Elano: 26

4K 98 3
                                        

Elano berkeliling mencari keberadaan Zora. Laki-laki itu sudah bertanya pada sahabat kekasihnya tetapi jawaban yang ia dapat adalah Zora pergi mencari minum.

Sudah lebih dari 30 menit Lano mengelilingi gedung ini. Pakaian Zora sangat berbeda, seharusnya ia sudah menemukan gadis itu dari tadi. Kalau tidak, mungkin gadis itu tengah pergi keluar mencari udara segar.

Elano pergi keluar gedung. Ia sama sekali tidak melihat kekasihnya. Diluar sangatlah sepi. Lano khawatir, entah kenapa perasaannya menjadi tidak enak.

Lagian kenapa sih gadis itu tidak membawa ponselnya. Mana tas Zora ada padanya. Kalau begini, Lano tidak bisa tau akan keberadaannya.

Elano baru ingat kalau ia menanamkan sebuah pelacak pada tubuh gadis itu. Ia membuka ponselnya, keberadaan Zora terlihat jelas di layar persegi panjang itu. Ia pun langsung pergi ke tempat Zora berada.

>>>

Zora perlahan membuka pintu mobil ini tetapi tidak bisa karena Elano menguncinya. Zora beralih pada bagasi dan hasilnya pun sama saja.

Samuel berhenti melangkah, ia mendengar suara decitan. Seperti suara pintu mobil yang berusaha dibuka. Ia tersenyum mengerikan lalu berjalan menuju suara itu berasal.

Samuel semakin melebarkan senyumnya saat melihat seorang gadis yang berusaha membuka pintu mobil yang terkunci. Ia mendekati gadis itu.

Zora yang masih berusaha tidak menyadari kehadiran Samuel di belakangnya. Kesadarannya benar-benar akan menghilang. Ia merasa pusing yang luar biasa, pandangannya juga terlihat kabur. Tangannya yang memegang gagang pintu mobil itu semakin melemas.

Alhasil, Zora harus kehilangan kesadarannya. Samuel langsung mengendong tubuh kecil itu menuju mobilnya. Ia meletakan Zora di kursi tengah supaya tidur gadis itu lebih nyaman. Ia beralih menuju kursi kemudi untuk menuju apartemennya.

>>>

Elano melihat kembali ponselnya. Ia merasa heran saat posisi Zora sudah keluar dari sekolah ini. Ia segera mengambil mobilnya lalu mengikuti kearah mana Zora pergi.

>>>

Samuel mengendong tubuh tak berdaya Zora menuju unit nya. Ia meletakan gadis itu pada ranjang empuk yang sudah ia siapkan. Ia melepas semua aksesoris yang melekat pada tubuh mulus itu satu persatu.

Samuel juga menggerai rambut hitam Zora. Ia memandangi wajah cantik dengan makeup itu sambil tersenyum. Samuel menyentuh hidung Zora, memutar-mutar jarinya disana. Melihat Zora yang tidak ada respon apapun membuatnya senang.

"Susah tau gak dapetin lo dengan cara baik-baik, disaat gue lagi berjuang eh malah si bajingan yang dengan bangsatnya ngambil lo dari gue. Lo kenapa sih mau-mau aja ma dia? Padahal gue disini sudah sempurna Ra. Bego banget ya gue bisa tergila-gila sama lo. Sifat lo, suara lo, perlakuan lo yang selalu marah ke gue, tubuh lo, aroma lo, dan wajah cantik lo itu.. selalu ada dibayangan gue Ra. Gue gak bisa lupain lo, meskipun gue koma dulu, gue tau lo ada disamping gue saat gue lagi sendirian. Simpati lo ke gue yang membangun semua cinta bahkan obsesi ini. Jangan salahin gue Ra, kalo gue berbuat lebih.. ini semua supaya gue bisa milikin lo seutuhnya.."

Samuel mendaratkan sebuah ciuman pada kening gadis itu. Tangan kanannya terangkat menuju dada Zora yang masih tertutup gaun.

>>>

Sementara di sisi lain. Elano menatap bingung pada sebuah apartemen dihadapannya. Nafasnya memburu. Dipikirannya sudah terbayangkan hal yang tidak-tidak. Zora tadi sudah memaksanya untuk kembali masuk ke pesta itu tetapi gadisnya malah keluar menuju sebuah apartment entah milik siapa.

Setelah bertemu nanti, Elano akan memarahinya. Tega seklai Zora meninggalkannya seorang diri di pesta dengan tas gadis itu yang ia bawa.

Dengan langkah kebar, Elano memasuki apartemen itu. Ia mencari ke semua pintu satu persatu disetiap lantai karena resepsionis yang tidak mau memberitahu tamu terakhir dengan alasan privasi.

GPS itu tidak menampakkan letak secara spesifik di ponselnya. Hanya mengarah pada tempat yang dituju saja. Lebih jelasnya, Elano harus mencari tau sendiri.

Berkali-kali ia kena marah oleh pemilik unit. Elano pun meminta maaf pada mereka semua. Ia menghembuskan nafas saat lantai apartemen ini masih sangat banyak. Meskipun begitu, Elano tetap bergegas.

Entah kenapa pikiran Elano mengarah pada Samuel. Ia rasa laki-laki itulah yang tengah bersama gadisnya sekarang. Mengingat Samuel juga tidak terlihat waktu di pesta tadi.

Di pintu lantai yang ke 8 ini sama sekali tidak ada jawaban. Elano beberapa kali mengetuk pintu itu bahkan sangat keras. Elano tidak peduli ia membuat keributan hingga menganggu tamu yang lain. Ia hanya mau gadisnya!

Pintu terbuka dan muncullah Samuel yang tengah bertelanjang dada. Pikiran Elano langsung menyuruhnya untuk menerobos masuk dan mencari gadisnya.

Ia mengacak-acak seisi unit yang ditempati Samuel. Ketika membuka sebuah pintu, dirinya melihat seorang gadis yang selama ini ia cari.

Elano langsung masuk dan membuka tubuh Zora yang tertutup selimut hingga ke bahu. Pakaian gadisnya sudah berganti menjadi dress berwarna putih dengan tali spaghetti di pundaknya. Bukan hanya itu, seluruh aksesoris juga terlepas dan rambut gadisnya terurai.

Make-up yang Zora buat berjam-jam lamanya juga sudah hilang, wajah cantik itu sekarang semakin cantik lagi tanpa make-up yang menempel. Elano keluar mencari Samuel yang hanya memandanginya datar di ruang tamu.

"Lo apain milik gue!?"

Samuel berkecak pinggang. Ia maju satu langkah lalu tersenyum merendahkan pada Elano.

"Kalo udah gue jebol? Lo mau apa?" Ucapnya.

"Bangsat!!"

Elano maju dengan langkah cepat, ia mumukul Samuel tepat di pipi kiri laki-laki itu. Namun saat ingin melayangkan pukulan kembali, Samuel segera menodongkan sebuah pistol pada pelipis Elano.

"Cuma mau bilang aja, jangan bertindak terlalu terburu-buru dek!" Ucap Samuel. Ia tersenyum lalu menjilat darah segar yang mengalir dipojok bibirnya akibat tonjokan Elano tadi.

Elano sama sekali tidak bisa berkutik. Samuel sudah siap akan menembak kepalanya kalau ia bergerak hanya seinci saja.

"Lo kalah!" Ucap Samuel lagi.

Elano menatapnya tajam. Samuel selalu main curang dengan  mengandalkan senjata saja. Coba kalau mereka bertarung dengan tangan kosong, ia yakin kalau Elano sudah pasti menang.

Suara gaduh dari luar membangunkan Zora. Mungkin Samuel memberi dosis rendah pada obat tidur yang ia suntikan ke lipatan siku gadis itu.

Zora mengerjab-erjabkan matanya. Ia pun duduk sambil mengucek-ucek matanya karena belum jernih sempurna. Setelah bisa melihat dengan jelas, ia pun keluar dari kamar ini.

Karena pintu yang tidak ditutup ia bisa langsung melihat dua orang laki-laki yang salah satu diantara mereka sudah menodongkan pistol.

Zora terkejut dan reflek berteriak. Ia menutupi mulutnya dengan telapak tangan, matanya berkaca-kaca.

Elano memalingkan wajahnya ke belakang, ia menatap gadisnya dengan tatapan datar seakan-akan memberi isyarat, menyuruhnya masuk ke kamar kembali.

Zora tidak memperhatikan tatapan Elano, ia menatap Samuel tak percaya yang saat ini tengah tersenyum kepadanya. Senyuman itu nampak sagat menyeramkan, apalagi Samuel mempunyai gigi seperti bentuk taring para hewan pemangsa.

"Wah.. wah.. pas sekali lo bangun, jadi apa kata-kata terakhir lo ke Zora? Wanita yang akan menjadi milik gue!"

.
.
Next..

Elano (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang