Haii, berjumpa lagi dengan akuu.
Sebelum baca mohon pencet tombol vote nya yaa, biar sama sama enak^^.
Selamat membaca, dan semoga suka💗.
3. RASA TANPA ASA.
"Bagaimana aku harus menghadapi rasa yang terus menumbuhkan tunas baru setiap harinya?"
.
.
.
.Pulang membawa kemenangan, adalah hal yang diinginkan oleh banyak sekali orang. Rasa bahagia, yang terkadang bisa membuat orang besar kepala, padahal mereka tau, kemenangan tidak selamanya berada di sekitar mereka, dibalik kemenangan pasti ada kegagalan yang selalu mengintai.
"Selamat bro." ucap Elgatra dengan seulas senyum, menyalami Bintara, dan sahabatnya sebagai tanda damai.
Pertandingan telah usai, tapi mereka berharap persahabatan ini tidak pernah usai. Pertandingan telah usai, mereka harap dendam Derio sudah terbayar dengan sebuah kemenangan, tanpa harus diikuti dendam yang lain.
"Thanks bro!" ucap Bintara lagi.
"Gue seneng akhirnya bisa ngalahin lo Bambang!" pekik keras Derio sambil merangkul bahu Lambang yang terlihat tidak minat.
Hal itu mengundang tawa dari mereka semua, melihat ekspresi Lambang yang sepertinya sangat tertekan.
Tangan Saka menepuk bahu Brili dengan pelan "Senang bisa adu skill sama lo lagi Bril, semoga kedepannya kita bisa tanding lagi." ucapnya.
Brili mengangguk dan tersenyum tipis. "Pasti." jawabnya.
Dibawa mentari yang mulai turun dari posisi tertingginya, mereka para sahabat yang kembali bertemu setelah beberapa bulan berlalu, meluangkan sebagian kecil dari waktu mereka untuk saling menegur sapa, dan membagi cerita dari mulut ke mulut. Ya, walaupun di sana ada Embun yang tengah menunggu Bintara dengan sabar bersama Gita.
"Senang bisa kenal sama lo, Embun. Jangan lupain gue ya!" ucap Gita dengan riang sambil memeluk tubuh Embun dengan erat.
Tawa kecil yang mengudara, bersamaan dengan tangan Embun yang membalas pelukan hangat Gita. "Iya, pasti aku nggak akan lupa, soalnya kamu baik." jawabnya.
"Hehe, yaudah kalau gitu gue pulang dulu ya, hati-hati nanti pulangnya Embun, semoga tetap bahagia." sambil berlari kecil dan melambaikan tangannya, Gita tersenyum tulus pada Embun, mulai menjauh dari sana.
Embun membalas dengan senyum kecil, dan sebuah lambaian tangan, dengan harapan dia bisa bertemu lagi dengan Anggita.
"Maaf, nunggu lama ya?"
Kepala Embun menoleh, netranya menangkap wajah Bintara yang selalu tersenyum menatapnya.
Dengan gelengan kepala Embun menjawab. "Tidak apa-apa, Bintara." jawabnya.
Bintara menganggukkan kepalanya, mengambil motornya, dan membawakan sebuah helm untuk Embun. Sedangkan Embun, ia kembali memakai earphone miliknya, dan memutar sebuah lagu.
"Embun, boleh gue ngajak lo jalan-jalan sebentar?" tanya Bintara.
Embun diam, untuk berpikir sebentar, rasanya juga tidak masalah untuk berjalan-jalan sebentar saja.
"Boleh Bintara, mau kemana?" tanya Embun sambil berjalan mendekat kearah Bintara.
Senyum tipis Bintara, dan tatapan tulusnya terus membuat Embun jatuh dan jatuh, padahal dia sudah membentengi dirinya, tapi benteng yang dia bangun dengan begitu kokohnya, akhirnya terkikis hanya dengan sebuah senyuman.
"Menikmati hari yang bahagia, dimanapun yang penting sama lo" jawab Bintara pelan.
Embun terkekeh mendengarnya, lalu mengangguk merespon jawaban Bintara.

KAMU SEDANG MEMBACA
Rain with Sunshine
Teen FictionKisah kita telah usang, semoga tetap terkenang. <3