2. Aku yang Jatuh Cinta

32 22 0
                                    

Hai, selamat pagi/siang/sore/malem, pada waktu manapun kalian membaca ini, aku ingin mengucapkan terimakasih karena sudah berkenan membaca ceritaku. Dan aku meminta maaf karena karya ini belum sempurna, bahkan belum mendekati sempurna.

Apapun itu, aku berharap kalian akan menyukai ceritaku, semoga hehe.


2. AKU YANG JATUH CINTA

"Apa kau tau apa yang aku rasakan, dan seberapa besar cinta yang ku miliki untuk dirimu?"

.
.
.
.

Malam yang dingin, langit gelap dipenuhi awan yang perlahan menurunkan rintik kecilnya, tidak ada satupun bintang dan bulan yang terlihat pada malam ini. Menyisakan penduduk bumi dengan kegelapannya, dan lampu-lampu jalan yang tak selamanya bisa menggantikan sinaran bintang.

Jalan yang perlahan dipenuhi genangan-genangan kecil, memantulkan cahaya lampu yang tersorot. Banyak orang berlalu lalang dengan bersembunyi dibalik payung teduh. Ah, benar-benar suasana yang nyaman.

Sekumpulan remaja laki-laki, yang menikmati hujan pertama di bulan ini dengan tenang. Berkumpul di satu tempat yang terlihat sudah usang, memang bangunan itu sudah usang, tapi dia tidak pernah berhenti untuk menemani mereka, dalam rasa bahagia, maupun kesedihan.

Bangunan itu penuh dengan coretan asal yang menggambarkan kebahagiaan mereka, suara tawa pun terdengar begitu ramai di sana, menyelimuti mereka dari hawa dingin yang menusuk. Ya, di sanalah tempat anggota Dream bernaung, tempat mereka pulang.

Dream, artinya mimpi. Di sini, berisi banyak orang yang penuh dengan mimpi, memiliki banyak harapan, salah satunya adalah bahagia. Sebenarnya mereka tak pernah membentuk perkumpulan ini untuk mencari musuh atau yang lain. Namun entah mengapa masih ada yang tak suka dengan mereka.

Mereka dibentuk hanya untuk bahagia.

"Besuk jadi tanding basket di SMA sebelah kan?" tanya Saka sambil menghisap sebatang rokok yang kini sudah menjadi bagian hidupnya.

Bintara mengangguk pelan sambil memakan kue kering yang di bawa oleh Rafi. "Jadilah, kata Elga mereka udah persiapan buat ngelawan kita." jawabnya.

"Gila! kita harus menang, nggak mau tau gue." ujar Derio yang terlihat ambisi ingin mengalahkan pemain basket SMA Antariksa.

Rafi tertawa kecil mendengarnya, sepertinya Derio masih dendam atas kekalahannya beberapa bulan lalu. "Masih dendam sama siapa lo?" tanyanya.

Derio mengunyah kuenya dengan cepat, lalu menelannya. "Lambang, gue dendam banget sama dia!" gerutu Derio kesal.

Sedangkan sahabat-sahabatnya hanya tertawa mendengar Derio yang menggebu-gebu seperti itu. Bukan dendam dalam arti yang sebenarnya, hanya main-main, karena Derio sebenarnya tidak suka kekalahan, ya hanya dendam dalam permainan, tidak lebih.

"Kalah menang urusan nanti yang penting udah berusaha, perkara hasil serahkan sama yang diatas." ucap Bintara.

"Tumben bener lo bos." Ucap Rafi sambil bertepuk tangan kecil.

"Anjay, bisa bener juga gue." ujar Bintara dengan tersenyum lebar, dan menepuk dadanya bangga.

Gavi yang tengah mengambil air hanya menggeleng heran melihatnya. "Gila."

"Bentar deh, gue tiba-tiba kepikiran satu hal." ujar Bintara dengan serius.

"Kenapa? Lo ada masalah?" tanya Gavi yang duduk disamping Bintara, sambil membawa air putih yang sengaja ia ambil untuk meredakan pedas setelah memakan gorengan dengan beberapa cabai.

Rain with Sunshine Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang