Oceana's | 23

294 21 4
                                        

"Apa gunanya hidup abadi, jika untuk melihat orang-orang yang kita sayangi satu persatu pergi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Apa gunanya hidup abadi, jika untuk melihat orang-orang yang kita sayangi satu persatu pergi." -Victoria

••••


Di pertanyaan pertama Victoria berhasil menjawab dengan jujur dan tulus, dan berlanjut ke pertanyaan kedua. Victoria tidak bisa bersabar lebih lama lagi untuk bisa membawa jiwa Ian kembali. Di balik kekosongan itu, sepasang mata tengah memperhatikannya sembari tersenyum tipis. Seolah mengetahui Dewi yang datang ke dimensi penyesalan ini, adalah orang yang gigih.

Untuk saat ini tidak ada lagi yang Victoria inginkan selain Ian kembali hidup. Perasaan sedih, takut, khawatir, ragu, semuanya bercampur aduk. Seolah ada sesuatu yang merayap di hatinya untuk menyakiti nya. Victoria seharusnya bisa menghentikannya, namun ia memilih membiarkannya. Tentunya perasaan Ian, usaha Ian selama ini untuk dirinya. Hal itu membebani Victoria, namun Victoria tidak membencinya.

Berapa lama lagi? Entah berapa lama lagi dia bisa keluar dari dimensi penyesalan ini.

"Aku tau kau tidak sabar Dewi muda. Tapi... buah dari ketidaksabaran adalah petaka." Suara itu lagi, Victoria jadi kesal karena tidak bisa melihat wujud orang yang mengatakan Kalimat sok bijak itu.

"Daripada membuang waktu dengan kata-kata yang tidak perlu, sebaiknya katakan saja apa pertanyaan selanjutnya," ujar Victoria dengan sinis.

Victoria sedikit geram dibuatnya. Dia sadar bahwa dirinya memang sedang tidak sabar sekarang. Namun dia teringat pesan hades, dia harus segera menemukan jiwa Ian di gurun kematian, dan di sana tentunya ada banyak jiwa orang-orang berkumpul. Akan memakan banyak waktu untuk mencari jiwa Ian dengan cepat, sebelum penghakiman.

"Ha ha ha!"

"Baiklah, pertanyaan selanjutnya...."

Victoria menggigit bibir bawahnya, bersiap-siap dengan pertanyaan kedua. Jantungnya berdegup kencang setiap kali pertanyaan dilontarkan. Takut tidak bisa menjawabnya, dan takut gagal menghidupkan Ian kembali.

"Apakah dia orang yang ingin kau selamatkan adalah orang yang penting bagimu? Jika begitu apa dia kerabat atau keluarga?"

"Dia...." Victoria bergumam.

"Dia bukan saudara ataupun keluarga. Tapi dia rela melakukan apapun demi diriku yang bukan siapa-siapa ini. Tapi aku hanya bisa memberikan rasa sakit padanya dengan setiap penolakan ku selama ini." Victoria mengatakannya sembari mengingat pengorbanan Ian, usaha-usaha Ian padanya selama ini.

"Jadi apakah itu cinta?"

Victoria awalnya ragu, apakah Ian benar-benar mencintainya atau malah hanya sebatas mengagumi dirinya saja. Namun, lambat laun dia mulai memahami perasaan Ian, cinta Ian. Dan hati Victoria mulai tergerak untuk memberikan Ian tempat di hatinya.

"Ya! Itu cinta. Sama seperti dia yang mencintaiku tanpa pamrih, yang tulus menungguku, akupun sama. Aku mencintai Ian! Aku sungguh menyesal terlambat dalam memahami perasaannya, karena sebelumnya aku hidup dan tumbuh tanpa mengenal kasih sayang dan cinta dari orang tua. Aku dibesarkan oleh kakakku yang sudah aku anggap seperti orang tua. Sungguh aku minta maaf. Aku sungguh sangat menyesal terlambat menyadari perasaanku sendiri dan perasaan Ian. Aku minta maaf.... Ian sungguh aku minta maaf....."

Victoria mulai meneteskan air mata. Dia menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi. Mungkin seharusnya dahulu, kakaknya membiarkan jiwanya hancur dan tidak bisa bereinkarnasi, kehadirannya tidak akan membebankan atau menyakiti siapapun. Karena sejak awal, seharusnya dirinya tidak ada di dunia ini.

Kedua kaki Victoria langsung lemas, seolah tidak ada tenaga untuk berdiri. Victoria langsung jatuh dan duduk di lantai menangis sembari menundukkan kepalanya. Menyedihkan, kalimat itu yang cocok menggambarkan kondisi Victor sekarang.

"Aku.... Aku penakut, aku seorang pecundang. Aku takut memberikan seseorang tempat di hatiku, ketakutan kehilangan mereka karena aku yang terjebak dalam keabadian yang abadi ini. Aku salah, karena aku bodoh, terlambat menyadari ketulusan dan cinta dia. Aku bersalah namun takdir juga sama bersalahnya sepertiku."

Entah kapan Victoria terakhir kali menangis, tapi kini dia tidak bisa menahan diri. Air mata keluar membanjiri pipinya yang merah muda. Kesedihan di hatinya begitu mendalam. Rasanya sangat menyesakkan. 

"Takdir sungguh sangat jahat.... Dia mempermainkanku dan Ian. Untuk apa keabadian ini, kekuatan ini, gelar dewi ini. Aku tidak bisa menghentikan kekacauan kehidupanku sendiri, apalagi kekacauan di dunia."

Untuk beberapa saat hening. Orang misterius itupun diam. Seolah-olah memberikan waktu untuk Victoria menangis, mengeluarkan semua perasaan yang dia pendam di lubuk hatinya.

Cukup lama Victoria menangis. Yang awalnya dia tidak ingin berlama-lama di sana, namun sekarang dirinya sendiri yang mengulur waktu. Siapapun, bahkan dewa paling kuat pun akan sama seperti Victoria. Lemah saat orang yang mereka kasihi pergi.

Saat itu juga Victoria merasa ingin menyerah. Dia beranggapan semua yang terjadi adalah karena kehadirannya di dunia ini, jika dirinya lenyap mungkin semuanya akan kembali baik-baik saja.

"Mungkin ini karma. Dewi keadilan yang memisahkan kakaknya sendiri dari cintanya, sekarang dipisahkan oleh takdir dari cintanya sendiri." Victoria mulai bergumam, mengatakan hal yang tidak-tidak.

Orang misterius itu menyadari jika Victoria mulai putus asa. Dia mulai menunjukan wujudnya dihadapan Victoria.

Seorang pria paruh baya berdiri di depan Victoria sekarang ini, menatap Victoria dengan tatapan iba. Pria itu memiliki penampilan sangat tampan meskipun memiliki jenggot dan kumis. Badannya tinggi dan juga kekar. Lengannya terlihat berotot. Lengan berotot itu terlihat karena pria tersebut tidak menggunakan pakaian, hanya sehelai selendang yang melilit sampe ke bawahannya.

Pria paruh baya itu menunduk dan memegang kedua bahu Victoria,  menyuruhnya untuk berdiri.

"Sebelumnya aku bisa melihat kegigihan di mata dan juga hatimu, namun apa sekarang yang terjadi Dewi muda?" ujar pria itu. Ia mencoba memberikan semangat kepada Victoria.

Kehadiran sosok pria misterius yang belum diketahui itu, membuat Victoria mulai berhenti menangis.

"Belum terlambat untuk memulainya dari awal, masih ada waktu. Sebelum lanjut ke pertanyaan terakhir, ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan kepadamu."

Victoria menatap pria paruh baya itu dengan heran sekaligus penasaran.  Dia penasaran identitas pria di hadapan ini, sekaligus ingin tau apa yang akan dia tunjukkan kepadanya.

Pria itu menggunakan semacam kekuatan sihir. Dan melemparkan kekuatan itu ke langit-langit. Lalu muncul seperti sebuah cermin raksasa, yang diketahui itu adalah cermin masa lalu.

"Ini adalah cermin masa lalu," jelas pria tersebut.

"Dahulu kala. 100 ribu tahun yang lalu, jauh sebelum peradaban manusia mengalami kemajuan seperti sekarang, ada seorang laki-laki yang datang ke gurun kematian untuk melawan takdir. Sama seperti dirimu untuk membawa kembali jiwa wanita yang dia cintai."

Pria paruh baya itu dan juga Victoria sama-sama menatap cermin masa lalu, di mana cermin itu menampilkan gambar seseorang yang tengah di ceritakan oleh pria tersebut.

Gambaran cermin masa lalu>>

(Next chapter)

••••

halo semua! Author back!

Aku Hiatus lama karena mikirin alur untuk kedepannya, karena aku berencana membuat project yang baru kedepannya berhubungan dengan Victoria, dan tentunya masih satu universe.

Makasih buat kalian semua yang masih nungguin kisah Victoria ini. Meskipun aku hiatus atau lama update nya.

Note: update tiap Sabtu-Minggu

Oceana's Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang