi suami Adek. Tanggung jawab atas Adek yang Ayah pikul sekarang berpindah ke Asgaf. Meskipun belum bisa suka, Ibu harap Adek menghormatinya." Ucap sang ibu penuh kelembutan. Diusapnya kepala Hana dengan sayang.

Unexpected PlotTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang