Jeno menatap ke arah wajah manis Jaemin, dirinya diam melihat Jaemin membereskan barang-barangnya untuk nanti malam. Tangannya ia julurkan untuk menyelipkan rambut Jaemin ke belakang kuping si manis.
"Apa?" Tanya Jaemin sembari menatap mata Jeno.
"Kau tidak takut?"
"Untuk apa aku takut?" Tanya Jaemin dengan wajah bingung.
"Kau akan pergi kesebuah tempat yang memiliki rumor yang menyeramkan"
"Lalu? Untuk apa takut. Aku tidak akan mati setelah menginjakan kaki ku disana" ucap Jaemin dengan acuh.
Mendengar jawaban Jaemin, Jeno hanya menggelengkan kepalanya pelan. Keduanya kembali dalam kesunyian, dengan Jaemin yang masih membereskan barang-barang Jeno yang akan di bawa nanti malam.
"Berkas yang harus kamu tanda tangan sudah di tandatangani?" Tanya Jaemin sembari melihat ke arah Jeno yang mengambil map berwarna putih.
"Ya, sudah" ucap Jeno sembari memberikan map putih tersebut kepada Jaemin.
"Berkas ini ku taruh di koper mu, jadi saat besok tidak perlu meminta kepada ku" ucap Jaemin sembari menaruh map putih tersebut di dalam koper Jeno.
♧♧♧
Haechan menatap Mark dengan malas, dirinya terus mengikuti kemana pun Mark berada. Katanya sih itu bagian dari pekerjaannya, dirinya tidak bisa mengucapkan apa-apa dan hanya bisa mengikuti apa yang di mau oleh Mark.
"Kita mau kemana lagi?" Tanya Haechan sembari memutar kedua matanya malas.
"Kembali"
"Bisakah makan dulu? Aku sangat lapar" Mark hanya mengangguk untuk membalas ucapan Haechan.
Keduanya pun makan di istana. Haechan menatap makanan yang ada di depannya dengan berbinar, ini adalah surga dunia! Dengan segera Haechan melahap makanan yang ada di hadapannya. Berbeda dengan Haechan. Mark dengan tenang memasukan makanan ke dalam mulutnya, matanya sesekali melirik ke arah Haechan yang ada di hadapannya.
Setelah selesai mengisi perut, Haechan segera bergegas untuk membereskan barang miliknya dan Mark. Dirinya membawa tubuh kecilnya untuk bergerak dengan cepat.
"Ughh susahh!" Gerutu Haechan sembari menutup tas yang menampung baju-baju miliknya.
"Kemarikan" mendengar ucapan Mark. Dengan segera Haechan mendorong tas miliknya ke hadapan Mark.
"Lemah"
"Hei!" Haechan menatap wajah Mark dengan tajam.
Enak saja dirinya di katai lemah oleh Mark, hanya perkara dirinya kesulitan menutup tas yang berisi pakaiannya. Haechan mendorong tubuh Mark, walau tidak ada gunanya juga.. karena tubuh Mark tidak bergerak sama sekali.
"Apakah malam ini kita langsung berangkat menuju desa itu?" Tanya Haechan sembari kembali membereskan barang-barang.
"Ya" mendengar jawaban dari Mark. Haechan hanya diam sembari mengangguk kecil.
"Istirahat lah, nanti malam segera turun kebawah bersama Jaemin" setelah mengatakan hal tersebut, Mark segera beranjak meninggalkan Haechan sendirian disana.
"Hufft.. pasti akan melelahkan" gumam Haechan.
♧♧♧
Haechan dan Jaemin saling bertukar tatapan setelah melihat kereta kuda yang akan mereka gunakan selama menuju desa Tenby.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE MORRIGAN
Fanfictionsebuah takdir yang membawa dua pemuda dari kalangan bangsawan rendahan, menghadapi sesuatu yang tidak pernah keduanya lihat dan hadapi. keduanya bertemu di kegelapan yang sangat gelap dan di sana lah mereka saling membantu untuk keluar dari kedalama...
