Beberapa jam sebelum Elano menemukan keberadaan Samuel. Laki-laki itu saat ini tengah bergulat dengan isi kepalanya. Saat mencium Zora tadi, ia mengingat kebaikan gadis itu ketika menunggunya waktu dirinya koma berbulan-bulan dirumah sakit. Meskipun tidak sadar tetapi dirinya bisa mendengar dan merasakan kehadiran Zora disampingnya.
Samuel melepaskan bajunya hingga menyisakan celana panjangnya saja. Tubuhnya terasa panas karena pikiran kotornya. Kepalanya ia benturkan berkali-kali pada dinding apartemen untuk menghilangkan pikiran kotornya.
Ia pergi keluar menuju unit sebelah untuk meminta pertolongan. Kebetulan sekali, yang menempati unit itu adalah seorang gadis yang masih muda. Mungkin dia berkuliah disekitar sini.
"Aku butuh bantuan mu" ucapnya sopan. Gadis itu pun hanya terdiam, ia menatap Samuel dari atas hingga bawah. Siapa yang tidak terkejut saat seorang laki-laki menggedor pintu apartemen malam-malam dengan keadaan bertelanjang dada? Perut berotot milik Samuel terpampang jelas didepan matanya.
Gadis itu mengangguk. Ia menikuti Samuel dari belakang. Dirinya pun menatap bingung pada Zora yang tertidur. Isi pikirannya diluar nalar sekarang, karena sering membaca novel pembunuhan.
"Ganti bajunya, dengan ini.." Samuel memberikan sebuah dress pada gadis itu. Ia menyuruhnya untuk menganti pakaian Zora supaya lebih nyaman. Kalau ia ganti sendiri, takutnya malah nafsu dan memperkosa Zora yang tidak sadarkan diri.
Gadis itu mengangguk. Samuel berjalan keluar menuju balkon. Ia merokok sambil bertelanjang dada di malam yang dingin ini.
Memang rencana awal ia ingin memperkosa Zora hingga gadis itu hamil lalu menikah dengannya. Dengan begitu, Zora akan meninggalkan Elano dan tidak punya pilihan lain selain bersama diriny. Tetapi pikiran itu lenyap saat ia melihat wajah Zora. Samuel mengingat semua kenangan baik yang gadis itu berikan padanya. Samuel tidak tega, ia memilik pergi dari pada memperkosa gadis itu.
Beberapa menit berlalu. Suara seorang gadis memangilnya dari belakang. Ia pun menoleh. Gadis itu bilang, dirinya sudah menganti pakaian Zora. Ia pamit karena ingin melanjutkan tugas kuliahnya.
Samuel menahannya sebentar. Ia meminta satu hal lagi, mungkin tidur dengan menggunakan make-up membuat Zora tidak nyaman. Ia meminta pembersih make-up pada gadis ini. Gadis itu pun mengangguk lalu pergi ke unitnya untuk mengambil barang yang diperlukan Samuel dan juga kapas.
Samuel menggantinya dengan dua lembar uang, lalu menyuruh gadis itu pergi. Tak lupa juga ia mengucapkan terimakasih.
Setelah kepergian gadis itu. Samuel kembali ke kamar Zora. Tangan kekarnya bergerak menuangkan pembersih itu ke sebuah kapas lalu mengusapkan secara perlahan pada wajah cantik Zora.
Matanya memandangi wajah gadis ini. Ia menahan sakit di hatinya. Setelah seluruh make-up terhapus, Samuel masih setia duduk disamping Zora yang terbaring karena obat yang ia suntikan.
Samuel tidak sepenuhnya gila. Ia masih memiliki perasaan waras yang menahannya untuk tidak melakukan hal lebih pada Zora.
Dari dulu ia sudah jatuh cinta pada gadis ini. Samuel berusaha keras supaya mereka bisa dekat, yaa walaupun sifatnya tidak menandakan sebuah kelembutan.
Ia memperingati Zora akan nilai. Dirinya juga meminta pada guru supaya bisa menjadi guru privat gadis itu. Yaa ini semua adalah alibinya supaya bisa lebih dekat dengan Zora.
Katakanlah Samuel bodoh tentang perasaan. Dirinya menyukai seorang gadis tetapi tidak bisa mendekatinya, bahkan sampai gadis itu sudah memiliki kekasih.
Hati Samuel sakit. Ia tidak terima kalau Zora dimiliki oleh orang lain. Ia bahkan sudah sedari lama menunggu gadis itu merasakan perasaannya. Namun apa? Zora sama sekali tidak mengetahuinya karena sifat Samuel yang keras kepadanya.
Zora hanya menganggapnya sebagai guru les privat atau teman sekelasnya. Hanya itu.
Samuel tidak bisa menyatakan perasaannya lewat perhatian lembut. Dirinya tidak bisa. Ia bahkan sudah dididik oleh ayahnya yang seorang jenderal di angkatan darat sedari kecil. Ibunya juga sangat tegas kepadanya. Di keluarganya, kelembutan hanya untuk mereka yang lemah dan diberi cobaan hidup yang berat. Samuel tidak pernah merasakan kelembutan perasaan orang lain kepadanya.
Hanya Zora. Gadis itu masih peduli saat dirinya koma. Saat sama sekali tidak ada orang yang menjenguknya. Bahkan, suara gadis itu bisa terdengar meski ia tidak sadar.
Makanya. Samuel berusaha keras menolak pemikiran kotor pada gadis itu. Dirinya selalu mengingat tentang kebaikan Zora. Tetapi ia menjadi kesal saat Elano berhasil membuat Zora masuk ke dalam perangkapnya.
Gadis yang selama ini ia perhatikan dari jauh. Gadis yang selama ini ia cintai dalam diam. Gadis yang selama ini selalu mengisi pikiran kotornya. Gadis yang selama ini ia ingat akan kebaikannya. Dan. Gadis yang selama ini ia inginkan menjadi miliknya.
Semuanya. Kisah hidup Samuel bahkan diisi dengan cara mendapatkan Zora. Samuel tidak ingin memaksa, ia menginginkan gadis itu secara tulus. Dari dua hati, bukan hanya satu. Tetapi keadaanlah yang membuatnya seperti ini.
Ia bahkan merasa bersalah saat dirinya menyuntikkan obat tidur itu. Ia pasti sudah menyakiti tangan putih Zora.
Samuel berjalan keluar. Ia menutup pintu kamar gadis itu, kemudian duduk disebuah sofa ruang tamu. Asap dari rokok yang ia bakar pun memenuhi ruangan ini. Samuel duduk sambil bersandar pada sofa. Tangan ia rentangkan ke samping lalu kepalanya ia dongak kan ke atas dengan bantalan diding sofa itu.
"Gue cinta lo Ra, gue sakit hati lo dimilikin orang lain. Tapi kenapa gue gak bisa nyentuh lo dan bikin lo jadi milik gue seutuhnya" ucap Samuel dengan nada putus asa.
Pintu diketuk tidak sabaran dari luar. Samuel membuka pintu itu dan tersenyum melihat Elano dengan nafas tak beraturan sebelum laki-laki itu mendorong keras tubuhnya dan menerobos masuk ke unit apartemennya.
Ia masih terus memandangi Elano yang mengacak-acak isi apartemennya. Ia sudah tau kalau laki-laki ini akan menyusul kekasihnya, jadi Samuel hanya diam saja tanpa menahannya.
Saat sampai pintu yang berisi Zora dibuka. Samuel mematikan rokoknya lalu mengambil sebuah pistol yang berada di balik sofa untuk ia kantongi. Jaga-jaga kalau Elano mengamuk dan akan membunuhnya.
Elano keluar dari kamar itu. Ia menatap Samuel tajam lalu berjalan cepat menuju Samuel berdiri. Samuel mengangkat kedua tangannya. Ia menatap Elano merendahkan.
Elano tidak terima dengan tatapan itu. Ia memaki terlebih dahulu pada Samuel sebelum berucap dengan nada marah.
"Lo apain milik gue!?"
.
.
Next..
Selamat tahun baru, maaf telat ngucapinya karena kesibukan dan kesehatan author🙏🏻
Doain cepat sembuh yaa, author lagi sakit karena kebanyakan makan seblak, sosis, pentol waktu tahun baru kemaren😭
Always be happy and take care of your health...
KAMU SEDANG MEMBACA
Elano (End)
Teen FictionFollow sebelum membaca!!!!!!!!!!!!! Pernah tidak membully seseorang sampai membuatnya trauma, tetapi orang itu malah suka dan bahkan terobsesi kepadamu? Itu yang dialami Zora. Lano yang merupakan anak tunggal berpenampilan cupu yang sering Zora bull...
