Saat berjalan dalam sekeliling toko yg tak hanya dream catcher, Suasana di dalam toko itu terasa tenang dan hangat, dihiasi aroma kayu yang samar. Seulha memperhatikan sekeliling, matanya melompat dari satu benda ke benda lainnya—snow globe yang berkilauan dengan serpihan salju tiruan, kotak musik yang memainkan melodi lembut, hingga gelang-gelang sederhana seperti yang sering dipakai Ji Hoo. Namun perhatiannya terhenti pada sebuah kalung yang tergantung di rak kaca.
Liontinnya berbentuk daun semanggi berdaun empat, desainnya sederhana tetapi mencolok karena kilau hijau lembutnya. 'Kenapa bisa ada di sini kalung ini?' batinnya, terkejut sekaligus bingung. Kalung itu tampak sangat mirip dengan yang ia ingat dari drama Queen of Tears di kehidupan sebelumnya. Drama yang ia gemari bukan hanya karena jalan ceritanya, tetapi juga karena female lead-nya, seorang ibu yang penuh kasih dan kekuatan.
‘Tapi ini bukan di Jerman,’ pikirnya lagi. Namun, meskipun ia tidak percaya pada mitos atau filosofi benda-benda seperti ini, rasa nostalgia menguasai pikirannya. “Aku beli saja lah,” gumamnya dalam hati, mengingat betapa ia mengagumi karakter sang tokoh utama dalam drama tersebut.
---
Seulha mengambil kalung itu dan sebuah dream catcher kecil berhias bunga matahari, lalu berjalan ke arah kasir. Wanita tua di balik meja kasir menyambutnya dengan senyum ramah, tetapi terlihat sedikit terkejut ketika Seulha menyerahkan kalung tersebut.
“Oh, kalung ini,” katanya sambil mengamati liontin semanggi itu. “Sudah lama sekali tidak ada yang membelinya. Bahkan ketika pertama kali datang, hanya ada beberapa saja, kurang dari lima. Sepertinya, kalung ini memang ditakdirkan untukmu.”
“Ditakdirkan?” gumam Seulha skeptis, meskipun tetap penasaran.
Wanita itu melanjutkan, “Daun semanggi berdaun empat memiliki filosofi mendalam tentang keberuntungan, terutama dalam budaya Jerman. Mereka percaya bahwa seseorang yang menemukannya akan mendapatkan keberuntungan dalam hidup—dalam keuangan, kesehatan, dan hubungan.”
Wanita itu kemudian mengangkat liontin kalung itu, menunjukkan sesuatu yang membuat Seulha mengernyit heran. “Dan yang lebih istimewa, liontin ini bisa dipisahkan. Lihat, ini sebenarnya sepasang.”
“Berpasangan?” Seulha menatap liontin itu lebih dekat ketika wanita menggerakkan tangan nya, memisahkan liontin, seperti memisahkan kedua sisi pinang yg terbelah dua. Di tangkainya, daun semanggi itu terbelah menjadi dua bagian yang sempurna, masing-masing dengan dua daun. 'Aku yakin di Queen of Tears, kalung ini tidak punya fitur seperti ini,” pikir Seulha, kebingungan tetapi juga semakin tertarik.
Wanita itu tersenyum, menambahkan penjelasan, “Dua daun melambangkan harapan. Dengan berbagi liontin ini, seseorang bisa membagikan harapan dan keberuntungan kepada orang lain.”
Seulha terdiam, mencerna kata-kata itu. Ada sesuatu yang membuat kalung ini terasa lebih bermakna, meskipun ia masih ragu dengan filosofi yang dijelaskan. Dream catcher dan kalung itu kini terasa seperti pembelian yang tak biasa—benda yang mungkin membawa lebih dari sekadar estetika.
Seulha mengedarkan pandangannya ke sekeliling toko sambil berpikir, sampai matanya tanpa sengaja tertumbuk pada sebuah majalah di meja kasir. Di samping kalung liontin daun semanggi yang baru saja dibelinya, majalah itu menampilkan gambar seseorang yang sangat familiar—Min Seo-hyun. Ia sedang berdampingan dengan seorang pria tampan berjas elegan, dengan latar suasana mewah khas Paris.
Hati Seulha langsung tergerak. Ia mengambil majalah itu dan membaca judul artikelnya: “Min Seo-hyun dan Kandidat Perdana Menteri: Pasangan Baru di Dunia Politik?”
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.