7. Pengaruh Buruk

101 18 0
                                    

Jeva sampai di meja makan. Pagi ini tak terlihat cukup baik, tak ada sapaan atau ucapan selamat pagi yang biasa diucapkan saudara-saudaranya. Sudah satu minggu mereka perang dingin. Kalau Java masih bisa bercanda dengan Gara dan Lingga, sedangkan ia merasa menjadi pihak yang dimusuhi disini. Yah, ia akui kejadian terakhir kali memang keterlaluan tapi apa orang-orang ini tak mau lihat dari sudut pandangnya?

Anak laki-laki itu berdiri hingga kursinya berderit tergeser ke belakang. Semua mata tertuju padanya, Lingga yang awalnya tengah bicara dengan Java jadi menatap si bungsu yang hendak pergi melewatkan sarapannya. Seperti yang sudah sering ia lakukan belakangan ini.

"Jeva!" Lingga menoleh ke saudara kembarnya yang akhirnya membuka percakapan setelah sekian lama diam. Jeva yang sudah beranjak dari meja makan berbalik sedikit memberikan tatapan bertanya pada yang lebih tua. Ia ingin sekali langsung pergi tanpa memperdulikan panggilan Gara sebenarnya, tapi ia tidak berani.

Gara meletakkan beberapa lembar uang di atas meja makan lalu melenggang pergi begitu saja. Sebenernya Jeva malu jika harus berbalik untuk mengambil uang yang Gara berikan, tapi ia butuh itu. Di meja makan masih ada Lingga dan Java yang sedang ngobrol menikmati sarapannya berdua. Ia berdecak pelan lalu kembali mengambil uang di atas meja lalu segera pergi dari sana. Lingga dan Java saling tatap lalu keduanya sama-sama menghela nafas.

"Jangan ditinggal sendirian ya, Jav." Java menatap Lingga sambil tersenyum, memberikan gestur oke agar kakaknya tak khawatir.

"Aman mas!"

∆_∆

"Ekhem! Sendiri lagi?" Raven berdiri di parkiran tepat di sebelah motornya. Jeva melewatinya begitu saja, masih fokus membuka bungkus roti yang baru saja ia beli. Raven mengejar anak itu dan merebut bungkus roti Jeva.

"Woy!" Jeva hendak protes lebih panjang jika roti itu tak kembali padanya dengan bungkus terbuka.

"Santai elah masih pagi!" gerutu anak itu yang sudah diteriaki Jeva pagi ini. Wajah kesal dan merengut Jeva tak luput dari perhatiannya.

"Kenapa tuh muka? Masih belum baikan lo sama saudara-saudara lo?" Jeva menghentikan langkahnya, menatap Raven heran. Tau darimana anak ini kalau ia sedang bertengkar dengan saudara-saudaranya?

"Sok tau! Mending lo diem deh, polusi suara!" Raven terkekeh mendengar ocehan Jeva. Itu membuktikan jika dugaannya benar.

"Bolos yok!" Jeva menatap anak itu dengan tatapan, 'yang bener aja lo?!'.

Tapi agaknya Raven menepis semua sinyal penolakan Jeva dan menarik anak itu keluar gerbang sebelum ditutup. Mereka terus berlari tanpa peduli dengan teriakan satpam sekolah yang sepertinya enggan mengejar mereka lebih jauh. Jeva panik jujur saja tapi orang gila di depannya ini malah tertawa terbahak-bahak.

"Lo ... Gila apa?!" Jeva menyentaknya dengan nafas yang putus-putus. Raven tertawa pelan dan memberikannya sebotol air mineral. Keduanya sudah berhenti berlari dan duduk di kursi trotoar dekat jalan raya.

"Lagian gue liat lo lesu banget akhir-akhir ini, gue males nanya kenapa soalnya pasti lo jawab gak papa. Jadi kalo' lo gak mau cerita itu hak lo, gue mau ngajak lo jalan-jalan aja sih biar gak suntuk mulu tuh muka."

Jeva menatap Raven dengan skeptis. Ia jarang diperhatikan orang lain selain keluarganya. Satu saja teman ia tidak punya, ya buat apa? Kan sudah ada Java pikirnya.

"Kenapa lo lakuin itu buat gue?" Pertanyaan itu lepas begitu saja. Raven balik menatapnya dan mengernyitkan dahinya heran.

"Karena lo temen gue lah. Itu gunanya temen, kan?" Ia ragu dengan jawabannya setelah ditanyakan oleh Jeva. Maksudnya, itu hal yang lumrah seorang teman menghibur saat ia sedang tidak baik-baik saja. Iya kan?

J.E.V.A [Tamat]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang