8. Sembilu Sunyi

7 5 0
                                    

Hai, bagaimana kabar kalian? Di sini Bintara hadir siap menjadi obat untuk kalian semua.

Jangan lupa vote duluu yaww sengg.

Selamat membaca dan semoga suka cintaa💗.


8. SEMBILU SUNYI.

"Kemana mau pulang, jika 'rumah' pun tak pernah tercipta untukku?"
.
.
.
.

Malam di Jogja terasa syahdu. Langit sedikit mendung, memberi warna kelabu di angkasa yang dipecah oleh sinar-sinar lampu jalan yang temaram. Angin sepoi berembus, membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang tertimpa hujan siang tadi. Bintara melangkah menyusuri gang kecil yang berujung pada sebuah bangunan sederhana yang sudah biasa mereka sebut sebagai markas. Tempat itu favorit Bintara dan sahabat-sahabatnya untuk berkumpul.

Ketika Bintara membuka pintu, suara tawa pecah dari dalam. Di sana, sudah ada Derio, Saka, Gavi, dan Rafi yang tengah duduk melingkar di ruang utama. Dinding kusam yang ditemani beberapa coretan cat, lantai dingin tanpa alas, dan aroma kopi dari cangkir-cangkir mereka adalah suasana yang sudah menjadi kebiasaan bagi mereka.

"Yoo, anak baru datang!" teriak Rafi sambil melemparkan rokok ke arah Bintara, bercanda seperti biasa.

Bintara tertawa kecil dan mengambil rokok itu, meskipun ia tahu Rafi hanya bercanda.

"Biarin gue aja yang sering telat, kalau kalian nggak boleh," sahut Bintara bercanda sedikit, sambil duduk di antara mereka.

Gavi menyeruput kopi hitamnya, menatap Bintara dengan senyum kecil yang selalu tenang. "Gimana tadi ketemu si Embun sama Bunda? Lancar?"

Bintara menghela napas panjang sambil menyandarkan punggungnya ke dinding. "Lancar, lancar… Tapi ya gitu, bunda gue emang ngertiin banget, tapi ya, tetap aja kita harus banyak mikir soal masa depan," jawabnya, matanya menerawang.

Derio menepuk pundak Bintara, ekspresinya sedikit serius. "Lo emang beruntung punya Bunda yang kayak gitu, Bin. Tapi, lo juga tahu kan, hubungan beda agama itu jalannya nggak gampang."

Bintara mengangguk pelan. Dalam heningnya, ia merasakan beratnya jalan yang harus ia dan Embun tempuh. Pertemuan dengan bundanya tadi memang memberinya kelegaan, tapi juga menyadarkan betapa banyak tantangan yang harus mereka hadapi. Ia menatap satu per satu sahabatnya, mencoba mencari kekuatan di balik tawa dan canda mereka yang sudah seperti saudara sendiri.

"Gue tau ini nggak gampang. Kadang gue juga mikir gimana kalau kita nggak berhasil? Embun tuh anak yang baik, gue takut kalau gue nggak bisa ngasih masa depan yang bahagia buat dia." Suara Bintara terdengar sedikit parau, entah karena kepulan asap rokok atau perasaannya yang makin berat malam itu.

Rafi menatapnya dengan pandangan tajam. "Woi bro. Siapa sih yang nggak pernah ngerasa ragu? Tapi kalau lo nggak berani coba, lo nggak akan tahu sampai mana kekuatan cinta lo itu bisa ngelewatin rintangan. Si Embun juga pasti tahu risikonya, kan? Dan dia masih mau berharap."

Gavi mengangguk, ikut menambahkan, "Yang penting lo sama Embun saling terbuka, Bin. Setiap perasaan emang ada resikonya, apalagi yang kayak kalian. Tapi selagi kalian jujur satu sama lain dan nggak pernah nyerah, itu udah bukti kalau kalian layak buat bareng-bareng."

"Kalau emang lo serius, berjuang yang lebih Bin, cewek nggak bakal luluh kalau cuma modal kata."

Saka yang dari tadi diam ikut menyahut dengan senyum khasnya. "Lagipula, lo punya kita, bro. Apa pun yang lo butuh, kita pasti bantu. Markas Negro ini nggak cuma buat ngopi-ngopi doang. Ini markas untuk segala keputusan besar, kan?" ujarnya, mengedipkan mata sambil menyenggol bahu Bintara.

Rain with Sunshine Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang