Bab 10

4 1 0
                                    

Present Time.

Elena yang sedang memasukkan macbook ke dalam duffel bagnya dipandang. "Elena dah fikir masak-masak?"

Kepala dipusing tepat memandang ke arah Megat Hisyam yang santai dikerusi. "Tok Pa." Kepala diangguk lambat. "He deserves to know." Jeda. "...and whether he accepts or not, it's up to him."

Megat Hisyam mengangguk perlahan.

"El pergi dulu tok pa." Tangan tua itu disalam.

"Hati-hati."

Tubuh Elena yang mula menghilang ke dalam perut kereta dipaku pandang. Atuk tahu kamu akan buat keputusan yang terbaik walau kamu mampu untuk tak peduli. Dan tak siapa tahu luka mu sudah sembuh atau masih berdarah sayangku...




Anak matanya terpaku bagai digam. Jantung berdetak laju menyentak dada. 'Oh, Tuhan...'

"Daddy?" Anak mata hazel itu memandang tepat pada susuk tubuh sasa yang sedang merenungnya tak lepas.

Tengku Amira menahan air mata yang ingin tumpah. Suasana banglo dua tingkat Megat Hisyam hening seakan mengerti kesedihan dari hati-hati yang memandang simpati pada sebuah takdir yang sulitnya untuk dicerna lalu didakap redha ke dada.

Tubuh gadis kecil yang mengenakan gaun merah dengan rambutnya diikat dua ditarik ke dada. 'You're my little me!'

"Daddy cry." Air mata dipipi Emir diusik jari telunjuk halusnya.

Emir tersenyum. "Daddy miss you." Rambut perang Eshal disentuh lembut. Anak mata hazel itu ditenung dalam.

"She looks exactly like you when you're just about her age." Bahu Emir ditepuk lembut.

Dan tak ada siapa pun dapat menafikan kebenaran yang ternyata jelas itu, his mix blood juga diwarisi anaknya. Melihat anak gadisnya bagaikan melihat gambar waktu kecilnya yang banyak tersimpan di dalam album sebagai kenang-kenangan.

"Daddy, play."

Suara halus Eshal mematikan lamunan. "You want to play?"

Kepala yang bertocang dua itu mengangguk laju dengan matanya dibulat comel.

"Okay, let's play with daddy!"

"Yeayy!" Kedua belah tangan kecilnya disatukan menghasilkan bunyi tepukan menandakan betapa gembiranya dia.

Pipi tembam Eshal dicium. Detak didadanya dibiar. Dia hanya ingin meluangkan masanya bersama anak gadisnya yang tidak pernah dia tahu kewujudannya.




iPhone yang menyala menandakan notifikasi masuk, dicapai. Notifikasi dari iMessage ditekan dan anak mata terpaku lama diskrin iPhone sebelum butang play ditekan.

Kepala disandar ke kerusi setelah video berdurasi seminit itu ditonton. Kelopak mata dipejam rapat. 'Bukanlah mudah untuk kuat sepertimana terlihat kuat. Dan tidaklah takdir Mu untuk ku aku rentang lalu menjadi bara takkala aku hanyalah hamba yang layaknya diuji mu duhai Sang Pencipta.'


Aku menangis dihadapan Mu

dan tersenyum bagaikan tiada apa esok harinya

lalu hati ku cukup dengan Mu

untuk mendakap segala yang mendatang

walau aku keseorangan tak mengerti dan dimengerti


Adakalanya saat memandang

wajah si kecil itu, ada sayu yang menyelinap dadaku

takkala takdirnya tak seperti kanak-kanak lain

dan harus aku bagaimana?

takkala itulah yang dipersiapkan Mu untuknya

ya, benar aku yang melahirkannya mencintainya sepenuh nyawa ku

namun tidak terbanding dengan cinta Mu, Tuhan yang menciptakannya

menjadikan dia ada dirahim ku


Lalu Tuhan

berikan maaf untukku agar aku dapat memaafkan diriku

semoga dengan kemaafan membuatkan lapang hatiku

untuk aku mendepakan tangan

memberikan yang terbaik untuknya

kerana ku tahu luka ku cukup untuk ku

kerana penyembuhnya adalah Mu

dan tiadalah selain Mu, aku harap.



"Terima kasih Tuhan..." Air jernih yang jatuh ke pipi diseka belakang telapak tangan. Ketakutan yang kerap datang mengusik akal selalu membuatkan dia berlama disejadah. Hati ibu mana yang mampu seandainya anak yang dikandungkan sembilan bulan diragui dan ditidakkan ayahnya? Ya, itulah ketakutan yang selalu membuatkan tidur malamnya terjaga. Dan hari ini, tak siapa sangka doanya dikabul Allah, dan tiadalah harta dunia yang mampu membuatkan hatinya selapang ini kecuali kasih dan cintanya Allah.




"Daddy work?" Anak mata tepat memandang Emir yang sedang mendukungnya.

"Ya, sayang. Next week daddy datang okay?"

"Yeayy!" Pipi Emir dicium.

"Nanti daddy call Eshal okay."

Angguk.

"Did she understand me, mummy?" Tengku Amira dipandang dengan curious.

"Mummy rasa dia faham apa yang Emir cakap, just dia tak boleh nak jawab balik sebab dia still have a vocab limit. She's just only setahun sembilan bulan Emir."

"Oh, okay."

Wajah Eshal yang ketawa kecil diusik Tengku Haidar dipaku pandang. Dua hari yang bagaikan terasa hanya dua jam benar-benar membuatkan hatinya berat untuk pulang ke Kuala Lumpur. 'I'm gonna miss you sayang...' Ubun kepala Eshal dicium lama.




Hampir dua puluh minit dijalan, anak mata dilurus ke depan memandang ke arah Pak Mail yang fokus memandu sebelum kembali dikalih memandang Emir yang hanya membuang pandang ke luar tingkap kereta. "Are you okay, Emir?"

"Emir okay. Thanks mummy..."

"Your welcome, sayang."

"Can I see her again, next week?"

"I should ask El first."

Angguk.

"...but mummy and daddy can't join you. We're flying to London next week."

"It's okay, I just need a yes from her."

"I will inform you later."

Kepala diangguk lambat sebelum kelopak mata dipejam rapat. 'Only half an hour passed but I miss you so much Eshal!'

Hening RinduWhere stories live. Discover now