8. Love and Truth

107 18 0
                                    

Gara menarik masuk adik bungsunya ke dalam rumah. Lingga yang khawatir berusaha memisahkan saudara kembarnya sebelum ia memukul si bungsu lagi.

"Gara, udah lepas dulu!" Lingga berusaha melepaskan cengkraman Gara pada kerah seragam Jeva. Anak itu masih diam ketakutan tak melawan sedikitpun.

"Berhenti bela dia setelah ini!" Gara membentaknya, ia kelepasan membentak Lingga yang juga terkejut. Tapi anak itu lekas sadar dari keterkejutannya dan menarik Jeva ke belakang tubuhnya untuk dilindungi.

"Berhenti main pukul ke adek-adek lo sendiri! Mereka bakal tambah bengal tau gak! Di omongin baik-baik dulu kan bisa!"

"Ya, diomongin baik-baik cara kesukaan lo. Sadar gak sih dia ngelunjak karena selalu lo belain? Omongan baik-baik lo itu gak didengerin Lingga, diiyain doang habis itu dilakuin lagi!"

"Seenggaknya dengerin dulu dia! Alasannya apa!" Gara menjambak rambut belakangnya frustasi. Lingga memang tipikal orang yang tidak suka main kasar, ia paham betul ini akan jadi perdebatan antara mereka berdua karena cara mereka yang tak sama dalam hal mendidik adik-adiknya.

"Liat sekarang dia udah berani ngerokok, lama-lama pasti minum nih anak!"

"Rokok itu bukan punyaku. Itu punya Raven." Jeva memberanikan diri untuk memberikan pembelaan walaupun dengan terbata-bata karena gugup ditatap tajam oleh Gara.

Lingga balik menatap tajam Gara setelah mendengar ucapan adiknya, "dengerkan?" desisnya.

"Lo berharap gue percaya setelah semua yang lo lakuin?" Tidak hanya Jeva tapi Lingga juga terkejut mendengar ucapan Gara yang menggunakan Lo-Gue pada Jeva. Walaupun terlihat dingin dan jutek, Gara menggunakan Aku-Kamu saat bicara dengan adik bungsunya.

"Mau lo apa deh sekarang? Lo pengennya kita gimana, Jev?"

Jeva hendak buka mulut menjawab pertanyaan Gara tapi Java keburu datang dan mencengkram kerah seragamnya dengan amarah yang meledak-ledak.

"Apa yang udah lo bilang ke Raven, anjing?!" Jeva tak bisa menutupi rasa keterkejutannya.

"Apa yang udah gue bilang?" Ia bingung bagian mana yang Raven katakan pada Java.

Tanpa diduga Java memukul saudara kembarnya. Lingga berusaha menarik Java tapi anak itu malah mendorongnya menjauh dan memukul Jeva lagi hingga pipinya membiru.

Laki-laki itu menarik kerah Jeva hingga duduk setelah tersungkur mendapatkan dua kali pukulan telak darinya.

"Mas Lingga sama bang Gara itu udah ngelakuin banyak hal buat kita, ah gak, buat lo lebih tepatnya. Dan lo dengan entengnya bilang mereka ganggu?! Kalo' lo mau kita ngejauh, lo tinggal bilang! Jangan seenaknya anjing!"

Beberapa saat lalu ...

Java menatap mobil Gara yang sudah menghilang di persimpangan. Ia menunggu di depan warnet, orang yang sangat ingin ia beri pelajaran karena sudah membawa saudaranya ke tempat seperti itu.

Raven keluar dari dalam warnet dengan jaket abu-abu yang ia kenakan. Sedikit mencium ujung bahunya bergantian apakah masih tercium bau asap rokok atau tidak, pikirnya. Ia mengeluarkan satu bungkus permen dari dalam saku celana dan bersiap pulang jika saja Java tak menghadangnya.

Java menatapnya tajam, sedangkan laki-laki itu membalasnya dengan tatapan malas.

"Jauhin saudara gue mulai besok. Gak usah temenan lagi sama dia, dia gak butuh temen modelan lo. Makasih." Java hendak pergi setelah mengucapkan itu tapi ucapan Raven menahannya.

"Pede banget bilang gak butuh temen modelan gue? Gue udah baik hati ngehibur dia lho. Dia stress tuh punya saudara modelan lo pada. Kalian tuh cuma pengganggu di hidup dia."

J.E.V.A [Tamat]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang