6

0 0 0
                                    

Pertemuan itu berakhir dengan tegang, tetapi ada benih harapan yang mulai tumbuh. Sangyeon dan Winwin tidak langsung setuju dengan proposal Dannia, namun mereka sepakat untuk menunda pertempuran, memberikan waktu bagi kaum Serigala dan Vampir untuk mempertimbangkan usulan tersebut. Itu sudah lebih dari yang Dannia harapkan, dan dia tahu ini adalah langkah pertama yang penting.

Setelah pertemuan itu, Dannia kembali ke Crimson Ridge, merasa lega tetapi juga khawatir. Waktu yang diberikan kedua pihak sangat terbatas. Jika tidak ada kesepakatan yang tercapai dalam beberapa minggu ke depan, kemungkinan perang besar akan kembali pecah, dan Dannia mungkin tidak bisa menghentikannya lagi.

Malam itu, ketika Dannia sedang bersiap untuk tidur, pintu rumahnya diketuk. Dengan hati-hati, ia membuka pintu dan menemukan Kun berdiri di sana, basah kuyup oleh hujan yang baru saja turun. Wajahnya terlihat serius, berbeda dari biasanya.

"Ada yang ingin kubicarakan," kata Kun tanpa basa-basi.

Dannia menyingkir, mempersilakan Kun masuk. Dia duduk di sofa, masih menatap Kun dengan penuh perhatian. "Apa yang terjadi?"

Kun duduk di seberangnya, ekspresi wajahnya sulit dibaca. "Aku masih tidak yakin tentang semua ini, Dannia. Perdamaian antara kaum Serigala dan Vampir tidak pernah terbayangkan. Tapi apa yang kamu lakukan di pertemuan tadi... mengubah cara pandangku."

Dannia mengangguk pelan. "Aku tahu ini sulit untuk dipercaya, Kun. Tetapi kita tidak bisa terus berperang selamanya. Akan selalu ada jalan lain jika kita mau mencarinya."

Kun terdiam sejenak sebelum melanjutkan. "Namun, ada satu hal yang belum kamu ketahui. Satu hal yang membuat perdamaian ini mungkin lebih rumit dari yang kamu bayangkan."

Jantung Dannia berdegup kencang. "Apa maksudmu?"

Kun menarik napas dalam-dalam sebelum berbicara lagi. "Kamu adalah pewaris terakhir dari darah kuno yang bisa membawa keabadian. Tapi darahmu juga memegang kunci untuk membuka kekuatan yang lebih besar, kekuatan yang bahkan tidak diketahui oleh kaum Serigala maupun Vampir."

Dannia menatapnya dengan mata terbelalak. "Kekuatan apa?"

Kun berdiri, mondar-mandir di depan Dannia. "Ada legenda kuno yang mengatakan bahwa darahmu tidak hanya bisa memberikan keabadian, tetapi juga bisa menghancurkan kedua kaum. Jika darahmu dikorbankan di tempat yang benar—di altar kuno yang tersembunyi di tengah hutan—kekuatan besar akan dilepaskan. Kekuatan yang bisa mengakhiri kedua ras kita dalam sekejap."

Dannia terdiam, merasakan hawa dingin merayap di tulang punggungnya. "Jadi, mereka tidak hanya menginginkan keabadian. Mereka juga bisa menghancurkan semuanya?"

Kun mengangguk pelan. "Itu sebabnya kamu harus sangat berhati-hati, Dannia. Ada banyak yang berpura-pura mendukung perdamaian, tapi mereka mungkin memiliki rencana lain—mereka mungkin ingin menggunakanmu untuk memicu akhir dari semua ini."

Dannia berdiri, merasa bingung dan marah. "Kenapa kamu tidak memberitahuku sebelumnya? Kenapa semua ini baru kuketahui sekarang?"

Kun menatapnya dengan pandangan yang dalam. "Karena aku sendiri tidak yakin sampai sekarang. Legenda itu hanya cerita di kalangan Vampir kuno, sesuatu yang bahkan tidak dipercayai oleh semua orang. Tapi setelah apa yang terjadi di hutan beberapa malam yang lalu, aku mulai menyadari bahwa mungkin ada kebenaran dalam legenda itu."

Hening menyelimuti ruangan. Dannia merasakan beban yang semakin besar di pundaknya. Tidak hanya hidupnya yang terancam, tetapi nasib dua kaum yang berseteru juga ada di tangannya. Apakah dia bisa mempercayai Younghoon dan Kun? Apakah mereka benar-benar ingin perdamaian, atau mereka hanya ingin memanfaatkannya untuk tujuan tersembunyi mereka?

"Apa yang harus kulakukan sekarang?" tanya Dannia akhirnya, suaranya terdengar lelah.

Kun mendekat, menatapnya dengan serius. "Kamu harus menemukan altar itu sebelum mereka melakukannya. Jika mereka menemukannya lebih dulu, tidak akan ada lagi jalan untuk berdamai. Pertempuran akan berakhir dengan kehancuran total."

Dannia mengangguk pelan, meskipun dalam hatinya masih ada banyak pertanyaan yang tak terjawab. Dia tahu bahwa dia harus bergerak cepat—waktu tidak berada di pihaknya.

Kun berdiri, siap untuk pergi. "Aku akan membantumu sebanyak yang aku bisa. Tapi ingat, ada banyak yang mengawasi setiap gerakanmu. Jangan mudah mempercayai siapa pun, bahkan aku."

Setelah Kun pergi, Dannia duduk di sofa, memikirkan semua yang telah terjadi. Dia merasa semakin jauh dari hidup normal yang pernah ia miliki. Sekarang, dia bukan hanya seorang gadis biasa. Dia adalah kunci untuk perdamaian—atau kehancuran.

Di luar, hujan turun dengan deras, seolah mempertegas bahwa badai besar masih menunggu di depan.

---

Pagi berikutnya, Dannia bersiap untuk perjalanan yang akan mengubah segalanya. Dengan hati-hati, dia mengumpulkan perbekalan dan persiapan. Dia tahu bahwa ini akan menjadi perjalanan panjang dan penuh bahaya. Tetapi apa pun yang terjadi, dia harus menemukan altar itu—dan memastikan bahwa darahnya tidak digunakan untuk menghancurkan dunia yang ia kenal.

Ketika matahari baru mulai terbit di atas Crimson Ridge, Dannia memulai langkah pertamanya menuju nasib yang tak terhindarkan. Perang mungkin belum berakhir, tapi dia yakin, dalam hati, bahwa dia bisa mengakhirinya dengan caranya sendiri.

Blood and DarknessTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang