5. Sebait Rasa

23 16 0
                                    

Haii, aku kembali.

Semoga kalian tidak bosan dengan ceritaku yang sederhana. Vote dulu yaa cinta.

Selamat membaca, dan semoga suka💗.



5. SEBAIT RASA.


"Ada sebait rasa yang sulit terucap, namun rasa itu terpendam memenuhi sebagian jiwa."
.
.
.
.

Pagi hari yang sedikit redup seringkali memberikan suasana tenang dan damai. Kabut atau awan tipis yang menutupi matahari menciptakan pencahayaan lembut, memberikan kesan misterius dan menenangkan. Ini adalah waktu yang tepat untuk refleksi atau sekadar menikmati ketenangan sebelum hari mulai sibuk. Suasana seperti ini juga sering memunculkan perasaan melankolis, memberi kesempatan untuk mengingat kembali momen-momen penting atau merencanakan hari dengan penuh perhatian.

Seperti yang Embun lakukan pagi ini, menikmati secangkir teh hangat sebelum melakukan aktivitasnya kembali pagi ini.

Melamun. Dalam keheningan ini, pikiran berkelana ke negeri-negeri fantasi, mengejar mimpi yang tak terucapkan. Setiap momen melamun adalah perjalanan ke dalam kedalaman diri, di mana fantasi dan kenyataan berbaur, dan kreativitas menyentuh langit tanpa batas. Ini adalah ruang di mana imajinasi bebas berkeliaran, dan setiap khayalan menjadi jendela menuju kemungkinan tak terhingga.

Entah apa yang tengah Embun pikirkan saat ini, sepertinya keheningan dan lamunan itu menjadi menyenangkan bagi Embun.

"Embun, sarapan dulu ya, habis itu tolong ke sekolah Leyva ya, Bunda nggak bisa datang," ujar Anin dari dalam rumah.

Embun menoleh sebentar, Embun tersenyum tipis dan menyahut, "Iya, Bunda. Sebentar lagi."

Ia menyesap teh hangatnya sekali lagi, menikmati kehangatan yang meresap hingga ke dalam hati. Pagi yang redup dan tenang ini memberinya kesempatan untuk meresapi hal-hal kecil, seperti aroma teh yang menenangkan dan keheningan yang merambat masuk hingga ke sudut pikirannya. Setelah meneguk sisa teh di cangkirnya, Embun bangkit dari tempat duduk, menatap sejenak ke luar jendela di mana langit tampak berwarna abu-abu muda, menggantungkan selimut tipisnya di atas kota yang mulai berdenyut.

Ia berjalan menuju dapur, di mana Bunda sedang menyiapkan sarapan sederhana. Bunda menyambutnya dengan senyum hangat, wajahnya penuh kelembutan yang selalu membuat hati Embun merasa nyaman.

"Ini, makan dulu. Biar nanti punya energi buat nyemangati Leyva." Anin menyodorkan sepiring nasi dan telur yang hangat.

Embun mengambilnya, lalu duduk di meja makan. Dalam keheningan itu, ada rasa hangat yang menyelusup di hati, campuran dari kehadiran sang bunda dan harapan-harapan kecil untuk hari ini. Leyva adalah alasan mengapa setiap langkah yang Embun ambil selalu terasa berarti; adik kecilnya itu selalu memberikan semangat yang unik dan mendalam.

Ketika sarapannya selesai, Embun membantu Anin membersihkan meja, mencuci piring, lalu bersiap untuk berangkat. Ia menata tas kecilnya, memastikan membawa buku catatan dan kamera kesayangan, barang-barang yang mungkin akan digunakannya untuk mengabadikan momen berharga bersama Leyva.

Setelah berpamitan, Embun melangkah keluar rumah, menghirup udara pagi yang masih segar meskipun sedikit dingin. Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan aroma dedaunan basah yang samar-samar bercampur dengan angin lembut. Pagi ini, perasaannya tenang, seolah alam mengalirkan energi yang membuatnya siap menghadapi apapun yang akan terjadi di depan.

Langkah Embun menyusuri jalan setapak menuju halte bus terdekat, menikmati setiap detik keheningan yang ditemani gemerisik daun yang bergoyang di atas kepalanya. Beberapa tetes embun masih menempel di rerumputan di tepi jalan, memberikan kilauan halus yang menambah keindahan pagi itu. Embun tersenyum sendiri, seakan pagi ini penuh dengan keajaiban kecil yang hanya bisa dilihat oleh mereka yang memperhatikannya dengan hati.

Rain with Sunshine Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang