Pagi ini Zora sudah siap dengan seragam sekolahnya. Setelah seminggu berlalu akhirnya ia sembuh dari sakitnya dan dirinya sangat bersemangat untuk berangkat menuntut ilmu.
"Jangan cantik-cantik, kalo bisa pake masker aja"
"2020 kan udah lewat, masa pake masker lagi sih"
"Emang pake masker buat nyegah virus doang?
"Aku sudah benar-benar sembuh Lano"
"Pake masker itu buat nutupin kecantikan kakak, Lano gak suka milik Lano ditatap ma mata-mata pendosa"
'kalo ngomong udah kek yang paling suci aja' batin Zora.
Zora segera menurut. Kalau diladenin mulu nanti mereka malah telat. Elano tersenyum melihat kekasihnya yang penurut meskipun wajah cantik itu menjadi kusut karena kesal padanya.
Sampai disekolah, Zora dengan senyum cerianya menyapa para teman di kelasnya. Vio dan Mae pun seperti biasa, heboh bila melihat sahabatnya itu telah kembali mengisi absen yang sudah lama kosong.
Gadis itu pun duduk di kursinya dan dihadapannya ada kedua sahabatnya, tak lupa ia melepas masker yang menganggu pernafasannya itu lalu meletakkannya diatas meja.
Karena Zora menghilang seminggu, seluruh kejadian disekolah ini selama Zora tidak masuk, Mae dan Vio kompak menceritakannya secara detail. Padahal Zora tidak terlalu memperdulikan kabar sekolah ini. Ia masuk hanya niat belajar untuk memperbaiki nilai-nilainya yang berada dibawah KKM saja. Tetapi dengan antusiasnya ia mendengarkan kedua sahabatnya itu bercerita.
"Kemaren ada pengumuman, katanya bulan depan kita ikut ngerayain kelulusan kakak kelas" ucap Mae.
"Nah iya tuh, temanya kerajaan gitu deh. Gue udah beli gaunnya di olshop, udah co yang warna biru. Jangan ngembarin kalian!" Sambung Vio tegas. Ia tidak suka bila ada orang yang mengikuti gaya nya meskipun hanya warna saja.
"Gue sih warna kuning, lo warna apa Ra? Ada pengecualian, warna putih khusus buat kakel aja, seangkatan sama adek kelas harus pake warna selain putih"
"Gak tau, besok temenin gue beli ya" ucap Zora.
"Di olshop aja Ra" saran Vio.
"Males ah, disini kan ada butik dres cantik, kesitu aja"
Di tengah-tengah keasikan mereka. Samuel datang dan langsung menggebrak meja Zora. Mereka bertiga pun terkejut akan tingkah Samuel tadi.
Vio berdiri dan langsung sewot karena Samuel bertingkah tidak sopan, ia sangat tidak suka bila dirinya bercerita tetapi orang lain malah memotong ucapannya itu seenak jidat.
"Maksud lo apa sih anjing dateng-dateng kagak jelas!" Marah Vio.
Samuel tidak menjawab. Ia melemparkan tatapan tajam pada Vio. Vio yang sudah satu kelas lama dengan Samuel pun sama sekali tidak takut dengan tatapan itu. Ia malah menampar pelan pipi Samuel karena tingkahnya tadi.
Seakan tidak terima, Samuel melayangkan balik tamparan yang sangat keras kepada Vio hingga membuat gadis malang itu tersungkur dengan hidung yang berdarah dan juga sudut bibirnya yang robek.
Semua orang yang berada di kelas ini terkejut dan beringsut mundur. Mae sangat terkejut melihatnya, ia segera menolong Vio yang terluka.
Zora pun tak kalah terkejutnya, ia berdiri hingga menutup mulutnya yang ternganga karena tingkah keterlaluan Samuel.
Samuel yang marah. Kembali menatap Zora. Ia berjalan mendekati gadis itu. Zora menatapnya dan langsung menampar pipi kiri Samuel keras. Ia bermaksud memberi balasan karena Samuel sudah melukai sahabatnya.
Samuel hanya memalingkan wajah, tamparan Zora hanya membekas merah di pipinya. Ia tetap mendekati gadis itu, tapi Zora berjalan mundur karena raut wajah Samuel yang tidak bersahabat.
Guru datang karena sudah jam masuk pelajaran. Memisahkan keributan yang terjadi di kelas ini. Samuel menatap Zora lama lalu pergi keluar tanpa memperdulikan seluruh pasang mata yang menatapnya.
Pikiran Zora berkecamuk. Untuk apa Samuel tiba-tiba bertingkah seperti itu? Kenapa Samuel tega menampar Vio hingga membuatnya terluka? Kenapa dari tatapan Samuel tadi terlihat seperti marah yang sudah terpendam dari lama? Kepala Zora pusing memikirkan itu semua.
Mae dan Zora meminta izin pada guru yang nengajar untuk membawa Vio menuju UKS supaya segera diobati. Sang guru pun mengizinkan karena melihat semdiri kondisi Vio yang prihatin.
Setelah meminta tolong pada para anggota UMR yang berjaga, Zora dan Mae menunggu diluar UKS. Mae meminta penjelasan dari Zora tentang sifat Samuel.
"Sumpah gue beneran ga tau Mae, gue kan baru masuk"
"Iya juga, selama lo absen dia selalu pendiem di kelas. Biasanya dia gabung ma sirkelnya tapi, sirkelnya malah dia cuekin, aneh banget anjir"
"Gue ngrasa ga enak sama Vio"
"Dah lah, ini semua bukan salah lo, lo kan ga tau apa-apa, emang Samuel aja yang freak"
Zora mengulum bibirnya. Sifat Samuel tadi benar-benar aneh. Dari penjelasan Mae, Samuel menjadi pendiam saat dirinya tidak masuk sekolah, ini sangat aneh. Zora tahu betul sifat Samuel yang suka sekali mencari perhatian, entah itu ke guru atau bahkan teman sekelasnya.
Apa Zora harus menanyakan hal ini secara langsung pada Samuel? Tetapi Zora takut, apa iya dirinya harus mengajak Elano untuk melindunginya? Tapi lagi-lagi itu akan semakin membuat keributan besar karena Lano pasti belum bisa berdamai dengan Samuel yang menyebabkan dirinya kena DBD 7 hari 7 malam kemarin.
Tidak mungkin juga Zora membawa Mae, bisa-bisa ia merasakan rasa bersalah ke dua kalinya nanti. Kalau mengajak orang lain, pasti mereka akan cerita kesana-kemari dan Zora menjadi buah bibir di sekolah ini.
Zora menghembuskan nafasnya. Ia duduk dengan badan condong ke depan dan tangannya memegang kepalanya, meremas rambut lurus itu erat. Pikirannya sangat buntu.
"Udah Ra, ini bukan salah lo" Mae menenangkan Zora untuk tidak menyalahkan dirinya sendiri.
Usapan tangan Mae pada punggungnya sama sekali tidak membantunya untuk mendapatkan jalan keluar. Bagaimanapun ia harus menemui Samuel dan meminta penjelasan tentang ini semua. Gara-gara Samuel yang lagi mood swing, Vio menjadi korbannya hingga sudut bibirnya robek.
Vio yang malang.
>>>
Zora kembali ke kelas karena Mae yang menyuruhnya. Mae menemani Vio yang tengah berbaring di ranjang UKS ini, tidak mungkin kan Mae membiarkan Zora ketinggalan pelajaran lagi setelah gadis itu absen selama seminggu.
Di kelas pun Zora tidak melihat keberadaan Samuel. Entah kemana laki-laki yang gampang sekali berubah mood itu pergi, Zora tidak peduli.
Jam istirahat datang, Elano langsung menerobos masuk ke kelas Zora. Ia mengajak gadis itu untuk ke kantin bersama. Zora mengiyakan tetapi tidak makan ditempat, karena ia ingin membawakan makanan juga untuk kedua sahabatnya.
Disepanjang jalan pun Lano sangat penasaran, kenapa mereka makan di UKS. Zora menceritakan semua kejadian itu, tentu saja itu membuat Lano marah. Samuel tidak ada hentinya berbuat ulah. Kali ini, apa rencana laki-laki itu untuk merebut Zora darinya? Apa itu dengan cara membunuh kedua sahabat gadisnya?.
Sampai di UKS, Vio sudah membaik. Semua lukanya sudah diobati. Zora pun mengeluarkan makanannya dan mereka makan bersama termasuk Elano yang sangat manja pada Zora hingga meminta gadis itu untuk menyuapinya.
Selesai makan, dilanjutkan dengan mengobrol ringan dan tak lupa meng-gibah i Samuel yang bertingkah aneh. Elano hanya diam menyimak para gadis itu melakukan dosa. Ia mengambil tangan Zora lalu meletakkannya pada pundak kirinya sendiri. Ia pun menyenderkan kepalanya pada pundak kekasihnya.
Meskipun kesulitan karena postur Zora yang sangat pendek, ia tetap bersandar di pundak gadisnya itu.
.
.
.
Next..
KAMU SEDANG MEMBACA
Elano (End)
Novela JuvenilFollow sebelum membaca!!!!!!!!!!!!! Pernah tidak membully seseorang sampai membuatnya trauma, tetapi orang itu malah suka dan bahkan terobsesi kepadamu? Itu yang dialami Zora. Lano yang merupakan anak tunggal berpenampilan cupu yang sering Zora bull...
