Elano 23

4.2K 105 2
                                        

Malam minggu. Waktu yang tepat untuk orang berpacaran. Untungnya malam ini tidak hujan, yang berarti doa para jomblo tidak dikabulkan.

Elano mengajak Zora untuk pergi ke salah satu pusat perbelanjaan di kota ini. Ia akan menemani gadis itu kemanapun dia pergi.

Dimulai dari toko pertama. Gadisnya ingin membeli es krim untuk makanan pembuka. Toko kedua berisi sebuah tas, gadis itu membeli satu tas yang harganya sangat mahal. Lumayan untuk jalan-jalan kan?

Zora kembali mengajak Elano untuk memilih baju couple. Ia ingin kaos sedangkan Lano ingin hodie. Alhasil mereka membeli keduanya.

Waktu masih pukul delapan malam. Masih terlalu sore, mereka memutuskan untuk menonton bioskop terlebih dahulu lalu dilanjutkan dengan makan disebuah restoran.

Malam ini Zora sangat bahagia. Ternyata, mengeluh tentang tugas pada Elano tidak begitu buruk. Kekasihnya itu langsung membawanya ke pusat perbelanjaan ini untuk menjernihkan pikiran. Alhasil, tugasnya pun tidak sempat ia kerjakan. Gapapa lah, toh besok libur.

Setelah pulang dari pusat perbelanjaan itu. Elano masih mau bermanja pada Zora.

Zora membuka belanjaannya di dalam kamar. Elano pun turut menemaninya. Laki-laki suka sekali bermain dengan rambut panjangnya.

Selesai membereskan semuanya. Zora membuka sampul plastik pada novel yang baru saja ia beli. Novel ini keluaran terbaru dari penulis favorit nya.

Zora yang membaca novel sedikit tidak fokus karena Elano yang nakal. Terkadang laki-laki itu bergelayut di tangan kanannya, sesekali karena gabut jari Lano menoel payudara Zora yang tertutup bra dan piyama.

Zora berkali-kali juga menyingkirkan tangan besar itu. Tetapi tetap saja, Elano tidak mau berhenti.

"Lano, sekali lagi kamu nakal, aku bakal marah!" Ucap Zora serius.

"Alah by.. dikit lho itu, ga sampe kek gini.." Lano bergerak cepat meremas payudara kekasihnya. Zora yang terkejut segera menjauhkan diri. Ia menatap Lano tak percaya dengan mulutnya yang terbuka lebar.

Novel yang ia baca pun terlempar entah kemana. Elano dengan wajah tak berdosanya memberikan cengiran pada Zora.

Gadis itupun kesal, ia memukul lengan kanan Lano keras.

"AKHH..!!!" Lano berteriak karena kesakitan. Ingat kan? Bekas luka tembakan semalam belum sepenuhnya kering. Itu masih basah dan Lano hnya menempelkan plester karena ia pikir, cukup dengan plester pasti darahnya tersumbat sehingga tidak bisa mengalir lagi.

Elano memegangi bekas tembakan semalam, ia merasakan basah ditangannya, mungkin darahnya keluar lagi.

Zora merasa bersalah, ia hanya menepuk keras dan biasanya Lano tidak bereaksi apa-apa.

Kali ini reaksi kekasihnya itu berbeda. Zora ingin melihat bekas pukulannya itu namun Lano dengan sigap membalikkan badan. Menjauhkan lengannya dari Zora.

"Maaf yaa, sakit gak? Sini aku lihat dulu"

Lano menggeleng "enggak usah, gak sakit kok" jawabnya bohong.

Zora membulatkan matanya saat melihat sebuah darah mengalir pada tangan kanan kekasihnya itu. Ia menjambak rambut Elano kuat sehingga Elano terjatuh dengan kepala tepat mendarat di dada kekasihnya.

Zora membuka kaos ketat di lengan Lano. Ia melihat sebuah plester yang sudah tidak melekat karena basah oleh darah.

Darah segar itu terus mengalir keluar. Zora yang panik segera menghubungi dokter keluarga ini. Tidak sampai setengah jam, dokter itu datang sambil membawa koper kecil berisi peralatan medisnya.

Elano diobati diruang tamu. Dokter itu pun memarahi Elano karena tidak segera membawa lukanya ke rumah sakit. Elano sunguh keras kepala.

"Ngapain? Lagian pelurunya sudah keluar kok" ucapnya jujur.

Ia tidak bisa menyembunyikannya lagi sekarang. Zora tau luka itu karena peluru, itu pun karena dokter sialnya ini memberitahu gadisnya.

Elano tidak sepenuhnya bohong. Ia benar-benar mengeluarkan peluru itu dari lengannya hanya dengan menggunakan jari telunjuk dan ibu jari saja. Ngilu sih tapi bagi Lano itu sudah biasa.

Dokter itu memberikan obat, ia juga melilitkan perban pada luka Lano. Setelah dokter itu pergi, Zora berdecak pinggang didepan Lano yang duduk di sofa.

Lano hanya memperlihatkan giginya yang rapih, ia menunduk karena Zora sudah pasti akan mengomelinya. Jika dilihat dari jauh, Lano seperti seorang anak yang akan dimarahi ibunya.

"Berantem sama siapa? Aku mau kamu jujur"

"Enggak kok, ini kecelakaan" jawabnya.

"Mana ada kecelakaan dengan luka tembakan seperti itu? Kamu jatuh terus tiba-tiba ada peluru nembus lengan kamu gitu?"

"Aku udah jujur sayang..."

"Jujurmu gak logis Lano, pasti dengan Samuel kan?"

Kekasihnya itu hanya diam. Tebakan Zora sudah pasti benar. Elano menemui Samuel tanpa sepengetahuannya.

"Udah apa Lano, kalian mempermasalahin apa sih? Liat nih, lengan kamu korbannya kan" omel Zora.

Justru yang membuat mereka bermusuhan hingga saling bunuh adalah karena gadis itu sendiri. Elano tetap diam sambil terus memperhatikan wajah Zora yang cantik.

Elano tersenyum melihat wajah itu berubah-ubah. Kadang terlihat marah kadang juga terlihat panik. Belum lagi bibirnya yang sedikit tebal itu terus saja bergerak, mengeluarkan kata-kata yang berharap masuk ke pendengaran Lano. Tetapi laki-laki itu malah terlihat sama sekali tidak mendengarkan.

Sedetik kemudian Elano menyatukan bibirnya pada bibir Zora. Menyesap dalam lalu melumat pelan. Zora yang terlejut pun lama-lama terbuai juga. Ciuman Lano tidak menuntut, ia suka ciuman lembut seperti ini.

"Udah yaa jangan marah lagi, kan Lano udah minta maaf" ucap Lano kemudian sambil memasang ekspresi wajah yang memelas.

Zora menghembuskan nafasnya. Ia menyentil dahi Lano pelan lalu mengangguk. Memaafkan laki-laki itu dan memintanya untuk tidak berkelahi lagi dengan Samuel.

Waktu msudah menunjukkan pukul 11 malam. Mereka pergi ke kamar masing-masing untuk tidur. Zora membuka ponsel terlebih dahulu untuk berbincang ringan dengan kedua sahabatnya.

Vio dan Mae tidak bisa menemaninya berbelanja baju untuk pesta kelulusan minggu depan karena Vio masih sakit dan Mae yang ada keperluan keluarga mendadak.

Zora akan meminta Lano untuk mengantarnya besok sekalian mencarikan baju untuk laki-laki itu juga. Zora tidak sabar akan pesta kelulusan nanti. Ia akan berdandan semaksimal mungkin dan bersikap elegan seperti para karakter di kerajaan-kerajaan yang ia lihat di drama.

Sedangkan Lano. Ia menatap perban pada lengan kanannya. Baju tipis yang ia pakai pun terlepas di badan penuh otot itu. Malam ini entah kenapa suhunya panas bagi Elano. Jadi ia bertelanjang dada sambil terus memandang lukanya.

Bulan bersinar biru di awan. Elano melirik bulan itu. Matanya yang tajam semakin tajam saat pemikirannya merencanakan sebuah balas dendam.

Elano yakin Samuel akan mendapatkan hukuman yang sangat berat atas luka ini. Elano berbaring diatas kasurnya. Ia menutup gorden lalu mematikan lampu. Kamar dengan cat hitam ini semakin gelap, bahkan tidak bisa melihat apa-apa. Elano memejamkan mata. Ia akan tidur dan besok ia terbangun dengan senyuman ceria hanya untuk kekasihnya. Clazora Trexianna.

.
.
Next..

Elano (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang