Elano : 28

4.2K 101 3
                                        

Zora melangkah maju perlahan. Elano berteriak menyuruhnya untuk mundur dan kembali masuk ke kamar. Ia tidak mau gadis itu terluka.

Samuel menyeringai. Ia menatap wajah Zora yang semakin cantik waktu gadis itu menangis. Samuel membasahi bibirnya.

"Sayang, kamu mau mencoba membunuhnya gak? Yaudah deh sini aku ajarin"

Samuel melangkah mendekati Zora tetapi tangannya masih mengarahkan pistol itu pada Elano. Zora ketakutan. Tubuhnya bergetar. Bahunya dirangkul oleh Samuel dan laki-laki itu mendorong kepala Zora supaya menatapnya.

Samuel mencium bibir Zora tepat dihadapan Elano. Bukan hanya mencium tetapi Samuel juga melumat bibir itu supaya Elano merasa cemburu.

Meskipun ia menikmati ciuman pada bibir Zora. Samuel tidak pernah melepaskan pandangannya pada Elano. Melihat reaksi marah dari wajah adik kelasnya itu membuat Samuel menyeringai kemenangan.

Elano mengepalkan kedua tangannya, ingin sekali memukul orang yang dengan tidak sopan nya itu mencium kekasihnya. Kakinya bergerak mundur perlahan tepat di samping meja kaca persegi panjang ruang tamu ini.

Samuel memperhatikan pergerakan Elano. Ia menghentikan ciumannya lalu dengan serius menatap Elano. Menunggu perlawanan dari adik kelasnya itu dengan pistol yang masih mengarah pada Elano.

Elano menendang meja kaca itu hingga mengenai kaki samuel. Meja kaca itupun pecah berkeping-keping dan ada juga yang menancap pada kaki laki-laki itu.

Samuel terkejut, ia meluncurkan satu peluru tepat mengenai kaki kiri Elano. Samuel kesakitan karena kaca yang menancap di kakinya. Elano langsung memukuli Samuel sebelum laki-laki itu menembak dirinya lagi.

Zora beringsut mundur. Ia menunduk sambil menutupi kedua telinganya dengan tangan. Matanya pun ia pejam rapat-rapat karena takut melihat kejadian dihadapannya.

Pistol Samuel terlempar sedikit jauh karena Elano terus memukuli dirinya. Wajah Samuel pun penuh darah. Elano tidak memperdulikan kakinya yang terdapat peluru. Meskipun sakit, rasa cemburu di hatinya lebih mendominasi amarahnya saat ini.

Elano sama sekali tidak menghentikan pukulannya sebelum Samuel tidak bernafas lagi. Zora memberanikan diri untuk mendekati kedua laki-laki itu. Dengan tangisan dan ucapan lirihnya ia menyuruh Elano untuk berhenti. Namun Elano yang sudah terbakar api cemburu sama sekali tidak memperdulikan panggilan serta tangisan gadisnya.

Tangan Zora bergetar memegang sebuah ponsel. Ia berencana untuk menelepon polisi supaya mereka dapat dipisahkan.

Elano mengetahui itu. Ia berlari menuju Zora berada lalu membanting ponsel gadis itu hingga hancur ke lantai.

"Kamu mau nyelametin bajingan itu hah?.... JAWAB ZORA!!! dia mati aja gak ada apa-apanya dibandingkan rasa cemburu aku!"

Zora menutupi kedua telinganya. Ia menunduk saat Elano membentak. Nafas laki-laki itu memburu. Elano benar-benar marah.

Samuel sudah tidak berdaya. Ia pingsan dengan wajah yang tidak bisa dikenali. Kepalan tangan Elano sangat besar hingga mempu membuat wajahnya lebam dalam sekali pukul.

Elano melepaskan pakaiannya. Kini hanya menyisakan celana panjangnya saja. Memukuli Samuel membuat tubuhnya berkeringat. Ia melirik kekasihnya. Zora bergetar ketakutan karena dirinya. Elano mendekat lalu memeluk gadis itu perlahan.

"Maaf sayang, aku terbawa suasana tadi. Aku gak rela kamu dicium paksa sama bajingan itu didepan mataku. Sorry for scaring you like this... Kita pulang yaa?"

Zora mengatur nafasnya saat berada di pelukan Elano. Ia mengangguk pelan ketika Elano mengajak nya pulang. Elano langsung mengendong Zora. Membenamkan wajah cantik itu pada dada bidangnya supaya tidak melihat keadaan Samuel yang hancur.

"Tunggu sebentar ya sayang, tutup mata dan juga telinga mu, seperti ini.." Elano meletakan kedua tangan Zora pada telinga gadis itu. Ia menyuruh Zora untuk duduk jongkok menempel di dinding, ia juga menyuruhnya untuk menunduk.

Elano kembali masuk ke dalam unit Samuel. Tak lupa menutup pintunya juga. Kemudian mengambil pistol yang terlempar tadi lalu meluncurkan dua peluru tepat mengenai dahi laki-laki itu.

Dirasa sudah cukup tidak bernafas. Elano membuang pistol itu asal lalu melemparkan sebuah pematik api yang masih menyala pada tubuh Samuel yang sudah tidak bernyawa.

Ia berjalan keluar lalu menutup pintu itu, ia mengendong Zora kembali untuk menuju mobilnya yang terparkir diluar gedung apartemen mewah ini.

Pada awalnya ini semua hanya kesalahpahaman. Elano menjadi salah paham waktu melihat tubuh Samuel yang bertelanjang dada dan baju gadisnya sudah berganti. Apalagi keadaan Zora yang tidak sadar jadi tidak ada yang menjelaskan kronologi awal pada laki-laki itu.

Malang sekali. Samuel yang hanya ingin cinta Zora secara tulus tanpa paksaan menjadi akhir tragis yang merenggut nyawanya sendiri. Semua rencana yang Samuel susun pun tidak berjalan sesuai ekspektasi nya karena mengingat semua kebaikan yang Zora berikan kepadanya.

Jadi siapa yang disalahkan kira-kira? Apa salah Samuel yang tidak berani menyatakan perasaannya secara terang-terangan pada gadis yang ia cintai, hingga gadis itu dimiliki oleh orang lain? Salah Zora yang sama sekali tidak melihat perhatian Samuel kepadanya adalah atas dasar cinta? Atau salah Elano yang sudah memaksa Zora supaya mencintainya di awal, meskipun berakhir saling mencintai satu sama lain?

Kenyataannya, hidup sekarang harus bertindak cepat. Pernah dengar sebuah kalimat 'siapa cepat dia dapat'? Elano membuktikan itu. Ditambah lagi, rasa cinta dan juga rasa sakit atas penolakan Zora dahulu membuatnya mengambil langkah untuk mendahului Samuel. Selama itu pula ia juga sudah menahan diri untuk tidak langsung membunuh laki-laki itu. Ia hanya membuat Samuel koma sebagai tanda peringatan untuk tidak mendekati gadisnya.

Siapa yang tau? Samuel juga tidak pernah tau masalalu Zora karena mereka berbeda sekolah waktu Sekolah Menengah Pertama dulu. Ia baru tau saat bangun koma dan memutuskan untuk mencari tau tentang kehidupan Zora.

Namun takdir sudah tertulis dengan jelas di telapak tangan masing-masing. Elano kembali mendapatkan gadisnya dan Samuel yang bernasib tragis di akhir hidupnya.

Maaf Samuel. Perjuangan kerasmu berakhir sia-sia. Bukan hanya tidak mendapatkan Zora, masa depannya harus terkubur bersama jasad dengan arwah yang masih menaruh dendam dan keinginan yang belum terwujudkan. Semoga tenang di alam sana. Kami semua sangat menyayangkan perjuangan kerasmu yang sia-sia.

.
.
Next..

Mood up 2😗

Elano (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang