2

344 42 0
                                        

=====

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

=====

   Seul-Ha bersantai di sudut favoritnya, menikmati rasa manis dari cupcake keju sambil menonton tv yg terpasang di dinding dalam toko. Berita tentang dirinya dan Jandi masih ramai dibicarakan di berbagai platform.

Berita dengan tajuk utama seperti "Dua Siswa Biasa yang Berani", "Pembunuhan SMA Shinhwa di Sekolah Elit Aristokrat?", dan favoritnya, "Kejenakaan Intimidasi SMA Shinhwa, Penyelamatnya adalah Wonder Woman dan Gadis Sherlock Holmes". Semua orang bertanya-tanya siapa yang menyelamatkan siswa yang ditindas di sekolah itu. Ternyata, mereka berdua—dua gadis biasa, bukan dari keluarga kaya atau bergelar. Mereka hanya dua siswi SMA yang kebetulan mengantar pakaian yang sudah dilaundry.

Berita tentang mereka segera menghebohkan seluruh Korea. Bahkan perusahaan besar seperti Grup Shinhwa yang selama ini dipuja, kini menjadi bahan pembicaraan buruk. Banyak yang mengecam tindakan kekerasan yang terjadi di sekolah elit tersebut, bahkan beberapa orang mulai memboikot bisnis mereka. Orang-orang banyak berkomentar dan menulis blog mereka perihal tersebut, serta memposting keprihatinan mereka, seperti ;
"Hanya ada hak istimewa yang bisa dicapai sejauh ini, Grup Shinhwa mengaku!"
atau "Sebagai seorang ibu dengan seorang remaja, ini adalah sesuatu yang tak termaafkan," dan beberapa bahkan memboikot bisnis mereka dengan mengatakan,
"Mulai besok, jangan pergi ke Shinhwa Mart."
Sudah seperti ini selama seminggu, sejak Seul Ha dan Jandi menyelamatkan anak laki-laki itu dari bunuh diri, dan sejak itu, selama seminggu perusahaan terbesar di Korea, grup Shinhwa terus menjadi sorotan di TV atau pun radio, sayang nya kali ini hal buruk yg di beritakan, bukan halal baik dan hebat seperti yg sudah sejak lama di beritakan dan disiarkan.

Dan sejak itu pula, seketika Seul Ha dan Jandi menjadi pusat perhatian media, meski Jandi cemas menghindari wartawan, Seul Ha justru bersikap santai dan tidak peduli dengan segala perhatian tersebut, dan selalu berhasil lolos dari para wartawan.

Setelah kejadian itu, Seul Ha mulai berteman dengan Lee Minha, gadis yang mereka selamatkan, dan sering mengunjungi rumah sakit jiwa tempat Lee Minha dirawat, membawa makanan dan mainan, serta berbincang-bincang ringan untuk menghiburnya. Namun, persahabatan mereka tidak bertahan lama karena Lee Minha dipindahkan ke rumah sakit lain oleh keluarganya ke luar negeri.

Seul-Ha duduk dengan santainya di kursinya, menonton berita dengan ekspresi malas, seolah dunia di sekitarnya tidak lebih dari latar belakang drama yang sedang dimainkan. Di depannya, kue keju yang baru saja ia habiskan masih meninggalkan sedikit rasa manis di mulutnya. Saat ini, ia berada di Hye-Cake, toko kue sekaligus restoran milik Hye-Jin, seorang ibu muda berusia 24 tahun yang cantik dan baik hati. Mereka tinggal bersama di rumah susun, dan Hye-Jin sudah seperti kakak bagi Seul-Ha.

'Hahaha..... Sama seperti di dramanya. Cuma kali ini ada figuran Antah-brantah yg numpang'.  Monolog nya tertawa dalam hati, tersenyum sendiri sambil menatap layar TV.

Hye-Jin muncul dari dapur, membawa sepiring cupcake—dua cupcake, satu rasa keju dan satu lagi rasa rumput laut—dan menaruhnya di meja depan Seul-Ha. "Wah, kau sungguh luar biasa sekali, gadis Sherlock Holmes," goda Hye-Jin, setengah bercanda.

Seul-Ha langsung menatap cupcake itu dengan mata berbinar-binar. Ia tahu bahwa cupcake ini adalah godaan tak tertahankan. "Hahaha... Biasa saja, wahai bondaku yang mempesona. Kau tahu, kan, seberapa hebat dan cerdasnya diriku ini. Terima kasih~" jawabnya dengan nada yang konyol, mengangkat kedua tangan ke bahu seolah merendah, padahal jelas-jelas dia sedang menyombongkan diri. Senyuman lebar di wajahnya membuat suasana menjadi penuh kejenakaan.

Hye-Jin hanya menggelengkan kepala dengan senyum tipis, sudah sangat terbiasa dengan tingkah laku Seul-Ha yang tidak bisa diam. "Cih," gumamnya sambil melemparkan serbet ke wajah Seul-Ha, namun Seul-Ha dengan mudah menangkapnya, seolah itu adalah bagian dari rutinitas.

"Habiskan saja kue itu, kau kan masih punya banyak pekerjaan," kata Hye-Jin sambil tersenyum sabar.

"Hahaha, yes, my lady!" jawab Seul-Ha sambil mengedipkan mata kanannya, penuh humor dan kebebasan. Hye-Jin hanya tertawa pelan, menggelengkan kepala,

Tiba-tiba, suara kecil terdengar dari meja sebelah. Anak perempuan berusia 8 tahun, Anh Jin-Ae, yang sedang duduk sambil memakan cookie stroberi, bertanya dengan rasa ingin tahu, "Kak Seul-Ha, menurutmu apa yang akan terjadi setelah ini?"

"Hmm... Apa ya~? Tentu sesuatu yang menarik dan... mengasyikkan yang akan terjadi," jawab Seul-Ha dengan senyum lebar, mengedipkan mata kanannya pada Jin-Ae, seolah ia sedang menyembunyikan rahasia besar.

Jin-Ae tertawa kecil, menikmati candaan Seul-Ha, sementara suasana di restoran kecil itu terasa hangat dan akrab.

Namun, tiba-tiba suara yang lebih serius terdengar dari arah samping. Ahn Tae-jun, anak yang baru menginjak usia 13 tahun, tapi sudah menunjukkan sikap yang lebih tenang dan dewasa dari kebanyakan anak seusianya, bertanya dengan nada serius, "Apa kamu tidak tertarik untuk kembali bersekolah, Seo Ha?"

Seul-Ha sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu, matanya sejenak melirik Tae-jun yang sedang duduk dengan sikap tenang dan penuh perhatian. Dia memang tidak bisa mengelak, anak ini selalu punya cara untuk membuatnya berpikir lebih dalam, meskipun kadang-kadang sifat usilnya muncul.

Seul-Ha menyandarkan punggungnya ke kursi, berpura-pura berpikir dalam-dalam, meski senyum nakalnya tidak bisa disembunyikan. "Kembali bersekolah, ya? Hmm... itu terdengar seperti tantangan yang menarik," jawabnya, dengan gaya yang lebih serius, namun masih ada nada konyol di balik kata-katanya. "Tapi, bersekolah juga bisa sangat... membosankan, terutama jika harus menghadapinya dengan cara yang sama seperti dulu."

Tae-jun menatap Seulha dengan tatapan tajam, seolah menyadari bahwa jawaban gadis itu tidak benar-benar menjawab pertanyaannya. Setelah semua insiden yang terjadi, Seulha—dulu dikenal sebagai bintang sekolah, seorang jenius muda multitalenta dengan masa depan yang cerah—memutuskan untuk berhenti sekolah. Kini, dia menjalani kehidupan sebagai remaja dengan pekerjaan serabutan.

Namun, meskipun Seulha meninggalkan bangku sekolah, dia tidak pernah berhenti belajar. Dengan caranya sendiri, dia menguasai banyak hal secara otodidak. Pengetahuan dan kecerdasannya bahkan melampaui banyak ilmuwan. Dia adalah seorang multitalenta yang mahir di berbagai bidang. Dalam pikirannya, untuk apa sekolah jika dia sudah memiliki semua yang dia butuhkan?

“Hmmm… kurasa… mungkin akan,” jawab Seulha enteng, sebelum kembali menikmati kue gratis di toko kue tempat dia bekerja paruh waktu.

Di dalam hatinya, Seulha tertawa kecil. Lagi pula, aku sudah terlanjur melakukan aksi heroik itu. Masa iya aku melewatkan kesempatan untuk menyaksikan langsung drama ‘Boys Before Flowers’ versi dunia nyata ini? Ditambah, bisa sedikit bermain di dalamnya juga, kenapa tidak? pikirnya, sambil menyeringai kecil, seperti rubah licik yang baru saja menemukan mainan baru.

Seringaian itu tak luput dari perhatian Ahn Tae-jun dan Hye-jin yang duduk bersamanya. Keduanya saling bertukar pandang, seolah berbagi kekhawatiran yang sama.

'Apa lagi kegilaan yang akan dia lakukan?' pikir Tae-jun sambil dengan tenang melanjutkan makan sandwich di hadapannya.

Hye-jin, di sisi lain, hanya bisa menghela napas panjang dan menggeleng pelan, mencoba menerima kenyataan bahwa Seulha selalu penuh kejutan yang tak terduga.

======

Seul Ha_ [Slow Up]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang