Dalam kegelapan malam, anak perempuan itu terbangun di tengah kehancuran. Di sekelilingnya, darah dan reruntuhan logam berserakan di jalan. Gaun putih yang dikenakannya, yang seharusnya indah, kini ternoda darah. Boneka beruang putih yang dipegangnya juga basah oleh darah, menjadi satu-satunya benda yang seakan memberinya kenyamanan. Tubuhnya terasa sakit, setiap gerakan begitu menyakitkan.
Dia mengangkat wajahnya, matanya yang penuh kebingungan memandang sekeliling. Semua terasa asing. Langit gelap, sepi, dan hening, hanya dipenuhi oleh suara sirene yang jauh, samar. Ia menggigil, mencoba berdiri, namun tubuhnya tidak mau bekerja. Setiap gerakan terasa berat, tubuhnya terasa kaku.
"Di mana ini?" pikirnya, tapi tak ada jawaban. Matanya yang kecil mencari sesuatu yang familiar, seseorang yang bisa memberi penjelasan. Namun hanya kehancuran yang ia temui, tubuh tak bernyawa yang tergeletak di sekitar.
Setelah beberapa detik yang terasa sangat lama, ia memaksa diri untuk berdiri, meskipun kakinya gemetar. Langkahnya pelan, perlahan menjauh dari reruntuhan. Setiap kali kakinya menyentuh aspal, darahnya menetes, meninggalkan jejak.
Tiba-tiba, suara teriakan dari kerumunan memecah kesunyian, "Hei, ada anak kecil di sana!" Semuanya berbalik ke arahnya. Ia merasa seperti objek yang disorot, mata yang penuh rasa ingin tahu dan kebingungan. Tak ada yang bisa membantunya, hanya tatapan kosong yang mengikutinya.
Saat itu, anak perempuan itu hanya bisa berdiri di tempat, terdiam, membiarkan kebingungannya semakin dalam. Rasanya, waktu berhenti. Ia ingin lari, namun tak tahu ke mana. Tak ada tempat yang aman. Di dalam kekosongan itu, hanya ada satu hal yang tetap-boneka beruang putih yang basah darah itu.
======
Seulha terbangun dari tidurnya dengan tersentak, matanya terbuka lebar. Nafasnya terengah-engah, tubuhnya terasa kaku. Mimpi itu, yang begitu nyata dan mengerikan, masih membekas jelas di pikirannya. Kenangan akan kecelakaan itu, darah, dan kehancuran yang dihadapinya, semuanya terasa begitu nyata. Namun sekarang, ia terbangun dalam keheningan, mencoba mengenyahkan nya apa yang baru saja terjadi, tubuhnya masih gemetar.
Seulha terdiam sejenak, matanya yang terbuka lebar menatap gelapnya ruangan, mencoba mengusir ketegangan yang mencekam di dadanya. Nafasnya terengah-engah, tubuhnya masih terasa berat seolah kebingungan itu menempel erat. Mimpi itu, gambaran tentang kecelakaan mengerikan itu, begitu jelas dan nyata. Namun, ia tahu, itu hanya mimpi. Hanya mimpi yang tak ada artinya.
Dengan keras, Seulha menggigit bibirnya, menenangkan diri. "Tenang seulha, itu cuman mimpi,oke...udah lama pun, semua cuma mimpi. bisiknya pada dirinya sendiri, seakan mencoba meyakinkan dirinya agar tidak terjebak lebih dalam dalam ingatan yang menyakitkan itu.
Ia memejamkan matanya, berusaha mengabaikan rasa takut yang masih merayap. "Mending cari angin saja lah". Turun dari tempat tidur, kasur dalam penginapan nya.
=======
Di bawah remang cahaya malam, Yoon Ji Hoo berdiri sendirian di balkon, ditemani keheningan yang sudah seperti sahabat lamanya. Di tangannya ada sebuah pot kecil berisi bunga putih, hadiah dari gadis kecil penjual bunga di depan toko suvenir yang ia kunjungi bersama teman-temannya tadi.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.