Bertemu kembali

8 1 0
                                    

"Tak kan kubiarkan siapa pun berani menyentuh satu helai rambut gadis ku, jika kalian berani maka kuseret kau kedalam neraka!"

-Elvaro Rellovie Aeron

•••

"Apakah pantas kau menyebutnya sebagai gadis mu, sedangkan dia tidak mengakui keberadaan mu sama sekali."

-Gavaza Zgiheco

•••

"Jika ditakdirkan berarti baik, jika dipisahkan berarti ada yang lebih baik."

-Author

🔫 🔫 🔫

Pikiran nya tidak bisa fokus sama sekali. Bagaimana bisa, dengan keadaan yang sekarang berkas-berkas bertumpukan dimeja nya. Kenapa pikiran nya itu terus mengarah kepada gadis yang sedang berada dimansion.

"Merepotkan!" desis nya melempar semua kertas kertas itu.

Pria itu bersender dikursi kerja nya. Mendongak ke atas, lalu memejamkan mata nya.

Pikiran nya terus saja tertuju pada gadis pujaan nya dari semasa SMA, ntah mengapa tidak ada rasa bosan kepada Hyuna. Semua tentang diri nya tidak boleh terlewatkan sedikit pun, tapi untuk sekarang pria itu tidak berani mengungkapkan jika dirinya masih mencintainya. Perasaan takut itu selalu saja datang, ntah takut kehilangan atau takut di tolak cinta nya.

Brak!

Mafia itu segera mengambil pistol yang memang selalu ada dibalik jas nya untuk berjaga jaga.

Seorang pria berjas cream itu tersenyum getir, takut karna pria yang mempunyai rungan ini sedang menodongkan pistol kearah nya.

"Hi, santai bro."

Varo berdesis, lalu menurunkan pistol nya. "Ngapain kesini?"

"Salah kah? Padahal niat ku baik, ingin menjenguk sahabat ku ini." ucap pria itu. Memang diri nya adalah sahabat Varo sejak kecil.

"Dari mana aja? disini butuh bantuan, kau malah menghilang."

Pria bernama Gava itu hanya terkekeh, berjalan ke arah sofa dan langsung menjatuhkan dirinya. "Aku ke Amerika, keluarga ayah membutuhkan ku disana."

Varo hanya berdeham, sebagai pertanda ia mengerti.

"Dari dulu masih sama ya, masih cuek. Kalo gini gimana cara nya dapet pasangan, sedangkan kau saja cuek setengah mati."

Varo menatap datar sahabat nya. "Di mansion udah ada calon istri."

Gava melotot, seperti salah mendengar. "Yang benar saja, kau saja masih mencintai adik kelas yang sekarang menjadi model."

Mafia itu manatap datar Gava, seperti nya ia tidak percaya.

"Terserah, mau percaya atau tidak!"

Gava menatap Varo dengan tatapan kasihan, dia tahu jika kasih cinta sahabat nya itu kurang beruntung. Karna selalu saja ditolak, padahal menurut nya perempuan masih banyak kenapa dia selalu mengejar perempuan yang memang sudah terang terangan tidak mencintainya.

Mafia AeronTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang