Elano : 19

5.1K 116 2
                                        

Malam ini Zora sama sekali tidak bisa tidur. Ia ingin sekali menyusul Elano yang marah mencari Samuel tetapi ia tidak tau dan ada dua bodyguard besar mengurungnya di kamar ini.

Waktu sudah menunjukan pukul tiga dini hari. Saking khawatirnya ia mengalami demam sekarang, tapi Zora tidak mau berbaring. Ia terus berada di balkon kamarnya sambil melihat gerbang tinggi yang menutup itu.

Tanpa selimut dan tanpa ganti baju. Tubuh Zora benar-benar menggigil. Mulutnya sudah membiru dan wajahnya pun sudah pucat. Ia tidak mau kembali ke dalam karena masih menunggu Elano. Zora khawatir laki-laki itu bertindak sangat jauh.

Terlihat dari arah gerbang. Sebuah mobil memasuki kawasan rumah mewah ini. Itu mobil Elano. Zora segera berlari ingin menghampiri kekasihnya itu, namun lagi-lagi para bodyguard ini masih menghalanginya.

"Aku ingin keluar menjemput tuan kalian!" Bentak Zora. Kedua bodyguard itu sama sekali tidak bergerak.

Nafas Zora memburu. Kepalanya mengalami sakit yang teramat sangat. Telinganya berdengung hingga suara disekitarnya sama sekali tidak terdengar. Badanya seolah-olah remuk dari dalam. Sungguh, baru kali ini ia merasakan sakit kepala yang sangat luar biasa seperti ini.

Sebelum kesadarannya benar-benar menghilang, Elano berlari menangkap tubuhnya yang sudah tak sadarkan diri.

Elano yang awalnya marah kepada Samuel pun sekarang teralihkan menjadi panik saat merasakan tubuh Zora yang sangat panas. Segera ia meletakkannya dengan perlahan pada atas kasur lalu menghubungi dokter keluarganya.

Saat dokter datang memeriksa, tangan Zora tidak pernah ia lepaskan. Ia beberapa kali mengecup dengan harapan Zora tidak mengalami sakit yang parah.

Dokter berkata. Karena suhu diluar sangat dingin apalagi ini musim hujan yang membuat keadaan disekitarnya lembab dan imun Zora yang melemah karena beberapa hal, seperti mempunyai masalah atau keterkejutan berlebih. Gadis itu mengalami DBD.

Elano terkejut mendengarnya. Betapa bodohnya ia menjadi kekasih gadis itu. Padahal dulu ia sudah berjanji untuk selalu mengontrol emosinya demi Zora. Tapi lihatlah sekarang! Emosi karena rasa cemburu itu membuat kekasihnya jatuh sakit.

Setelah dokter memberinya obat. Dokter itu menyuruh Elano untuk pergi dari kamar ini. Itu bertujuan supaya sang pasien mendapatkan istirahat total tanpa ada gangguan disekitarnya meskipun dalam keadaan tak sadarkan diri dan juga supaya Elano tidak tertular virus tersebut.

Elano mengecup dahi Zora sebelum pergi dari sana. Di ambang pintu ia mengucapkan beribu kata maaf dari mulutnya dengan nada pelan. Ia sangat merasa bersalah membuat Zora seperti ini.

>>>

Pagi ini Elano memakai masker untuk pergi ke kamar Zora sesuai anjuran dokter. Elano membawa sarapan untuk gadisnya. Kata pelayan yang merawat Zora tadi pagi, gadis itu sudah bangun tetapi wajahnya masih pucat.

Sebelum masuk. Elano mengetuk pintu itu terlebih dahulum. Setelah mendengar jawaban dari gadisnya Elano pun masuk disertai senyuman. Meskipun tak terlihat karena sedang memakai masker, orang lain bisa mengetahuinya dari mata Lano yang menyipit.

"Morning sweety... Coba tebak menu sarapan pagi ini" nada Elano persis seperti anak kecil. Ia sengaja untuk menghibur kekasihnya.

Zora yang memakai masker pun tersenyum akan kedatangan Lano. Meskipun tubuhnya masih lemas, ia mencoba untuk duduk supaya bisa lebih nyaman untuk mengobrol nanti.

Elano yang melihat Zora ingin mengubah posisi pun segera mencegahnya. Gadisnya ini masih lemas karena baru bangun dari ketidaksadarannya.

"No sweety, kamu jangan banyak gerak dulu" ucap Lano. Ia meletakan namoan berisi sarapan untuk Zora pada sebuah nakas samping tempat tidur.

Zora menurut. Lano membantunya dengan meletakan banyak bantal pada belakang punggung Zora. Itu supaya Zora tidak tersedak saat sarapan nanti.

Menu sarapan kali ini berupa sayuran. Zora yang sangat benci sayur warna hijau pun sekarang terpaksa memakanya supaya cepat sembuh. Untunglah minumannya adalah susu. Setidaknya ada satu yang ia sukai.

"Buka mulutmu sayang, landak kecilku harus sembuh"

"Kenapa landak, biasanya orang-orang memanggil kekasihnya tuh, tikus, kucing, kelinci, atau anjing. Ini kenapa landak?"

"Kalo begitu, aku menjadi orang pertama yang memanggil kekasihnya dengan sebutan berbeda"

Zora tertawa sedikit. tingkah Lano kadang lucu kadang garing.

Landak merupakan hewan berduri yang akan menegakkan durinya untuk melindungi diri dari serangan predator. Maka dari itu Zora diibaratkan Lano seperti Landak.

Yaa. Kalau landak kecil, itu lucu, imut dan mungil. Itu menggambarkan tubuh Zora yang pendek dan kecil. Tapi kalau landak besar dengan duri-duri yang sudah sangat tajam. Itu menggambarkan sifat Zora yang kadang membuatnya sakit hati karena ucapan gadis itu. Bagaikan duri landak yang menancap pada perut harimau saat akan memakannya.

Tidak mungkin kan ia menjelaskan semua arti landak pada Zora. Bisa-bisa ia kena durinya nanti.

Sarapan telah selesai. Elano kembali memposisikan tubuh Zora untuk tidur. Tak lupa juga gadis itu meminum obat dari dokter supaya cepat kembali pulih.

Elano nampaknya akan pergi keluar karena tidak boleh terlalu lama dikamar ini. Dirinya juga ingin gadis itu beristirahat lebih banyak. Tapi rasa rindu akan kehangatan tubuh Zora menghentikan langkahnya. Ia sangat rindu dengan kekasihnya itu meskipun hanya berjarak beberapa jam saja sejak tadi malam. Ia sangat berat untuk berpisah lagi dengan kekasihnya.

"Kenapa? Keluar sana, aku gak mau kamu ikut tertular juga" ucap Zora.

Lano memasang wajah melas. Ia juga melengkungkan bibirnya ke bawah lalu matanya ia sayu kan supaya mendapatkan simpati dari Zora.

Zora menghembuskan nafasnya. Ia menjawab dengan gelengan lalu Elano menghentakan kakinya sekali dan berjalan keluar kamar. Tak lupa juga pintu itu ditutup.

Zora melihat itu semua. Sifat Lano seperti anak kecil yang sedang merajuk pada ibunya. Zora merasa bersalah tapi ia juga tak mau Elano ikut tertular virusnya. Ia berjanji akan sembuh dengan cepat supaya bisa memeluk kekasihnya lagi. Meskipun begitu tingkah Lano tadi sangat lucu hingga membuatnya sedikit terhibur.

Jam makan siang dan makan malam pun sama. Elano yang selalu mengantarkan makanan itu padanya. Padahal ada banyak pelayan disini tetapi laki-laki itu ikut bolos sekolah seperti dirinya juga supaya bisa menemani Zora setiap jam makan tiba.

"Aku kenyang Lano"

"Tinggal satu ini, ayo buka yaa"

Zora mendorong sedikit sendok berisi sayuran itu menjauh darinya. Elano yang tak mau memaksa pun menuruti keinginan gadisnya. Ia kemudian menyodorkan gelas berisi susu supaya gadis itu tidak tersedak.

Setelah sesi makan selesai. Elano duduk sedikit jauh dari posisi Zora. Ia ingin memotong buah untuk gadisnya, supaya Zora bisa dengan mudah memakan buah ini. Tak lupa ia memakai sarung tangan steril supaya buah ini tidak terkontaminasi kuman tak kasat mata yang hinggap ditangannya.

"Kamu kemarin pergi kemana dengan mobil?" Akhirnya pertanyaan yang selalu ingin ia tanyakan itu terlontar dan membuat Lano terdiam sejenak.

Meskipun badanya masih belum sembuh, Zora ingin sekali mengetahui apa saja yang Lano lakukan malam kemarin.

.
.
Next..

Elano (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang