Hai, bagaimana kabar kalian? Di sini Bintara hadir siap menjadi obat untuk kalian semua.
Jangan lupa vote duluu yaww sengg.
Selamat membaca dan semoga suka cintaa💗.
9. HUJAN UNTUK HATI.
"Hidup indah sesederhana adanya kamu, hujan, dan Jogja."
.
.
.
.Pagi itu, awan-awan kelabu menggantung di langit Jogja, menutup rapat sinar mentari yang biasanya menyelinap hangat di sela-sela dedaunan. Embun duduk sendiri di bangku kayu taman sekolah, dikelilingi aroma basah tanah yang khas setelah gerimis semalam. Jaket rajut biru langit yang dikenakannya sedikit tertarik saat ia merapatkan tangan ke dada, mencoba menghalau dingin yang menusuk perlahan.
Hari ini, tak ada suara ceria Mentari yang biasanya mengisi pagi-paginya dengan gurauan atau keluhan kecil soal tugas-tugas sekolah. Embun hanya ditemani sepi dan ritme langkah para siswa yang berlalu-lalang di depannya. Sepasang mata cokelatnya menelusuri setiap wajah yang lewat beberapa bergegas menuju kelas, beberapa bercanda riang sambil membawa secangkir cokelat panas dari kantin.
Ia menarik napas panjang, membiarkan udara dingin masuk memenuhi dadanya. Ada ketenangan yang sulit ia jelaskan setiap kali berada di taman ini, terutama saat cuaca mendung seperti sekarang. Udara yang dingin justru terasa seperti selimut hangat bagi jiwanya yang mudah merasa gundah.
Embun memperhatikan dedaunan yang berguguran, jatuh perlahan di atas rerumputan basah. Tetes embun masih melekat di ujung-ujungnya, berkilauan samar seperti butiran kristal kecil. Ia tersenyum tipis, lalu membuka buku catatan kecil yang selalu dibawanya. Dengan jemari yang sedikit menggigil, ia mulai menulis:
"Jogja pagi ini seperti pelukan yang selalu kurindukan dingin, namun memberi kehangatan yang tak bisa dijelaskan. Mungkin karena sepi ini terlalu akrab bagiku. Mentari tidak masuk hari ini, dan aku sedikit kehilangan suara bisingnya yang selalu membuatku kesal sekaligus merasa hidup. Tapi taman ini, dengan segala diamnya, selalu punya cara untuk menenangkan hati."
Ia berhenti sejenak, memandangi tulisan itu. Kemudian, terdengar suara langkah mendekat. Embun menoleh, berharap mungkin seseorang yang ia kenal. Tapi itu hanya seorang siswa dari kelas lain, membawa buku-buku tebal di tangannya. Dia berlalu begitu saja, tanpa menyadari keberadaan Embun.
“Hari ini sepertinya bukan hariku untuk bicara dengan siapa pun,” gumam Embun pelan, lebih kepada dirinya sendiri.
Namun, ia tidak merasa kesepian. Taman ini, dinginnya pagi, dan awan yang menggantung seolah menjadi teman-teman setianya. Embun melipat catatan kecilnya dan meletakkannya di tas. Ia memutuskan untuk menikmati pagi ini tanpa gangguan. Duduk di sini, meresapi setiap momen kecil yang sering terlewatkan oleh orang-orang yang terburu-buru.
Kadang, Embun berpikir, mungkin hidup hanya perlu sesederhana ini. Menghargai setiap tarikan napas dan keindahan yang hadir tanpa diminta.
"Kenapa di sini sendiri Mbun?" Tanya Bintara sambil duduk di samping Embun yang terlihat tengah memikirkan sesuatu.
Embun sedikit terkejut dengan kehadiran Bintara yang tiba-tiba, Ia menoleh menatap Bintara yang tersenyum menatapnya. "Oh, nggak papa kok Bin, enak aja kalau sendiri." Jawabnya.
Bintara mengangguk paham, ia kemudian merogoh saku jaketnya, mengeluarkan satu batang coklat, dan itu favorit Embun.
"Nih, buat Embun." Ucapnya, lalu mengulurkan coklat itu kehadapan Embun.
Mata Embun berbinar senang, bagaimana Bintara bisa tau kalau dia suka coklat? "Buat aku?" Tanyanya memastikan.
"Iya dong, mau buat siapa lagi, kan gue cintanya cuma sama Embun." Ujar Bintara sambil tersenyum jahil dan menaikkan kedua alisnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Rain with Sunshine
Teen FictionKisah kita telah usang, semoga tetap terkenang. <3