"LO SUKA SAMA OM JEONGWOO?"
"BUKAN!"
Doyoung menarik Mashiho saat lelaki itu berdiri saking terkejutnya. Susah payah Doyoung menjaga suara, namun sepertinya salah menceritakan perihal apa yang ia rasakan terlalu dini kepada Mashiho.
"Oh, nggak suka?"
Doyoung mendengus, ia pusing campur malu karena tadi mendadak terlalu serius dengan Jeongwoo. Bahkan menanyakan pertanyaan yang pastinya akan membuatnya malu seumur hidup.
"Yaudah, kalo kontraknya habis cerai aja."
Doyoung membulatkan mata, ia memukul pelan kepala Mashiho dengan geram. Mengapa mulutnya enteng sekali.
"Jadi, Lo mendukung temen Lo jadi duda di usia muda?" Omel Doyoung.
Sedangkan Mashiho memicing bingung. Dari cerita yang Doyoung ceritakan kepadanya, Mashiho bisa menarik kesimpulan bahwa sebenarnya Doyoung memang mulai menerima bahkan menyukai keberadaan Jeongwoo di sampingnya. Hanya saja Doyoung itu berceritanya agak rancu. Beberapa bagian menunjukkan bahwa Doyoung sangat menyukai Jeongwoo, sedangkan bagian lainnya menceritakan betapa Doyoung ingin segera berpisah dari Jeongwoo.
Sungguh membingungkan.
Kisah yang semula Mashiho pikir mudah dan tertebak mendadak memiliki alur yang rumit.
"Jadi, Lo suka sama om Jeongwoo?"
"Bukan——"
"Lo mau cepet cerai dari dia?"
"Gue nggak mau jadi duda."
"Jadi Lo nggak suka sama om Jeongwoo tapi mau selamanya sama dia?"
Doyoung kehilangan kata saat akan menjawab, tubuhnya mendadak lesu saat menyadari bahwa ada yang aneh dengan dirinya.
"Nggak tau, Gue pusing. Nggak mau ketemu Jeongwoo dulu." Ucap Doyoung dengan lesu.
"Kan emang nggak boleh ketemu dulu." Timpal Mashiho sembari mengamati undangan miliknya. Desainnya bagus, nanti Mashiho ingin meniru nya saat akan menikah.
"Kenapa nggak boleh?" Tanya Doyoung. "Maksudnya, dia kan harus anter-jemput Gue, harus awasin Gue kemana-mana?" Imbuh Doyoung karena takut Mashiho salah paham dengan kalimatnya. Ia Bukannya berharap bertemu Jeongwoo setiap hari. Itu kan memang tugas Jeongwoo.
"Kalian nikah sebentar lagi, kata nenek Gue nggak boleh ketemu dulu sebelum nikah. Harusnya mulai besok Lo nggak boleh ketemu om Jeongwoo." Jelas Mashiho. Neneknya memang suka sekali menceritakan kehidupan jaman dulu. Mashiho sampai hapal diluar kepala apa saja yang neneknya lalui di masa lampau.
"Kok gitu? Siapa yang bikin peraturan kayak gitu?"
"Ya nggak tau, tapi katanya kalo sering ketemu sebelum nikah malah nggak bagus." Kata Mashiho dengan nada menakuti.
Doyoung mengernyitkan dahi nya tidak setuju.
"Tapi kan Gue harus mempersiapkan pernikahan Gue. Itu juga harus sama Jeongwoo." Protes Doyoung.
"Emang yang kurang apa? Bisa sama Gue kok." Ucap Mashiho dengan polos.
Doyoung berdecak. Ia menghela napas kasar. Pernikahannya dan Jeongwoo sepenuhnya diurus oleh pihak lain karena Doyoung juga tidak terlalu tahu tentang pernikahan.
Sekarang dirinya merasa lebih aneh.
"Lo suka om Jeongwoo tuh. Jangan Denial."
"Siapa yang Denial sih?"
"Bukannya tadi Lo bilang nggak mau ketemu om Jeongwoo dulu? Gue kasih alesan supaya Lo bisa menghindari om Jeongwoo tanpa drama. Tapi kenapa kayaknya Lo mau ketemu dia setiap hari? Padahal wajahnya serem." Mashiho menghentikan ucapannya saat Doyoung menatap tajam ke arahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
FEIGN || JEONGBBY [✓]
FanfictionSemenjak pertemuannya dengan Park Jeongwoo, hidup Doyoung seakan berada dalam tahanan. Dan Doyoung sekali lagi membenci fakta bahwa dia tak bisa lari dari sosok yang selalu ia benci itu. WARN! BXB area!
![FEIGN || JEONGBBY [✓]](https://img.wattpad.com/cover/365607734-64-k572428.jpg)