Haii kembali bersama aku disini mengg.
Jangan lupa tinggalkan vote, dan komen duluu yaww.
Selamat membaca dan semoga suka lovee💋
7. BISIK RINTIK
"Dunia ini indah, setelah bertemu denganmu."
.
.
.
.
.Pagi itu, langit di atas sekolah Embun diselimuti awan kelabu, meneteskan gerimis lembut yang seakan menari-nari di atas genteng. Suara gemericik air hujan terdengar merdu, menenangkan suasana yang biasanya ramai oleh langkah kaki para siswa. Jalan-jalan setapak yang membelah taman sekolah terlihat basah, berkilauan memantulkan cahaya samar dari langit yang muram. Aroma tanah basah merasuk ke udara, memberi kesan syahdu yang membuat suasana sekolah seolah tenggelam dalam ketenangan yang dalam.
Di dalam kelas, Embun dan Mentari duduk berdampingan di bangku paling belakang, wajah mereka berseri-seri memandang layar ponsel yang dipegang oleh Embun. Pagi ini, para guru sedang mengadakan rapat sehingga kelas-kelas dibiarkan tanpa pengawasan. Para siswa menikmati waktu luang ini dengan beragam kegiatan santai; beberapa ada yang bercanda, yang lain membaca, tetapi Embun dan Mentari dua sahabat sejati ini memilih menonton drama Korea favorit mereka.
Adegan di layar menampilkan sang tokoh utama lelaki yang tengah menatap penuh cinta pada tokoh perempuan, membuat Mentari spontan memekik kecil dan menepuk lengan Embun.
"Ya ampun, Embun! Liat dong tatapan matanya! Aduh, kok bisa ya, cowok se-tampan ini ada di dunia?" Mentari mengeluh dengan nada mendesah, matanya berbinar-binar.
Embun hanya tersenyum tipis, menahan tawa melihat reaksi berlebihan sahabatnya. "Sabar, Mentari, nanti kalau kamu teriak-teriak mereka bakal tau kalau kita lagi nonton Drakor," ucapnya pelan.
Mentari tertawa pelan, menundukkan kepala sejenak untuk menutupi wajahnya yang memerah. "Ya ampun, iya-iya. Tapi gimana, sih? Gue nggak kuat liat ekspresi dia. Romantis banget!"
Embun menggeleng sambil tersenyum. "Kamu tuh, baru episode dua, masa udah teriak-teriak."
Mentari memasang wajah cemberut. "Justru itu, Mbun! Episode dua tapi udah romantis kayak gini, gimana episode-episode selanjutnya?" Matanya berbinar-binar lagi, seperti seorang anak kecil yang melihat kembang gula. "Bayangin, ya. Nanti pas mereka akhirnya jadian..."
Embun menahan tawa sambil menempelkan jari telunjuknya di bibir, memberi isyarat agar Mentari menurunkan suaranya. "Nanti kalau kita ketahuan, bisa-bisa kita disuruh ke ruang guru buat jelasin kenapa kita nonton drama pas jam pelajaran."
Mentari melirik sekeliling, memastikan bahwa teman-teman di sekitar mereka sibuk dengan urusan masing-masing, lalu kembali mendekatkan wajahnya ke layar ponsel. "Iya, deh. Tapi... aduh, coba deh lo bayangin kalau di dunia nyata kita punya pacar kayak dia."
Embun tertawa pelan, lalu menutup mulutnya dengan tangan agar tidak terdengar. "Mentari, udah ah... mendingan kamu nonton dan nikmatin aja dramanya, jangan kebanyakan halu."
Mentari menyenggol Embun dengan sikutnya sambil terkekeh. "Halu kan gratis, Embun. Lagian, lo nggak pengen apa ketemu cowok yang tatapannya kayak di drama ini?"
Embun tersenyum sambil menatap layar, sejenak membayangkan betapa indahnya jika hal itu benar-benar terjadi. Namun, ia hanya menjawab singkat, "Kalau ada, sih... syukur. Tapi kalau nggak ada, ya, aku masih punya kamu, sahabat haluku," ujarnya bercanda.
Mentari tertawa lepas, membuat Embun ikut tertawa juga. Tawa mereka sejenak membungkam suara hujan yang menderas di luar. Embun kembali memandang layar, menikmati setiap adegan dalam drama itu, sementara hujan semakin deras di luar kelas, menambah keindahan suasana yang begitu damai.

KAMU SEDANG MEMBACA
Rain with Sunshine
Teen FictionKisah kita telah usang, semoga tetap terkenang. <3