Acara masih terus berjalan. Zora kembali masuk meskipun Elano berusaha keras melarangnya. Bagaimana tidak, sia-sia dong makeup yang sudah berjam-jam ia taruhkan hanya untuk acara ini. Masa, dateng cuma ngintip doang.
Zora kembali bercengkrama dengan para teman nya. Saat jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, acara diganti dengan musik yang diputar oleh DJ yang disewa sekolah. Sebenarnya kepala sekolah ingin mengundang penyanyi saja untuk konser tetapi para murid berdemo supaya mengundang dj yang mereka sepakati untuk acara ini. Jadi, karena takut akan direkam dan dilaporkan polisi, kepala sekolah pun mengiyakan permintaan mereka.
Malam makin larut, guru-guru yang tidak tahan dengan rasa kantuk memilih untuk pulang, dan mungkin sekarang hanya menyisakan para murid dan beberapa guru saja.
Zora asik berkali-kali mengulang kata-katanya saat berbicara dengan Vio dan Mae. Karena musik yang diputar terlalu keras, suara Zora benar-benar terendam oleh kerasnya musik itu.
Zora pergi dari tempatnya. Tenggorokannya benar-benar kering setelah berteriak-teriak pada kedua sahabatnya tadi. Ia mengambil minuman satu gelas lalu mencari tempat duduk karena lelah berdiri.
Tak sengaja karena suasana yang sangat ramai, Zora menabrak seseorang yang tiba-tiba berhenti berjalan tepat dihadapannya. Orang itu pun berbalik lalu dengan secara refleks tangan orang itu mengusap-usap baju Zora yang terkena tumpahan minuman.
"Maaf.. maaf.. gue gak sengaja" ucap orang itu.
Zora menatapnya. Ia rasa harus segera pergi dari sini sebelum Elano mengetahui ini semua. Karena orang yang ditabraknya adalah Samuel.
"Gapapa Sam, cuma basah sedikit kok" ucap Zora.
"Yah, gue jadi gak enak Ra, gimana kalo gue bantu bersihin di toilet? Tenang, gue bakal tunggu diluar kok, kalo lo butuh apa-apa tinggal teriak aja" ucap Samuel panjang lebar.
"Udah gapapa Sam, ini cuma basah dikit" tolak Zora.
"Enggak Ra, lo basah gara-gara gue, mending ikut gue dulu aja buat keringin ini"
Tanpa persetujuan dari gadis itu, Samuel menarik tangan Zora dan membawanya keluar gedung. Zora berusaha melepaskannya namun genggaman Samuel pada pergelangan tangannya itu terlalu erat.
"Lepasin! Sikap lo aneh tau gak? Seminggu lalu lo tega nampar sahabat gue. Sekarang, lo kasar sama gue! Mau lo apa Sam?" kesal Zora. Pergelangan tangannya memerah hingga jari-jari Samuel yang meremasnya tadi membekas disana.
Samuel menghembuskan nafasnya. Ia melihat ke sekeliling yang ternyata keadaan sangatlah sepi. Semua orang masih asik dengan pesta didalam gedung, bahkan musiknya terdengar sampai keluar.
"Satu-satunya yang gue minta cuma lo. Lo tau Ra? Gue rasa lo bakal sadar akan perasaan gue dulu. Gue yang selalu kekeuh buat ngajarin lo, gue yang selalu bikin lo kesel sampe-sampe gue dibuat gila akan ekspresi marah lo yang candu. Gue sampe ngebayangin gimana kalo kita pacaran bertahun-tahun lamanya, gue sangat mengharapkan cinta dari lo Ra. Tapi karena lo yang bodoh atau kurang peka, lo hanya nganggep gue tak lebih dari sekedar teman sekelas. Gue cinta sama lo Ra. Gue sayang! Gue mau lo, tapi si brengsek Lano yang udah ngeduluin gue. Gue dulu berharap lo cinta gue meskipun sedikit, gue berusaha buat ngajarin lo supaya kita bisa deket. Tapi apa Ra? Lo bahkan naro rasa kesel dan marah ke gue. Ya gue akui gue bodoh soal memberikan perasaan dengan cara yang baik atau lembut. Gue gak bisa bersikap lembut Ra, gue bingung cara ngungkapin nya. Makanya gue berusaha buat ngajar lo sebagai upaya pendekatan" Samuel memegang kedua tangan Zora, ia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
"Si bangsat itu udah bikin gue koma. Gue terluka Ra. Gue gak terima kalo lo bisa dimilikin dian. Gue gak suka! Gue cinta sama lo"
Zora tak percaya akan apa yang diucapkan oleh Samuel. Ia bahkan baru tau kalau Samuel mencintainya. Bahkan sejak dulu! Sejak mereka belajar bersama.
"Good night Ra.. gue akui gue terobsesi, makanya nanti lo tidur sama gue.. berkat obat ini" Samuel tersenyum lau mengangkat tangannya yang tengah memegang suntikan.
Melihat Zora yang lengah akan perkataannya membuat Samuel memiliki kesempatan untuk menyuntikkan obat tidur pada lipatan siku gadis itu tanpa Zora sadari.
Zora menjauh mundur. Sebelum obat itu sepenuhnya bekerja ia harus pergi dari sini. Zora menjinjing rok panjangnya lalu berlari menjauh dari Samuel. Tidak ada tempat sebagai jalan keluar dipikirannya saat ini. Zora hanya berlari asal lalu kakinya mengarah pada tempat parkir.
Samuel mengejarnya hanya dengan berjalan saja. Ia juga menghitung mundur karena obat itu akan bereaksi setelah dua menit lamanya.
Dengan senyum mengerikannya, Samuel perlahan mengejar Zora. Gadis itu berkali-kali jatuh karena heels yang dipakainya. Zora segera melepaskan heels itu dan membuangnya asal. Ia lanjut berlari memutari lahan parkir yang sangat luas ini.
Zora bersembunyi dibalik mobil yang terparkir. Ia mencubit pahanya berkali-kali supaya menahan dirinya untuk tidak tidur. Cubitan itu membuat pahanya memerah hingga membiru sekarang.
"Zora~~.. pengen main petak umpet ya? Yaudah aku turutin kok, tapi yang kalah harus mau diperkosa yaa.."
Zora menutup mulutnya rapat-rapat dengan satu tangannya. Tangannya yang lain masih terus mencubiti pahanya.
Ingin meminta bantuan, tapi pada siapa? Ponselnya ada didalam tas, dan tas itu dibawa oleh Elano.
Zora melihat bayangan mendekatinya. Ia beringsut mundur tanpa mengeluarkan suara apapun. Ia pun segera pergi dengan mengendap-endap ke mobil Elano. Ia masih ingat mobil mengkilat itu terparkir tak jauh dari sini.
"DOR!!!.. yah, padahal aku tadi liat kaki putih lo Ra, okee gue bakal cari lagi"
Suara besar Samuel yang menggema di parkiran ini mengejutkan Zora. Dada Zora naik turun, ia sangat takut. Kepala Zora mulai pusing. Ia bahkan tidak bisa menahan berat tubuhnya lagi, beruntungnya ia sudah sampai pada mobil Lano.
.
.
Next..
KAMU SEDANG MEMBACA
Elano (End)
Teen FictionFollow sebelum membaca!!!!!!!!!!!!! Pernah tidak membully seseorang sampai membuatnya trauma, tetapi orang itu malah suka dan bahkan terobsesi kepadamu? Itu yang dialami Zora. Lano yang merupakan anak tunggal berpenampilan cupu yang sering Zora bull...
