Sudah kisaran 4 hari ayah dan bunda pergi keluar kota. Katanya masih ada 6 hari lagi baru bisa pulang. Selama ayah dan bunda tidak dirumah, Lingga dan Gara bertanggungjawab penuh atas rumah dan adik-adiknya. Seperti pagi ini, Gara menyisikan uang yang dititipkan ayah padanya untuk uang saku Java dan Jeva. Dua bocah yang baru masuk SMA itu tidak diberi uang bulanan, mereka sendiri yang pilih. Katanya mending nanti saja waktu kuliah pakai uang bulanan. Mereka juga belum boleh pakai kendaraan bermotor, kalau ini bunda yang buat aturan. Soalnya kedua putra bungsunya itu masih belum punya SIM, jadi kemana-mana diantar abang atau masnya.
"Sarapan Gar." Lingga membuka pintu kamar Gara tanpa diketuk, hanya dia yang berani melakukan itu sebab Gara tak bisa marah padanya.
"Masak apa?"
"Nasi goreng." Lingga berlalu menuju kamar kedua adik kembarnya. Di dalam rumah ini semua orang bisa masak, termasuk ayah dan putra-putra bunda. Ayah yang mengajarkan kalau laki-laki itu harus serba bisa, masak itu bukan tugas perempuan. Demikian yang diajarkan ayah dan keempat putranya menerapkan itu. Ya walaupun Java sangat payah dalam menggoreng dan Jeva yang ceroboh kalau di dapur. Setidaknya mereka tidak akan kelaparan jika ditinggal berdua.
Gara turun terlebih dulu disusul Lingga dan Jeva ke ruang makan.
"Java?" tanyanya saat mendapati adiknya kurang satu.
"Masih pakek seragam, bang." Jeva yang menjawab dan anak itu langsung duduk di sebelah Lingga. Tak lama Java turun dengan tergesa sambil pasang dasi.
Mereka makan dengan hikmat setibanya Java di meja makan. Tak ada yang protes dengan rasa nasi goreng buatan Lingga, masakan nya selalu enak memang.
"Abang, gue ada iuran buat eskul basket, lupa bilang. Mau beli jersey baru, buat turnamen nanti." ucap Java begitu ingat ia melupakan sesuatu.
Gara mengeluarkan dua lembar uang merah muda dan menyerahkannya pada masing-masing adiknya.
"Ini uang saku, ini buat iuran lu." Gara lantas memberikan selembar lagi untuk Java.
Jeva melihat uang yang diberikan Gara pada Java. Ia tidak iri Java dapat uang lebih, tapi ia iri dengan Java yang bisa melakukan banyak hal dengan sesuka hati. Ia bisa ikut basket, taekwondo, dan banyak hal lain. Ia tidak bisa ikut eskul yang berbau olahraga atau fisik, padahal eskul eskul itu seru. Ia sudah biasa lihat Gara bawa pulang piala olimpiade atau piagam-piagam ke-paskibraan-nya, Lingga dengan kegiatan pecinta alamnya, atau Java dengan rentetan medali olahraga yang ia ikuti.
"Mas, bang." Lingga dan Gara menoleh bersamaan pada si bungsu. Bahkan Java yang tidak dipanggil pun ikut mengalihkan atensinya.
"Kalo' Jeva ikut basket juga boleh gak?" Ia bertanya takut-takut dan langsung dijawab detik itu juga oleh saudara-saudaranya.
"Gak boleh!/Gak!" Yang menjawab hanya Lingga dan Java, sedangkan si sulung pertama tetap diam menatapnya tajam.
"Kalo' taekwondo?" Ia masih mencoba peruntungan.
"Itu apalagi!" Ini baru Gara yang menjawabnya.
"Kenapa kok tiba-tiba? Kamu kan tau sendiri kalo' gak bisa Jev?" Lingga berusaha untuk berbicara 'pelan' dengan Jeva.
"Jeva pengen nyoba ikut mas, pengen tau rasanya."
"Biasanya kan udah nyoba tiap kita main di hari minggu." Mereka punya lapangan basket kecil di belakang rumah, ayah yang buatkan. Entah kenapa olahraga kesukaan ayah itu menurun pada anak-anaknya termasuk Jeva walaupun ia tidak bisa main lama-lama. Dan rutinitas mereka setiap hari minggu itu bermain basket bersama bahkan dengan ayah dan bunda.
"Tapi kan beda abang." Anak itu masih tetap kekeh dengan pilihannya membuat ketiga saudaranya bingung. Mereka bukannya tidak mau mengijinkan, tapi Jeva memang tidak boleh melakukan itu. Berbahaya bagi kesehatannya.

KAMU SEDANG MEMBACA
J.E.V.A [Tamat]
Short StoryCerita keseharian seorang bungsu keluarga Diaskar yang dimanja seisi rumah. Bahkan sampai supir, tukang kebun, dan pembantunya ikut memperlakukannya bak pangeran kecil yang harus dilayani. Saat kecil si bungsu menyukainya, tapi seiring berjalannya w...