Elano : 10

8.4K 249 9
                                        

Bukan tempat kerja yang sudah menjadi ekspektasi Zora kemarin, melainkan Lano membawanya ke sebuah rumah besar dan megah.

"Aku membeli rumah ini kak, apa kakak suka?" Tanya Lano. Mereka masih melihat-lihat isi rumah mewah ini.

Zora sama sekali tidak berminat menjawab pertanyaan itu. Ia melamun dengan tangannya yang ditarik Elano untuk menyusuri rumah ini. Isi pikiran Zora saat ini tengah berisik.

Kenapa Lano membawanya kesini? Apa ini rumah orangtuanya? Tetapi laki-laki itu tadi bilang kalau ia membeli rumah ini. Lalu apa hubungannya rumah ini dengan pekerjaan barunya? Apa Elano akan mempekerjakan dirinya sebagai asisten rumah tangga di rumah ini?.

Begitulah kira-kira isi pikiran Zora. Lamunan gadis itu tersadar saat Lano menguncang bahunya.

"Apa kakak berpikir akan menjauh dariku?"

"Iya, itu selalu gue pikirin biar bisa bebas dari lo"

"Kakak kan miskin, pengangguran pula. Aku disini tuh buat bantu kakak. Kakak boleh minta apa saja padaku, kuras semua hartaku kak, tapi jangan meminta untuk pergi dariku"

"Gue pengangguran juga salah lo ya anjing"

Lano menampar pelan mulut Zora menggunakan segebok uang "tutup mulut nakalmu kak" ucapnya. Ia melanjutkan jalannya dengan tangan yang ia satukan dibelakang punggung nya.

Uang itu jatuh berceceran begitu juga dengan harga diri Zora. Apa maksud laki-laki itu? Mentang-mentang ia kaya dan bisa seenaknya pada dirinya. Air mata Zora jatuh. Ia mengusapnya kasar. Memang, ucapan orang kaya selalu menyakitkan.

Tapi tidak semuanya.

Zora diam mematung. Ia kesal dengan perlakuan Elano. Gadis itu berlari menuju pintu keluar, namun pintu itu tidak bisa dibuka. Elano menguncinya dan mengambil kunci itu saat mereka memasuki rumah besar ini.

"See! Kakak tidak akan bisa pergi dariku, aku sudah berpikir sangat jauh supaya kakak tidak mempunyai celah untuk pergi. Pintar kan aku?"

Zora menstabilkan nafasnya. Ia harus banyak bersabar menghadapi sifat Elano. Pintu terkunci dan ia tak bisa keluar. Zora menghampiri Elano yang tengah tersenyum kemenangan.

"Anak baik, kita belum menjelajahi semua isi rumah ini lho kak, kakak harus lihat bagian terbaik dari rumah ini"

Mereka kembali berjalan lalu berhenti tepat pada sebuah pintu kayu berwarna putih. Di pintu itu juga terukir sebuah kata bertuliskan"baby's room" yang dibaluri dengan cat berwarna emas.

"Pintu ini menjadi saksi masa depan kita saat kakak mengandung anakku nanti" ucap Elano.

"Ini adalah bagian favorit nya kak, bahkan jika aku tidak memikirkan mental kakak, aku bisa menghamili kakak saat ini juga" lanjutnya. Elano menatap Zora dengan alisnya yang terangkat satu sambil tersenyum miring.

"Lo benar-benar gila Elano, sudah berapa lama lo terobsesi sama gue?" Tanya Zora.

"Emm.. sekitar empat tahun lalu mungkin. Kakak tau? Aku sakit hati banget saat kakak nolak cintaku. Tapi itu tidak dihitung menolak karena kakak hanya malu mempunyai kekasih sepertiku. Makanya aku mengubah semuanya untuk membuat kakak jatuh cinta lagi padaku" ucapnya panjang lebar. Zora menghembuskan nafasnya. Dicintai sama satu orang secara tulus saja ia tidak pernah. Lah ini, sekali dicintai malah orang itu sangat terobsesi padanya. Bahkan obsesinya itu sudah berjalan empat tahun!

"Lo denger ini baik-baik! Korek telinga lo yang hampir tuli itu! Kalau selamanya gue gak akan cinta sama lo Elano "

Zora pergi dengan menghentakan kakinya. Persetan dengan pintu yang terkunci, ia akan memecahkan kaca jendela sampai tangannya berdarah sekalipun.

Ia kira Elano mencintai hanya sebatas suka padanya tetapi laki-laki itu cinta karena obsesi menakutkan itu. Zora tidak menyangka hidupnya akan seperti drama novel romansa gelap.

Kemana saja Zora tidak tahu tentang obsesi ini? Bahkan laki-laki itu sudah tergila-gila padanya sedari ia duduk di bangku SMP.

Zora tidak mengerti jalan pikiran Elano. Laki-laki itu sudah ia tolak dari tiga tahun lalu, tapi kenapa dia balik lagi dan membuat hidup Zora berantakan? Sudah tinggal sebatang kara, apartemen nya pun terbakar dan ia terpaksa tinggal dengan laki-laki gila itu! Kini malah dibuat sulit menghadapi tingkah Elano yang membuatnya harus selalu waspada.

Zora mengambil kursi lalu ia pukulkan pada jendela kaca rumah ini. Zora sudah beberapa kali memukulkan benda berat itu namun kaca ini sama sekali tidak pecah. Bahkan mengalami retak saja tidak.

"Arggg!!!" Teriak Zora sambil terus memukuli kaca itu dengan kursi.

Elano melihat gadisnya dianak tangga terakhir. Ia sedari tadi menahan tawanya saat melihat wajah Zora yang kesal, marah, dan takut menjadi satu. Dengan peluru saja tidak tembus apalagi dengan kursi kayu kecil itu.

Elano berjalan mendekati Zora yang masih memukuli kaca itu saat ia melihat tangan putih gadisnya memerah.

Laki-laki itu merebut paksa kursi kayu itu dari gadisnya lalu membuangnya asal hingga rusak karena Elano membantingnya.

Elano meraih tangan gadisnya. Tangan mungil itu memerah akibat mengangkat kursi yang berat bagi gadisnya.

"Kan! Dibilangin masih gak mau nurut? Kakak itu lemah dan harus selalu bersamaku supaya senantiasa terjaga" ucapnya sambil menciumi tangan Zora.

Zora menarik paksa tangannya "najis banget lo sentuh!" Ucapnya galak.

"Mulai hari ini kita tinggal disini"

Zora menatap Elano tak percaya "gak! Gue bakal cari kerja-"

"Masalah uang kakak aku jatah tiap hari. Lima juta sehari? Kurang?"

Alis Zora menyatu, enteng banget ni cowok bilang kek gitu "Apasi? Gue mau hidup sendiri tanpa bantuan lo"

"Pilih hidup sendiri dengan orang suruhanku untuk selalu menghancurkan hidup kakak hingga mati atau memilih hidup bersamaku dengan jatah setiap hari?"

Zora suka uang! Tapi untuk hidup dengan Elano, itu benar-benar pilihan yang buruk!

"Lo mau gue mati? Katanya lo cinta sama gue"

"Tergantung, kalau kakak tetep gak mau nerima aku, aku bakal perkosa kakak sampai mati"

'gila ni bocah'

Ucapan Elano membuat Zora terdasar. Kalau ia tidak pernah menerima cinta laki-laki ini hidup Zora bakal bahaya. Tapi gimana? Orang namanya gak cinta ya gak bisa dipaksa. Pernah dengar kata-kata 'cinta datang karena terbiasa' Zora menghapus kata-kata itu dalam hidupnya saat bertemu kembali dengan Elano.

"Semua pilihan kakak akan selalu menguntungkan ku" ucap Elano.

Zora bingung. Pilihannya menentukan masa depannya. Kalau ia pergi, bakal di perkaos hingga mati. Tapi kalau ia memilih untuk bersama, itu tandanya Elano juga akan menjadi suaminya? Itu lumayan sih karena bisa memperbaiki keturunan dan perekonomian Zora melambung pesat setinggi langit. Tapi batinnya yang kena mental nanti karena ia terpaksa.

"So? What's your answer, dear?"

.
.
Next..

Elano (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang