Hening itu terasa menyesakkan, seolah seluruh alam menahan napas, menunggu keputusan Dannia. Younghoon dan Kun sama-sama terpaku, saling pandang, tapi kali ini bukan dengan kebencian atau keinginan untuk bertarung. Mereka menyadari bahwa pilihan Dannia akan menentukan lebih dari sekadar kemenangan satu pihak.
“Kamu tidak harus melakukan ini,” suara Younghoon pelan tapi penuh dengan ketegasan. “Kita bisa menemukan jalan lain, Dannia. Ada cara lain yang tidak melibatkan pengorbananmu.”
Namun, Dannia tahu jauh di dalam hatinya bahwa tidak ada cara lain. “Jika aku tidak melakukan ini, perang akan terus berlangsung, dan banyak yang akan mati. Serigala, Vampir, manusia... tidak ada yang akan selamat dari kehancuran ini.” Dia menatap Younghoon dengan penuh rasa terima kasih. “Kamu sudah melindungiku selama ini, tapi sekarang saatnya aku melindungi kita semua.”
Kun memandang Dannia dengan tatapan yang lebih lembut dari biasanya. “Kamu benar-benar akan melakukannya? Menyegel kekuatan itu selamanya, bahkan jika itu berarti kamu harus... mati?”
Dannia mengangguk. “Aku tidak bisa membiarkan perang ini terus berlanjut. Dan jika darahku adalah kunci untuk mengakhiri semuanya, maka aku akan menggunakannya. Tapi aku tidak akan memberikan kekuatan itu kepada siapa pun.”
Younghoon tampak gelisah. “Dannia, kamu tidak bisa mengambil keputusan ini sendirian. Kita bisa memikirkan ulang semuanya. Mungkin ada cara untuk menyelamatkanmu dan tetap menghentikan perang.”
Kun menghela napas panjang, matanya kembali tertuju pada Dannia. “Sebuah keputusan yang mulia, meski penuh risiko. Tapi, jika ini yang kamu inginkan, aku tidak akan menghalangi. Namun, jangan berpikir bahwa semua akan mendukung keputusanmu. Ada pihak-pihak yang tidak akan membiarkan darahmu hilang begitu saja.”
Sebelum Dannia bisa menjawab, suara langkah kaki berat terdengar dari balik hutan. Sangyeon muncul, diikuti oleh lebih banyak Serigala yang bersiap untuk bertarung. Matanya menyala penuh amarah saat melihat kelompok Vampir di dekat Dannia. “Apa yang terjadi di sini? Kenapa kalian masih membiarkan dia hidup?” tanya Sangyeon dengan suara geram, matanya tertuju tajam pada Kun.
Younghoon segera maju ke depan, menghadang Sangyeon. “Dia bukan musuh kita, Sangyeon. Dannia berencana untuk menghentikan semuanya, menyegel kekuatan itu selamanya. Kita harus mendukungnya.”
Namun, Sangyeon tidak tergerak. “Kekuatan itu tidak bisa disegel. Itu hanya cerita yang dibuat-buat oleh mereka yang tidak memahami sejarah kita. Satu-satunya cara untuk menghentikan perang ini adalah mengakhiri Vampir dan memastikan darahnya jatuh ke tangan kita, kaum Serigala.”
Ketegangan semakin meningkat. Di sisi lain, Vampir juga tidak tinggal diam. Hendery dan Ten sudah bersiap, tatapan mereka waspada terhadap setiap gerakan dari kelompok Serigala. Pertempuran tampak semakin tak terhindarkan.
“Tidak!” Dannia berteriak, menarik perhatian semua orang. “Aku tidak akan membiarkan salah satu dari kalian menggunakan darahku untuk kekuatan. Jika kalian tidak bisa bekerja sama, maka aku akan melakukan ini sendiri.” Dia melangkah maju, berdiri di antara kedua kubu yang siap bertarung.
“Aku punya satu permintaan,” lanjutnya, menatap masing-masing kelompok dengan tegas. “Biarkan aku pergi ke altar itu sendirian. Tidak ada yang akan mengikutiku. Tidak Serigala, tidak Vampir. Ini adalah keputusan yang harus aku buat sendiri.”
Sangyeon mendengus. “Itu tidak mungkin. Bagaimana jika kamu berpihak pada mereka di saat terakhir?”
Kun, yang selama ini lebih tenang, berbicara dengan suara yang tegas. “Kita harus percaya padanya. Tidak ada pilihan lain. Jika dia ingin menyegel kekuatan itu, kita tidak bisa menghalanginya. Jika dia memilih untuk memihak kita atau kaum Serigala, itu adalah kehendaknya.”
Younghoon, yang sejak awal selalu mendukung Dannia, melangkah ke depan. “Aku akan memastikan tidak ada yang mengganggumu. Aku akan menahan mereka semua di sini.”
Dannia menatap Younghoon dengan penuh rasa terima kasih, sebelum berbalik dan melanjutkan perjalanannya ke altar yang terletak di tengah reruntuhan kuno. Dia bisa merasakan tatapan penuh keraguan dan ketidakpercayaan dari kedua kubu di belakangnya, namun kali ini, dia sudah membuat keputusan.
Langkah kakinya cepat namun mantap, menembus hutan yang semakin gelap. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, tapi karena dia tahu apa yang akan dia hadapi di depan. Di balik pepohonan, Dannia melihat bangunan kuno itu—altar, tempat segala keputusan besar akan dibuat. Di sana, segalanya akan berakhir atau dimulai.
Saat mencapai altar, Dannia berdiri di hadapan batu besar yang terukir simbol-simbol kuno. Udara di sekelilingnya terasa berat, seolah kekuatan besar sedang menunggu. Dia mengangkat tangannya, membiarkan setetes darah jatuh di atas altar itu. Cahaya terang segera memancar dari batu tersebut, dan Dannia merasakan kekuatan mengalir di sekelilingnya, menyelimuti tubuhnya.
Dalam sekejap, Dannia menyadari bahwa segalanya tidak seperti yang dia bayangkan. Kekuatan ini tidak bisa disegel begitu saja. Itu adalah bagian dari dirinya, dari garis keturunan yang sudah ada sejak lama. Kekuatan itu ingin dipilih, ingin diputuskan siapa yang layak memilikinya.
Dannia menarik napas dalam-dalam. Dia tahu apa yang harus dia lakukan.
“Aku tidak akan membiarkan kekuatan ini jatuh ke tangan siapa pun. Ini adalah akhir dari semua konflik.” Dannia merasakan kekuatan itu menyatu dalam dirinya, dan dengan keputusan yang bulat, dia memilih untuk menghilangkannya dari dunia ini—selamanya.
Saat cahaya dari altar mulai meredup, Dannia merasa lega. Perang ini akhirnya selesai.
Dia membuka matanya, melihat sekelilingnya. Tidak ada yang berubah secara fisik, namun dia tahu bahwa sesuatu yang besar telah terjadi.

KAMU SEDANG MEMBACA
Blood and Darkness
Cerita PendekDi sebuah kota kecil yang terletak di pinggir hutan yang misterius, dua ras legendaris, vampir dan serigala, hidup dalam ketegangan abadi. Namun, hidup seorang gadis manusia yang tidak sengaja terseret ke dalam konflik mereka menciptakan cinta segit...