Di antara kelam bayang-bayang ia berdiri,
Terhimpit sesak yang tak jua sirna.
Suara tercekat, tak mampu bersemi,
Menguap bersama desau angin yang bergelora.
Rindu menitik di penghujung senja,
Menyisakan jejak lara yang kian menganga.
Harapan musnah, tak kuasa dicegah,
Hati terluka parah, menganga nestapa.
Ia rebah, tak mampu lagi tegak,
Menahan beban tubuh yang kian melemah.
Tangis pilunya menggema, memecah sunyi,
Namun tak mampu mengubah takdir yang membatu.
Tak berdaya, ia pasrah pada kuasa,
Menjalani peran yang telah digariskan.
Masa depan suram, sia-sia belaka,
Skenario telah tertulis, bukan kuasanya.
Pekanbaru, 01 Februari 2025 || 03.56 WIB
KAMU SEDANG MEMBACA
Tentang Rasa - PUISI
Poesía[Update mood boster] Semua berawal sejak aku tak bisa mengutarakan isi hati ku pada semua orang Hingga aku mengumpulkan nya dari kata menjadi kata-kata Dan.... Ini hanyalah sekelebat utaian rasa itu Tak berujung sebuah kisah melainkan sebuah karya S...
