Haechan menemukan sebuah obor, dirinya sekarang entah berada dimana. Yang Haechan tau hanyalah tempat ini seperti sebuah goa dalam bawah tanah yang sangat jauh dari permukaan. Tubuhnya masih sangat terasa sakit, namun dirinya harus tetap mencari petunjuk dan mencari jalan keluar.
Dengan teratih, Haechan berjalan menyelusuri tempat tersebut. Tangan kiri Haechan tidak berfungsi, banyak sekali guratan merah terang di lengan kirinya. Entah apa itu, yang Haechan tau kalau guratan merah tersebut seperti tanda. Guratan merah tersebut juga terlihat seperti urat, hanya saja ini menimbulkan rasa sakit dan panas seperti terbakar dan membuat tangan kiri Haechan tidak bisa di gerakan.
Haechan berjalan di dalam kegelapan, entah apa yang harus di lakukan. Namun hatinya berkata bahwa ia harus berjalan lurus kedepan. Tepat setelah lama berjalan, Haechan melihat seseorang berdiri di depan sebuah batu besar berwarna ungu terang, matanya menatap sosok tersebut dengan teliti.
Entah mengapa, Haechan merasa seperti mengenal postur tubuh sosok yang ada di seberang sana. Dengan gugup Haechan berjalan mendekati sosok tersebut. Tepat setelah berada di deoan sosok tersebut, Haechan terpaku menatap wajah sosok itu.
"Jaemin.."
Haechan kembali mendekati dirinya kepada Jaemin, jarak keduanya sudah sangat dekat. Haechan meneliti seluruh paras wajah Jaemin. Hembusan nafas Haechan menerpa wajah Jaemin dengan lembut.
"Jaemin" panggil Haechan.
Namun tidak ada respon sama sekali dari Jaemin, hal tersebut membuat Haechan sedikit bingung. Haechan kembali memanggil Jaemin, kali ini suaranya sedikit di keraskan. Lagi dan lagi, Jaemin tidak menjawab atau merespon panggilan dari Haechan.
Haechan segera memundurkan tubuhnya, ada yang aneh dengan Jaemin. Kedua mata Haechan terus menatap Jaemin yang hanya diam seperti patung di hadapannya.
"Jaemin" Haechan kembali memanggil Jaemin, berharap Jaemin akan merespon panggilannya.
Sunyi, tidak ada respon apapun. Haechan semakin memundurkan tubuhnya. Setelah cukup jauh dari Jaemin, Haechan menghentikan langkahnya. Dirinya masih memperhatikan Jaemin yang hanya diam, tidak ada pergerakan bahkan kedua mata Jaemin tidak berkedip hanya diam seperti patung.
♧♧♧
Setelah merasakan sosok di depannya menjauh. Jaemin masih diam di tempatnya, pendengarannya masih tidak berfungsi begitu juga kedua matanya. Perlahan Jaemin kembali bisa mendengar suara-suara di sekitarnya, namun matanya masih belum berfungsi.
"Jaem?" Itu seperti suara Haechan.
Jaemin membuka mulutnya, memberi respon atas panggilan Haechan. Kedua tangannya ia bawa untuk menggapai tubuh Haechan.
"Chan? Itu kamu kan? Chan? Tolongin aku.. aku ga bisa liat apa-apa, pendengaran ku juga agak aneh.. dari tadi ga dengerin suara apa-apa. Aku baru bisa denger sekarang walau samar-samar" jelas Jaemin sembari menggerakan tangannya untuk menyentuh Haechan.
Haechan kembali mendekat ke arah Jaemin. Walau masih ada keraguan dan ketakutan, tapi setelah mendengar suara Jaemin. Haechan sedikit yakin bahwa orang yang ada di hadapannya itu benar-benar Jaemin.
"Ya, ini aku. Kamu kenapa bisa ada di sini?"
"Disini? Dimana chan?"
"Ahh.. maaf aku lupa kamu ga bisa liat sekitar. Lupain, ayo kita gerak. Kamu pegang pundak ku, biar aku tuntun untuk jalan" Haechan menaruh obor yang ia pegang di tanah, lalu ia menggapai tangan kanan Jaemin untuk berpegangan di pundak kirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE MORRIGAN
Fanfictionsebuah takdir yang membawa dua pemuda dari kalangan bangsawan rendahan, menghadapi sesuatu yang tidak pernah keduanya lihat dan hadapi. keduanya bertemu di kegelapan yang sangat gelap dan di sana lah mereka saling membantu untuk keluar dari kedalama...
