11

45 5 0
                                        

Haechan mengusap kedua matanya pelan, entah mengapa kedua matanya sangat lelah dan pendangannya menjadi buram. Tangannya ia kaitkan dengan tangan Mark, keduanya bergandengan mengelilingi pasar.
Melihat Haechan yang terus mengusap matanya, membuat Mark kembali khawatir. Mark mengulurkan tangannya yang bebas untuk menarik tangan Haechan yang di gunakan untuk terus mengusap mata.

"Kau baik?" Tanya Mark sembari menatap Haechan yang menunduk.

"Mark"

"Ya?"

"Pandangan ku buram dan mata ku sangat lelah.. tubuh ku masih terasa terbakar dan suara bising di kepala ku semakin berisik" ucap Haechan sembari terisak kecil.

"Ingin kembali ke kereta kuda?" Tanya Mark dengan lembut.

Haechan mengangguk kecil sebagai jawaban. Keduanya pun kembali menuju kereta kuda. Haechan terus melihat ke bawah untuk memastikan pengliatannya baik-baik saja.

"Kemari lah" Mark menarik pinggang Haechan, hingga Haechan kembali dalam pangkuan Mark.

"Biar ku lihat" Mark mengangkat wajah Haechan, hingga netra keduanya bertemu.

Mark menatap wajah cantik Haechan dengan lekat. Tidak ada yang salah dengan kedua mata indah Haechan, namun mengapa Haechan terus mengusap kedua mata indahnya sedati awal ia bangun hingga sekarang.

"Mark, mata ku lelah. Pengliatan ku juga masih buram" isakan Haechan semakin besar.

"Tak apa, kau akan baik-baik saja" Mark segera memeluk Haechan, tangannya ia gunakan untuk mengusap punggung Haechan dengan lembut.

"Hiks.. sakit" Haechan semakin menenggelamkan wajahnya di leher Mark.

Mark mengubah warna matanya, ia melihat sesuatu yang sepertinya menjadi alasan mengapa Haechan seperti ini. Dengan talenta, Mark menyentuh belakang leher Haechan.

"Setelah ini kau akan sembuh" ucap Mark pelan.

♧♧♧

Jeno membantu Jaemin membawa barang-barang yang baru mereka beli. Keduanya masih asik berjalan di pasar tanpa mengetahui bahwa Mark dan Haechan sudah kembali ke kereta kuda.

"Jaem, sepertinya kita harus kembali. Kita harus kembali berjalan menuju desa Teby"

"Baiklah" keduanya pun kembali ke kereta kuda.

Jaemin menatap Haechan yang sepertinya kembali tertidur di pelukan Mark. Setelah merasa Haechan baik-baik saja, ia pun duduk dengan tenang dan memakan makanan yang ia beli bersama Jeno di pasar.

"Apakah masih jauh?"

"Lumayan, kau bosan?" Tanya Jeno sembari melihat Jaemin yang masih asik makan.

"Tidak" jawab Jaemin dengan riang.

"Baiklah"

Perjalanan cukup lama, membuat Jaemin sedikit kelelahan. Ia pun akhirnya memilih untuk beristirahat, meninggalkan Jeno dan Mark yang masih terjaga.

♧♧♧

Haechan terbangun, ia segera melepaskan dirinya dari pelukan Mark. Ia mendudukan dirinya di hadapan Jaemin. Tubuhnya sekarang terasa sangat ringan dan seperti semula. Haechan menatap ke arah Mark yang sibuk berbincang dengan Jeno.

"Jaem" panggil Haechan dengan lembut. Hal tersebut membuat Jaemin terbangun.

"Hmm? Kenapa Chan?"

THE MORRIGANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang