5

0 0 0
                                    

Dannia berdiri tegak, meskipun hatinya masih dipenuhi ketakutan dan keraguan. Dia menatap kekuatan-kekuatan besar yang ada di hadapannya—Serigala dan Vampir, dua kekuatan purba yang selama ini mengendalikan nasibnya dari bayang-bayang. Tapi malam ini, dia bertekad untuk mengambil alih hidupnya.

Hujan turun semakin deras, mengguyur medan yang akan segera menjadi arena pertempuran sengit. Di antara kilatan petir yang menyambar langit, suara geraman serigala dan dengingan tajam taring vampir mengisi udara. Tidak ada jalan untuk mundur.

Dengan langkah pelan, Dannia mulai berjalan ke tengah medan, di antara kedua pihak yang saling berhadapan. Tatapan tajam dari Younghoon dan Kun terus mengawasinya, sementara kelompok mereka masing-masing bersiap menghadapi pertempuran yang tak terhindarkan. Namun, Dannia tahu apa yang harus dia lakukan.

"Kalian semua mengira aku adalah kunci untuk mengakhiri perang ini," katanya, suaranya terdengar jelas meskipun dihantam derasnya hujan. "Tapi kalian salah. Perang ini tidak bisa diakhiri hanya dengan satu orang, tidak dengan darahku, dan tidak dengan kematian."

Semua mata tertuju padanya, dan sejenak, waktu seolah-olah berhenti. Bahkan serigala-serigala yang biasanya liar, berdiri diam, seakan menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Jika kalian ingin kedamaian, kalian harus menghentikan pertarungan ini sekarang," lanjut Dannia dengan tegas. "Bukan karena darahku, tapi karena kalian memilihnya."

Kun menatapnya dengan tatapan penuh rasa ingin tahu, sementara Younghoon tampak gelisah. "Dannia," serunya, "mereka tidak akan berhenti. Perang ini sudah berlangsung terlalu lama. Jika kamu tidak memilih, mereka akan memaksa."

Dannia tersenyum samar, tetapi matanya penuh dengan keteguhan. "Aku sudah memilih, Younghoon. Aku memilih jalan damai."

Sekelompok serigala melangkah maju, menggeram dengan intensitas tinggi, namun sebelum mereka bisa menyerang, Dannia mengangkat tangannya. Ajaibnya, entah bagaimana, makhluk-makhluk itu berhenti. Vampir-vampir juga tampak ragu-ragu, seolah merasakan ada sesuatu yang berubah di dalam medan energi sekitar mereka.

"Keajaiban darahku bukanlah untuk memberi kalian kekuatan," Dannia berkata pelan, suaranya penuh kepercayaan. "Darahku membawa kedamaian, dan aku menolaknya digunakan untuk perang."

Detik berikutnya, sesuatu yang tak terduga terjadi. Cahaya lembut memancar dari tubuh Dannia, menyelimuti medan pertempuran. Serigala-serigala yang awalnya liar dan ganas perlahan mundur, dan vampir-vampir yang siap menyerang menurunkan senjata mereka. Semua makhluk itu, baik Serigala maupun Vampir, terpaku dalam kedamaian yang tiba-tiba melingkupi mereka.

Kun menatap cahaya tersebut dengan terkejut. "Bagaimana ini mungkin?" gumamnya.

"Aku tidak tahu bagaimana," jawab Dannia, "tapi aku tahu bahwa aku tidak akan membiarkan lebih banyak nyawa hilang sia-sia karena perang ini."

Younghoon melangkah mendekati Dannia, matanya penuh dengan emosi yang berbaur. "Dannia... apakah ini yang sebenarnya kamu inginkan?"

Dannia menatapnya dengan lembut. "Ya, Younghoon. Aku ingin dunia ini damai, tanpa ada yang harus dikorbankan."

Pertarungan yang seharusnya terjadi malam itu tidak pernah dimulai. Sebaliknya, di bawah hujan yang perlahan mereda, para makhluk Serigala dan Vampir pergi, membawa ketenangan yang baru saja mereka alami ke dalam hati mereka. Perang yang sudah berlangsung selama berabad-abad mungkin tidak sepenuhnya berakhir malam ini, tetapi itu adalah awal dari sesuatu yang baru.

Dannia memandang langit, menyadari bahwa meskipun banyak yang masih harus dihadapi, dia akhirnya telah menemukan jalannya sendiri. Dan kali ini, dia tidak sendirian.

Blood and DarknessTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang