Entah apa yang membuat Java mendadak canggung duduk satu meja bersama ayah dan bundanya. Yang pasti, kedua orang tuanya itu telah mengetahui masalah yang terjadi kemarin dan ia sudah berpasrah diri jika memang ayah dan bundanya akan marah padanya.
"Java, ayah sama bunda mau minta maaf."
Java menatap kedua orang tuanya tak percaya.
"Sayang, bunda minta maaf ya, nak? Bunda diem waktu tau ini semua ngelukain kamu. Bunda selalu nyuruh kamu ngalah buat Jeva, kamu selalu kena marah buat hal kecil tapi bunda gak pernah bisa marah ke Jeva. Maaf buat kamu merasa tersisihkan Java. Bunda gak ada maksud gitu. Bunda sayang banget sama kamu, nak. Jangan pernah mikir gitu lagi ya, maaf buat tindakan bunda sebelum ini."
"Maaf ayah gak bisa lakuin apapun buat bela kamu Java. Sedari kecil, kamu ngelakuin banyak hal sendirian, jarang nangis, berani, berantem mulu kerjanya." Ayah sedikit tertawa pelan mengundang Java juga ikut tertawa mengingat tingkah lakunya saat masih kanak-kanak.
"Tapi kamu salah kalo' kamu mikir kita gak sayang kamu. Kamu putra ayah Java, ayah bangga sekali sama kamu. Sama halnya ayah bangga sama kakak-kakakmu, kasih sayang ayah ke kamu dan Jeva itu sama. Gak ada yang bedanya kalian semua dimata ayah."
"Java ngerti kok yah, ayah sama bunda gak perlu minta maaf buat itu. Java udah paham sekarang, mungkin kejadian kemarin itu cuma pas Java labil aja. Java iri sama Jeva, tapi gak semua itu bener kok. Java cuma bingung aja waktu itu. Gak ada rasa buat nyalahin ayah sama bunda."
"Jav, mulai sekarang kamu boleh protes sekiranya tindakan ayah sama bunda gak adil ke kamu maupun Jeva."
"Jangan dipendem sendirian mulai sekarang ya, nak. Ayah sama bunda ada buat kamu."
Java merasakan hal yang berbeda saat mendengar orang tuanya sendiri yang mengatakan itu. Benar, tak ada yang harus dimenangkan dalam keluarga. Itu bukan satu hal yang bisa dipertaruhkan. Dan Java tak akan menyesali keputusannya hari ini.
"Makasih ayah, makasih bunda."
∆_∆
Jeva mengerjapkan matanya pelan, menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retinanya. Ia mengedarkan pandang ke sekeliling ruang rawat inap yang dipesan VIP untuknya tapi disana tidak ada siapapun. Tidak ada yang menungguinya dan berucap khawatir saat ia sadar. Ia mulai menyesali perbuatannya dan merengek pelan, alat bantu pernafasannya mulai berembun karena dia menangis. Dia tidak mau sendirian.
Lingga membuka ruang rawat inap adiknya sambil menenteng kresek berisi makan yang baru saja dibelinya dari kantin. Matanya tertuju pada adik bungsunya yang tengah kesulitan bernafas karena tengah menangis. Ia menoleh ke arah Gara yang baru saja membuka pintu rawat dan langsung memerintahnya.
"Panggil dokter!" Gara yang awalnya akan marah mendengar Lingga seenak jidat menyuruhnya tak jadi karena melihat kondisi Jeva yang sudah sadar dan tengah sesegukan.
Dokter datang dengan tergesa dan memberikan sedikit penjelasan mengenai kondisi Jeva yang hanya bisa dimengerti oleh Gara. Setelah dirasa keadaannya cukup stabil dokter meninggalkan ruang rawat Jeva.
Anak laki-laki itu tersenyum dengan wajah pucatnya. Ia lega melihat Gara dan Lingga khawatir tadi, itu tandanya mereka masih peduli.
"Makasih ya mas, abang. Maafin Jeva." ucapnya dengan wajah memelas.
Gara dan Lingga saling tatap sebelum sinyal kejahilan Gara mencuat dan Lingga sudah tidak bisa lagi mencegahnya.
"Gimana ya Jev, ayah udah mau coret kamu dari KK tuh. Abang gak ikutan ya, kan salah kamu sendiri."
Jeva melotot tak percaya, menoleh kepada Lingga yang hendak mengatakan bahwa itu tidak benar tapi Gara sudah menginjak kakinya lebih dulu.
"Mas? Gak bener kan? Jeva gak bakal dicoret dari KK kan? Jeva janji gak nakal lagi." rengeknya pada Lingga. Sebab jika ia merengek pada Gara, laki-laki itu tidak akan goyah.
"Bunda udah nelpon panti asuhan tau. Nanti kamu dititip disana, tenang aja Jev gak jauh-jauh dari rumah."
"Aaaaaa abang! Gak mau!"
"Hish!" Lingga memukul lengan Gara yang sudah tertawa melihat Jeva merajuk. Rasanya sudah lama sekali ia tidak melakukan itu pada kedua adik bungsunya, nanti ia rencanakan untuk menjahili Java ah.
Jeva akhirnya tenang setelah Lingga bilang kalau Gara hanya bohong. Ia dengan telaten membantu menghapus jejak air mata di pipi adiknya.
"Maafin Jeva ya abang, mas. Jangan tinggalin Jeva."
"Iya gak ditinggal, tapi kalo' nakal lagi kita tinggal. Gak peduli, tinggal aja pokoknya."
"Ih, iya gak!!" Gara kembali tertawa setelah berhasil mengerjai Jeva untuk kesekian kali.
Pintu ruang rawat terbuka menampilkan ayah, bunda, dan juga Java. Bocah laki-laki 16 tahun itu langsung berlari dan memeluk saudara kembarnya.
"Java maaf."
"Diem!"
"Maafin gue Jav."
"Gue bilang diem Jeva!"
Tak ada lagi percakapan diantara mereka. Mereka hanya saling peluk hingga yang lebih tua memutuskan untuk melepas pelukannya.
"Lain kali jangan nakal! Jangan ngawur lo! Sok-sokan berantem buka tutup selai aja gak kuat, cemen lo itu! Sok jago!"
Jeva cemberut mendengar ocehan sekaligus hinaan Java kepadanya.
"Maafin gue ya, gue gak dateng kemaren buat nyelametin lo."
Jeva menggeleng lalu menatap mata saudaranya.
"Lo ajarin gue berantem aja, lain kali gue lawan sendiri."
Lalu mereka kembali berpelukan membuat suasana haru di dalam ruang rawat itu. Ayah dan bunda senang kedua putranya kembali akur.
"Nah, baikan dah lo berdua. Lain kali masa pubernya tuh gak usah aneh-aneh coba. Memecah belah keluarga tuh bahaya anjir." Gara mengomel yang disambut dengan tawa Lingga. Ia tidak tau bisa tertawa selepas ini sekarang. Padahal suasananya kemarin terasa mencekiknya.
"Yeu ketawa lo! Kemaren aja nangis-nangis." Lingga terkekeh setelah disindir saudara kembarnya.
Jeva bisa melihat bagaimana bahagianya semua orang dalam ruangan itu. Mereka berkumpul untuknya, melakukan banyak hal untuknya, dan dia dengan bodohnya pernah meminta mereka semua pergi jika tak bisa memberikan kasih sayang itu secara utuh kepadanya.
Java bisa melihat gurat penyesalan dari wajah sang kembaran. Ia menepuk pundaknya pelan.
"Hei, udah lah. Semua bakal baik-baik aja mulai sekarang."
Ya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan untuk sekarang. Lega rasanya bisa kembali pulang ke rumah. Rumah yang bisa merengkuhnya, keluarga.
___________________________________________
Tamat

KAMU SEDANG MEMBACA
J.E.V.A [Tamat]
Short StoryCerita keseharian seorang bungsu keluarga Diaskar yang dimanja seisi rumah. Bahkan sampai supir, tukang kebun, dan pembantunya ikut memperlakukannya bak pangeran kecil yang harus dilayani. Saat kecil si bungsu menyukainya, tapi seiring berjalannya w...